Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jalan Senyap Kader Kesehatan di Balik Target Temuan Kasus TBC

Ayu Ismawati • Senin, 17 November 2025 | 21:11 WIB

Photo
Photo
Tak Lelah Mengingatkan meskipun Kerap Tak Dianggap

Para kader TBC ini punya tanggung jawab besar. Tak hanya menemukan penderita, juga sekaligus melakukan tracing contact. Mereka pun tak pernah patah arang meski kerap dicueki atau mendapat penolakan.

Hari itu, Selasa pagi (11/11), ratusan orang berkumpul di salah satu hotel di Kota Kediri. Tak ada satupun yang laki-laki, semuanya perempuan.

Mereka adalah kader tuberkulosis (TBC). Datang dari seluruh kelurahan di Kota Kediri. Mereka berkumpul untuk menerima arahan dalam upaya percepatan penanganan penyakit menular tersebut.

Sebagai kader TBC, para wanita tersebut memiliki beberapa tugas. Salah satunya adalah mendorong percepatan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT).

“Itu adalah pengobatan untuk orang yang memiliki kontak erat dengan penderita namun belum menunjukkan gejala,” terang Sri Wahyuningrum.

Wanita berusia 43 tahun itu, adalah salah satu kader TBC. Salah satu yang hadir dalam acara pengarahan terkait tugas di tingkat komunitas.

Bagi Ningrum, tugasnya sebagai kader bukanlah sesuatu yang gampang. Mereka harus mengajak masyarakat agar mau mengikuti pengobatan TPT. Hal tersebut merupakan tantangan terbesarnya saat ini. Sebab, banyak masyarakat enggan mengikuti TPT. Mereka merasa sehat-sehat saja meskipun melakukan kontak erat dengan penderita.

“Karena merasa nggak sakit akhirnya nggak mau. Kalau TPT itu kan memang harus rutin minum obat selama tiga bulan,” urai sosok yang biasa disapa Ningrum ini, menceritakan kendala yang dia hadapi di lapangan.

Ningrum memang baru setahun terakhir menjadi kader TBC. Sebagai kader, tugasnya melaksanakan investigasi kontak erat serta memberikan edukasi kepada pasien dan orang-orang terdekatnya. Termasuk yang tak kalah penting memberikan motivasi kepada pasien agar disiplin mengonsumsi obat sampai tuntas, yang rata-rata berjalan selama enam bulan.

“Pokoknya kami selalu mengingatkan agar jangan lupa selalu minum obat, tidak lepas dari obat. Karena kalau berhenti, jadinya kebal obat,” kata kader TBC di Kelurahan Mojoroto ini.

Dari pasien itu, setiap kader ditugaskan melakukan tracing kontak erat. Dimulai dari orang yang tinggal serumah. Dari satu pasien, data yang dikumpulkan berkisar 8 sampai 10 orang terdekat. Mereka harus didatangi satu per satu, terlepas dari keterbatasan jumlah kader TBC.

“Dulu setiap RW itu ada satu kadernya. Tapi sekarang kurang berjalan. Mungkin apa bisa lebih digalakkan lagi,” akunya.

Ningrum menyebut tracing dan penyuluhan TPT di seluruh wilayah kelurahan pun kini hanya ditangani satu orang. Jumlah yang sangat jauh dari ideal. Belum lagi, kader TBC harus siap-siap makan hati dengan setiap penolakan dari masyarakat.

Tak bisa dipungkiri, sebagian besar masyarakat kurang kooperatif dengan kegiatan penanggulangan TBC. Terutama untuk melaksanakan terapi pencegahan TBC yang masih sering ditolak oleh masyarakat.

“Susahnya itu masyarakat mikirnya, ‘wong saya loh nggak sakit, kenapa minum obat?’ Jadi sulitnya itu memberi pengertian kepada mereka. Karena banyak juga yang masih ngengkel,” beber Ningrum.

Hal itu, menurutnya, tak lepas dari pemahaman masyarakat tentang TBC yang masih terbatas. Membuat mereka tak memahami betapa pentingnya melakukan pencegahan secara dini. Agar penyakit yang menyerang paru-paru ini tak menular.

Hingga kini, Ningrum masih mencari formulasi pendekatan terbaik. Agar masyarakat mau menjalankan program-program penanggulangan TBC.

“Kayaknya perlu ada gebrakan baru karena masyarakat masih kurang pemahamannya tentang TBC,” tandasnya.

Upaya menekan kasus TBC itu juga masih dihadapkan dengan stigma di masyarakat. Sriana, koordinator kader TBC di Kelurahan Blabak, Pesantren mengungkapkan, masih banyak masyarakat yang menganggap TBC sebagai penyakit yang tabu. Sehingga menghalangi mereka untuk berobat ke layanan kesehatan.

“Banyak warga yang memiliki gejala ini takut untuk memeriksakan diri, takut tereliminasi. Takut terdoktrin bahwa saya ini sakit karena hukum karma seperti itu,” ungkapnya.

Pola pikir seperti itu yang akhirnya membuat masyarakat malu memeriksakan kesehatannya. Termasuk takut dijauhi orang jika benar menderita TBC. Salah satu tugasnya sebagai kader juga untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait apa yang menjadi mitos dan fakta dari penyakit itu.

“Ini bukan hukum karma. Ini bakteri yang menyerang karena pada saat itu imun kita tidak fit. Dan kita tertular dari orang lain yang bisa jadi kita tidak kenal.

Dan bakteri tuberkulosis ini bisa dormant, yaitu tidur dalam kondisi orang yang sehat dan akan bangun atau aktif saat kondisi orang itu kurang fit,” bebernya, menceritakan apa yang sering dia sampaikan ke warga. (ayu isma/fud)

 

Editor : Miko
#tracing #Kisah perjuangan kader TBC #kediri #edukasi