KEDIRI, JP Radar Kediri- Kasus campak yang meningkat di beberapa wilayah membuat Kediri ikutan cemas. Terlebih saat momentum libur panjang Hari Raya Idul Fitri ini. Saat itu mobilitas masyarakat meningkat pesat. Padahal penyakit ini mudah menular.
Data yang diperoleh Jawa Pos Radar Kediri, hingga awal Maret Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri sudah mendeteksi adanya suspek campak.
Jumlahnya mencapai 22 orang. Sampelnya juga sudah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya.
“Di luar itu (mengirimkan sampel, Red), tindakan di lapangan juga langsung dilakukan. Dari puskesmas maupun dinas kesehatan ke lokasi melakukan penyelidikan epidemologi. Yang sakit dikarantina dan harus pakai masker,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri Hendik Suprianto.
Tahun lalu, terdapat 35 suspek campak rubella di Kota Kediri. Setelah sampel diperiksa di laboratorium, hasilnya adalah dua orang positif dan satu samar (equivocal).
Selain itu juga ada satu kasus terkonfirmasi positif rubella dan satu kasus equivocal rubella.
Menurut Hendik, infeksi saluran pernapasan akibat virus Morbillivirus yang sangat menular itu kasusnya mengalami peningkatan di beberapa wilayah Indonesia. Karena itulah, selain menunggu hasil laboratorium dinkes langsung mengantisipasi terjadinya penularan.
Penularan penyakit yang banyak menyerang anak-anak ini sangat terkait dengan mobilitas. Selama musim mudik Lebaran, masyarakat pun diimbau meningkatkan kewaspadaan.
Apalagi, ada beberapa daerah di Jawa Timur yang kasusnya mengalami kenaikan.
“Di beberapa daerah di Jawa Timur juga sudah ada yang dinyatakan KLB (kejadian luar biasa, Red),” katanya.
Menyikapi itu, seluruh daerah di Jawa Timur—termasuk Kota Kediri—akan segera melaksanakan penyisiran kasus. Pelaksanaannya dengan sweeping ke masyarakat. Gunanya untuk mencari warga yang belum vaksinasi campak rubella.
“Rencananya setelah Lebaran kami mulai sweeping di masyarakat dengan melibatkan petugas puskesmas, rumah sakit, dan kader kesehatan,” beber Hendik.
Vaksinasi itu menurutnya sangat penting memengaruhi status imunitas kelompok di suatu wilayah. Jika status imunitas kelompok rendah karena tidak pernah mengikuti vaksinasi, masyarakat tersebut akan mudah tertular.
“Makanya salah satu upaya mencegah penularan itu dengan penguatan. Caranya lewat imunisasi itu,” tandasnya.
Kenyataannya, masih banyak masyarakat yang enggan mengikuti vaksinasi. Di Kota Kediri selama 2025 lalu, rata-rata capaian vaksinasi campak rubella masih di bawah proyeksi target.
Untuk vaksin Measles-Rubella (MR) 1 untuk usia 9 bulan, yang sudah tervaksin sebanyak 3.650 orang dari proyeksi sasaran 4.213. Itu setara 86,64 persen.
Sedangkan untuk vaksin MR 2 bagi anak usia 18 – 24 bulan, yang tervaksin sebanyak 3.690 orang dari proyeksi sasaran 4.367 orang. Atau, persentase capaiannya 84,50 persen.
Kemudian untuk BIAS MR dengan sasaran anak kelas 1 SD, capaiannya 96,20 persen. Atau, 4.560 orang tervaksin dari proyeksi sasaran 4.790 orang.
“Capaian vaksinasinya memang masih di bawah target. Masalahnya sama seperti kabupaten/kota lainnya, masih ada masyarakat yang menolak, menganggap vaksin itu haram dan sebagainya,” beber Hendik.
Sementara itu, tak hanya di Kota Kediri, kasus campak di Kabupaten Kediri 2025 lalu juga melonjak tinggi.
Jika 2024 lalu hanya ada dua kasus, tahun 2025 ditemukan 14 kasus atau naik hingga tujuh kali lipat.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Kediri dr Bambang Triyono Putro mengatakan, kasus campak dalam beberapa tahun terakhir berfluktuasi.
Misalnya, pada 2021 lalu tidak ditemukan kasus campak sama sekali. Kemudian, pada 2022 tercatat dua kasus.
Selanjutnya, pada 2023 meningkat tajam menjadi 15 kasus. Kemudian, di 2024 bisa diturunkan dengan hanya dua kasus. Namun, tahun 2025 lalu melonjak lagi menjadi 14 kasus.
Baca Juga: Dinkes Kota Kediri Temukan 1.600 Kasus TBC Selama 2025, Tahun Ini akan Masifkan Penelusuran
“Kenaikan kasus campak salah satunya karena cakupan imunisasi yang menurun,” aku Bambang.
Padahal, menurutnya imunisasi jadi cara paling efektif untuk mencegah penularan penyakit tersebut.
“Campak merupakan penyakit yang sangat menular karena disebabkan oleh virus Morbilivirus. Penularannya bisa melalui percikan ludah di udara. Terutama saat penderita batuk, bersin, atau melalui sekresi hidung,” terangnya.
Terkait temuan belasan kasus pada 2025 lalu, menurut Bambang sebagian merupakan hasil skrining petugas kesehatan. Hal itu justru lebih baik. Sebab, jika kasus diketahui lebih dini, penanganannya bisa segera dilakukan.
“Kalau kasus positif ditemukan dari skrining, biasanya gejalanya masih ringan. Sehingga bisa segera ditangani dan secara dini memutus mata rantai penularan,” jelasnya.
Campak, tegas Bambang, merupakan salah satu penyakit yang selalu dipantau karena berpotensi menimbulkan KLB. Karenanya, skrining kasus suspek campak rutin dilakukan sebagai bagian dari kewaspadaan dini.
Selebihnya, dinkes juga terus melakukan berbagai upaya pencegahan. Mulai memastikan imunisasi rutin tetap berjalan. Hingga memberikan edukasi kepada masyarakat.
"Dengan adanya kasus 2025 yang tinggi, jadi acuan tahun ini untuk menggalakan vaksinasi," tandasnya sembari menyebut hingga Maret ini beluma da temuan kasus baru.
Editor : Mahfud