Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ramai Protes MBG Ramadan di Kediri: "Paket Hemat" Tapi Gizi Dipertanyakan Ortu!

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 27 Februari 2026 | 04:07 WIB

PAKET HEMAT: Salah satu siswa SD di Kecamatan Pesantren menunjukkan menu kurma, pisang, dan satu butir telur rebus yang diterimanya di bulan Ramadan.
PAKET HEMAT: Salah satu siswa SD di Kecamatan Pesantren menunjukkan menu kurma, pisang, dan satu butir telur rebus yang diterimanya di bulan Ramadan.

 

KEDIRI, JP Radar Kediri-Penyaluran menu makan bergizi gratis (MBG) Ramadan menuai protes secara luas. Mayoritas menyoal tentang menu yang dianggap tidak sesuai dengan harga yang seharusnya. Selebihnya, mereka juga menyoal kandungan gizi paket makanan yang diterima.

Seperti di SMPN 2 Ngasem. Kepala SMPN 2 Ngasem Sulistyo Wulandari mengatakan, selama Ramadan ini paket MBG dibagikan tiap tiga hari sekali. Senin (23/2) lalu, siswanya mendapat menu roti sobek, belimbing, dua biji kurma. Kemudian, buah jeruk, dan dua kotak susu kemasan 110 mililiter (ml).

Melihat rincian menu untuk tiga hari itu, menurut Sulis jika dihitung nilainya tidak mencapai Rp 30 ribu.

“Agak memprihatinkan. Kalau dihitung diberi harga tidak mencapai Rp 30 ribu,” jelasnya tentang paket makanan kering untuk tiga hari itu.

Selebihnya, dia juga menyoal buah dari paket MBG. Beberapa kali anak-anak menerima buah yang dinilai tidak layak. Mulai buah yang masih mentah, hingga ada pula yang sudah busuk.

Terkait temuan itu, menurut Sulis sudah disampaikan ke satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Namun, hal yang sama terus terulang. “Diberi masukan sulit,” terang Sulis sembari menyebut sekolah ingin pindah SPPG.

Menu yang dinilai kurang layak, tutur Sulis, tidak hanya ditemukan saat distribusi MBG kering Ramadan saja. Melainkan juga saat pengiriman reguler. “Dulu pernah tidak ada susunya. Kalau ditotal hanya Rp 7,5 ribu,” paparnya sembari menunjukkan menu  sebelum Ramadan yang terdiri dari satu butir telur ayam, dua butir pisang lilin, dan satu roti isi pisang.

Sebelumnya, di setiap paket menu MBG yang dikirim selalu dicantumkan takaran gizinya. Adapun sekarang, tidak pernah ada lagi. Dengan berbagai temuan itu, Sulis berharap bisa segera ada perbaikan. Baik variasi menu hingga takaran gizinya. Sehingga, wali murid dan guru bisa ikut memantau.

Tak hanya di SMPN 2 Ngasem, menu MBG kering juga dikeluhkan siswa di SMPN 1 Kras. Seperti Senin (23/2) lalu, siswa menerima 3 biji kurma, satu butir telur, empat biji anggur, dan satu roti. Menurut Kepala Tata Usaha SMPN 1 Kras Titik Ilmiah menu tersebut sangat minim.

“Saat saya WA, saya tanya kok menunya sederhana. Katanya mohon maaf karena menu memang sederhana dulu,” ungkap Titik sembari menyebut SPPG beralasan saat Ramadan semua harga naik.

Adapun kemarin siswa menerima satu roti, jeruk, satu bungkus kacang goreng, dan daging dendeng. Yang disoal, menu dendeng sapinya keras. Saat dimakan alot. “Ini dagingnya keras sekali,” keluh Titik.

Koordinator Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Ahmad Gunawan mengatakan, jika menemukan menu yang dirasa tidak sesuai, guru sekolah bisa langsung koordinasi dengan kepala SPPG. Yaitu untuk menyampaikan keluhan. “Jika memang tidak layak akan langsung diganti hari itu juga,” ungkap Gunawan.   

Terkait menu yang keluar, menurut Gunawan selalu dilakukan penakaran gizi. Dia memastikan menu sudah sesuai dengan takaran gizi yang seharusnya. “Mohon maaf, sering kali orang-orang salah dalam menilai menu tersebut. Alangkah baiknya koordinasi ke ahli gizi agar dijelaskan,” jelasnya.

Sementara itu, tak hanya di Kabupaten Kediri, keluhan tentang menu MBG kering juga terjadi di Kota Kediri. Menu yang dibagikan kepada siswa SD dianggap terlalu minim atau ala kadarnya.

Reni, salah satu wali siswa di Kecamatan Pesantren mengatakan, kemarin anaknya mendapat menu satu butir telur rebus, satu pisang, dan empat butir kurma. Sehari sebelumnya, anaknya mendapatkan paket separuh tahu kuning yang digoreng, satu puding, dan empat butir kurma.

Dia pun mempertanyakan harga menu itu yang dianggap terlalu sederhana untuk anggaran MBG tersebut. “Sebenarnya dari dulu sudah pernah komplain. Seringnya itu porsinya terlalu kecil. Misal ayam itu ya cuma segini (dua ruas jari, Red). Atau pilihan menunya jarang yang disukai anak. Nggak bervariasi, gitu,” keluhnya.

Intan, bukan nama sebenarnya, wali siswa SD lainnya menambahkan, menu MBG kering selama Ramadan itu juga disayangkan karena lebih sering tidak dimakan oleh siswa. Seperti anaknya yang sering merasa tidak cocok.

“Pernah dapat singkong rebus. Ya kan anak-anak nggak tertarik. Malah di sekolah anak saya juga hampir nggak pernah dapat susu,” ungkap Intan.

Keluhan-keluhan itu, menurut Intan pernah disampaikan kepada pihak sekolah maupun SPPG. Namun, belum pernah ada evaluasi. Keluhan yang disampaikan melalui media sosial pun hanya berujung pemblokiran.

“Pernah ada yang komplen langsung, katanya, ‘Disyukuri saja. Kalau nggak suka, dibuang saja.’ Malah gitu responsnya,” sesalnya.  

Keluhan yang tidak ditanggapi dengan baik itu, juga membuat sebagian wali siswa merasa trauma. Nana, bukan nama sebenarnya, salah satu wali siswa SD di Kecamatan Kota mengatakan, dia pernah mengungkapkan keluhannya terhadap MBG yang diterima anaknya di media sosial.

Pendapatnya itu berujung pemanggilan sekolah. Akibatnya penyaluran MBG sempat dihentikan. “Banyak orang tua juga yang jadi kapok. Takut bicara,” urainya.

Di beberapa sekolah, MBG selama Ramadan juga disalurkan dengan dirapel. Seperti di salah satu SD di Kecamatan Kota yang mendapatkan penyaluran MBG pada Selasa (24/2) lalu. Widuri, bukan nama sebenarnya, mengatakan anaknya dapat satu liter susu full cream, satu roti sisir, dan satu buah pear untuk alokasi 3 hari.

“Katanya nanti dapat lagi di hari Kamis yang digabung hari Jumat sama Sabtu,” katanya.

Sementara itu, MBG yang tetap disalurkan selama bulan Ramadan juga dibenarkan oleh pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Koordinator SPPG Kecamatan Kota Vicky Yusuf Imron mengatakan, selama Ramadan, MBG tetap bergulir dengan menu makanan kering. Penyalurannya pun tetap sesuai jatah enam hari dalam seminggu. Dengan jatah hari Sabtu yang didobel penyalurannya dengan hari Jumat.

“Tapi semisal ada sekolah non-muslim itu tetap dibagikan menu basah seperti biasanya. Tapi kalau siswanya puasa semua, maka dibagikan menu kering setiap hari,” kata Vicky.

Penyaluran setiap hari itu juga menimbang arahan terbaru dari pemerintah pusat. Vicky mengatakan, Selasa (24/2) lalu, Badan Gizi Nasional meminta agar SPPG tidak merapel penyaluran MBG selama Ramadan. Melainkan harus tetap disalurkan setiap hari.

Terkait menu, SPPG juga diminta membuat secara variasi. “Seperti kurma selama Ramadan itu sebenarnya tidak diwajibkan. Tapi beberapa SPPG pakai kurma dengan pertimbangan standart gizi yang nanti juga disesuaikan jumlahnya,” paparnya.       

Menyikapi banyaknya keluhan menu MBG selama Ramadan, menurut Vicky, ke depan setiap SPPG—khususnya di Kota Kediri— diwajibkan menunggah informasi menu beserta keterangan harga dan gizi. Keterangan diunggah di media sosial maupun grup sekolah penerima manfaat.

Dengan demikian, masyarakat bisa mendapat informasi yang terbuka tentang pengelolaan anggaran MBG yang per porsinya ditetapkan Rp 8 ribu untuk siswa SD kelas 1 – 3. Atau, Rp 10 ribu untuk siswa SD kelas 4 – 5 hingga jenjang di atasnya.

“Jadi masyarakat juga tahu, ini harganya berapa dan bisa mengevaluasi juga,” tandas Vicky sembari menyebut, aturan itu mulai berlaku kemarin (25/2).

Di setiap daerah, termasuk Kota Kediri, Vicky mengatakan setiap SPPG harus memiliki akun media sosial Instagram dan TikTok. Sedianya, medsos itu menjadi sarana komunikasi SPPG dengan masyarakat.

“Dan kalau di Kota Kediri kami juga punya link untuk pengaduan, namanya Lentera. Jadi setiap penerima manfaat kalau ada komplen terkait SPPG  di Kota Kediri bisa menyampaikan komplen di sana,” tandas Vicky.

Dengan begitu, sebagai koordinator SPPG, aduan yang disampaikan melalui website itu akan ditindaklanjuti. Salah satunya dengan mengevaluasi SPPG yang dilaporkan masyarakat. 

  Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

Editor : rekian
#Mbg #sekolah dasar #ramadan #gizi #Makan Bergizi Gratis