Flyadeal Targetkan Buka Rute Kediri-Jeddah Awal Desember
KABUPATEN, JP Radar Kediri-Setelah ‘libur’ selama enam bulan sejak Mei lalu, penerbangan reguler di Bandara Dhoho dimulai lagi kemarin. Penerbangan oleh Super Air Jet jadi pembuka penerbangan reguler rute lainnya. Termasuk layanan penerbangan umrah yang juga diminati oleh Lion Air Grup itu.
Presiden Direktur Lion Air Grup Daniel Putut Kuncoro Adi mengatakan, selain membuka penerbangan rute Kediri-Jakarta, pihaknya juga tertarik untuk membuka layanan penerbangan umrah. ”Kami sudah berdiskusi dengan para pemangku kepentingan. Dengan landasan pacu sepanjang 3.000 meter (3.300 meter), Bandara Dhoho sangat memungkinkan untuk didarati pesawat berbadan lebar milik Lion Air,” kata Daniel.
Selebihnya, menurut Daniel Kediri berpeluang besar jadi salah satu titik keberangkatan umrah dan haji. Yakni, bekerja sama dengan agen-agen perjalanan serta Kementerian Haji dan Umrah.
Daniel berharap pada 2026 nanti pihaknya bisa melakukan penerbangan umrah di sana. “Kami menargetkan penerbangan umrah dan haji dari Bandara Dhoho bisa terwujud. Terima kasih atas dukungan semua pihak,” terangnya.
Jika Lion Air benar-benar membuka penerbangan umrah, mereka harus siap-siap bersaing dengan Flyadeal yang akan memulai penerbangan umrah lebih dulu. Chief Executive Officer Flyadeal Wilayah ASEAN Abdul Offar Musa menyebut, foreign air operator certificate (FAOC) yang jadi syarat maskapai asing bisa lakukan penerbangan komersial di Indonesia sudah keluar. “Insya Allah selesai (sudah keluar). Ini team saya di Jakarta. Ada di perhubungan untuk ambil izin,” tutur warga negara Malaysia itu.
Dengan keluarnya FAOC, lanjut pria yang akrab disapa Offar itu, pada 12 November nanti Flyadeal sudah mulai melakukan penerbangan di Indonesia. Dimulai dari Ujung Pandang lebih dulu.
Bagaimana dengan penerbangan di Bandara Dhoho? untuk penerbangan di Kediri masih menunggu turunnya izin antara Arab Saudi dengan Indonesia. Sebab, meski sudah ada FAOC, mereka harus menunggu izin dari kedua belah pihak lebih dulu. “Kita udah hantar permohonan. Jadi tunggu pemerintah luluskan (keluarkan izin),” urainya.
Sementara itu, penerbangan perdana maskapai Super Air Jet rute Kediri-Jakarta kemarin disambut dengan tradisi water salute. Saat pesawat yang dominan warna putih itu mendarat pukul 11.40, pesawat langsung disambut dengan penyiraman air oleh mobil Aircraft Rescue and Fire Fighting (ARFF).
Selanjutnya, sebanyak 129 penumpang dari Jakarta disambut oleh para pejabat. Mulai Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, Walikota Kediri Vinanda Prameswati, Direktur Surya Dhoho Investama (SDhI) Maksin Arisandi, General Manager (GM) Angkasa Pura (AP) 1 Bandara Dhoho Rahmat Yoni Saputra, dan beberapa pejabat lainnya.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin termasuk salah satu penumpang yang kemarin mengikuti penerbangan dari Jakarta. Sedangkan Wagub Emil berangkat ke Jakarta dengan pesawat yang sama. “Nanti (saya) akan menggunakan penerbangan perdana ini menuju Jakarta. Sebenarnya Mas Dhito (Bupati Hanindhito Himawan Pramana) berencana mencoba penerbangan ini, namun besok (hari ini) ada kunjungan,” ungkap Emil.
Dalam kesempatan kemarin, Emil mengapresiasi program pemberian insentif bagi penumpang pesawat yang berwisata di Kediri dan Trenggalek yang digagas Bupati Dhito dan Bupati Trenggalek Nur Arifin. Demikian pula pemberian diskon sejumlah hotel di Kediri. “Langkah ini sangat membantu dalam menarik minat masyarakat untuk menggunakan bandara ini,” tuturnya.
Dengan dukungan banyak pihak, dia optimistis Bandara Dhoho bisa berkembang. Termasuk membuka rute lebih banyak lagi. “Dengan semangat kolaborasi dan gotong royong, kita bisa mewujudkan cita-cita ini bersama,” tandasnya.
Terpisah, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengaku seharusnya bisa ikut terbang perdana ke Jakarta. Namun, dia urung terbang karena ada acara lain. “Besok (11/11) ada kunjungan Bu Arumi Bachsin ke Kabupaten Kediri dan siang ini pukul 14.00 saya harus menghadiri rapat paripurna pembahasan dana cadangan,” tandas Dhito tentang alasannya tetap berada di Kediri.
Dia berharap okupansi penumpang atau load factor pesawat bisa stabil di atas 70 persen. Sebab, jika di bawah 70 persen akan ada risiko kerugian.
Untuk mendukung operasional, Dhito meminta pemda di Selingkar Wilis ikut memberikan insentif. Yakni, menggratiskan penumpang pesawat untuk berwisata di daerahnya. Demikian pula hotel-hotel yang memberi diskon khusus. ”Ini memang tidak mudah, tapi jika berjalan lancar, saya yakin Bandara Dhoho akan menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Timur,” tegasnya.
Direktur PT Surya Dhoho Investama (SDhI) Maksin Arisandi menyebut, inaugural flight kemarin merupakan momentum yang sudah lama ditunggu dan perjuangkan. Dia berharap ke depan okupansi bisa meningkat. “Semoga frekuensi penerbangan tidak hanya tiga kali seminggu, tetapi bisa setiap hari, bahkan lebih dari satu kali dalam sehari,” harapnya memohon doa dari masyarakat.
Terkait penerbangan umrah, Maksin mengaku sedang mengupayakan agar bisa terealisasi. “Target kami dalam waktu dekat sudah ada penerbangan umrah dari Bandara Kediri. Bila memungkinkan, kami berharap musim haji dan umrah tahun ini sudah dapat dilayani dari sini,” tandasnya. (sad/ut)
Editor : Miko