Kegiatan RDS sudah berlangsung lima tahun sejak 2020. Program ini merupakan tindak lanjut dari cek kesehatan di Integrasi layanan terpadu (ILP). Setiap kegiatan hadir pemateri yang kompeten seperti dokter, ahli gizi, atau dari pihak Keluarga Berencana (KB).
Dalam forum itu, orang tua dan ibu hamil dapat berdiskusi dan bertanya langsung kepada pemateri tentang permasalahan yang dihadapi. Harapannya adalah untuk menurunkan angka stunting dan ibu hamil beresiko.
“Jika ada balita masuk kategori stunting atau bumil yang beresiko ada penanganan dari RDS,” ungkap anggota KPM Desa Kedungsari, Nur Aini.
Selain mendatangkan pemateri, balita dan ibu hamil juga diberikan makanan tambahan (PMT). Kegiatan itu dilakukan setiap satu minggu sekali. Menu dimasak sendiri oleh kader posyandu atas anjuran dari puskesmas. Khususnya menu bergizi yang banyak protein dan buah. Pemberian PMT dilakukan saat forum Rumah Desa Sehat juga diantar ke rumah masing-masing sasaran oleh kader.
“Bu Bidan setiap minggu membuat daftar makanan, misalnya masakannya ini, buahnya ini, dan berbeda setiap minggu agar tidak bosan,” ungkapnya.
Setelah acara selesai, para kader juga rutin berkumpul ‘rembug stunting’. Yaitu kegiatan membahas cara menyelesaikan permasalahan stunting di lapangan.
“Jadi setelah selesai acara kami masih berkumpul lagi, mendata anak-anak itu, misalnya BB-nya masih kurang, atau sudah lulus dari kategori (stunting),” jelasnya.
Tak hanya balita dan ibu hamil, RDS juga mengundang para remaja rentan, seperti jika ada yang putus sekolah atau lainnya. Di sana remaja diadakan sosialisasi mengenai kenakalan remaja. Peserta RDS tahun ini ada sekitar 26 orang, gabungan dari balita, remaja, dan ibu hamil.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian