Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Waspada Cuaca Ekstrem hingga Akhir Oktober, Begini Kata BMKG

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 22 Oktober 2025 | 12:06 WIB

WASPADA CUACA EKSTREM: Seorang pengendara bermotor menerobos derasnya guyuran hujan di Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo pada Selasa (21/10).
WASPADA CUACA EKSTREM: Seorang pengendara bermotor menerobos derasnya guyuran hujan di Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo pada Selasa (21/10).
KEDIRI, JP Radar Kediri– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Timur. Di antaranya adalah wilayah Kediri Raya.
Cuaca ekstrem ini berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Seperti hingga lebat dan angin kencang. Hujan lebat bisa menyebabkan terjadinya banjir, tanah longsor, dan puting beliung.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri, Lukman Soleh melalui Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik, Satria Kridha Nugraha, mengatakan potensi cuaca ekstrem tersebut berlangsung pada periode 20–29 Oktober 2025.

“BMKG menghimbau masyarakat untuk waspada terjadinya bencana hidrometeorologi,” ujarnya.

BMKG mencatat, sebagian wilayah Jawa Timur kini berada dalam masa pancaroba, sementara sebagian lainnya sudah memasuki awal musim hujan. Dalam kondisi ini, peningkatan curah hujan dan kejadian cuaca ekstrem menjadi lebih sering terjadi.

Satria menjelaskan, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam beberapa hari ke depan disebabkan oleh gangguan atmosfer berupa gelombang Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, dan gelombang Kelvin yang tengah melintasi Jawa Timur.

“Fenomena-fenomena ini menyebabkan peningkatan aktivitas pembentukan awan hujan. Selain itu, suhu muka laut yang hangat di sekitar Selat Madura juga mendukung pertumbuhan awan konvektif,” jelasnya.

Menurutnya, salah satu faktor utama penyebab cuaca ekstrem adalah gelombang ekuator Rossby. Gelombang ini merupakan fenomena atmosfer yang terjadi di sekitar ekuator akibat perbedaan gaya Coriolis antara belahan utara dan selatan.

“Gelombang Rossby menyebabkan kelembapan di wilayah yang dilaluinya meningkat. Dampaknya, potensi hujan lebat dan hujan es bisa terjadi, terutama jika suhu daratan panas dan kelembaban tinggi,” ungkapnya.

Hujan es, kata Satria, bisa muncul ketika arus konveksi sangat cepat dan angin berhembus kencang. “Biasanya hujan es disertai hujan deras dan angin kencang. Es yang seharusnya mencair di udara tidak sempat mencair karena dorongan angin yang kuat,” tambahnya.

BMKG mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di daerah bertopografi curam, bergunung, atau dekat tebing, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca ekstrem seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, jalan licin, dan berkurangnya jarak pandang.

Baca Juga: Kubu Faiz Ajukan Praperadilan di PN Kota Kediri, Ini Alasan Kuasa Hukumnya

“Kami juga menghimbau agar masyarakat dan instansi terkait selalu memantau kondisi cuaca terkini melalui radar cuaca WOFI dan peringatan dini 2–3 jam ke depan di website resmi BMKG Juanda,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Senin (20/10) sore lalu terjadi hujan es di wilayah Kecamatan Semen. Hujan deras disertai hujan es itu terjadi sekitar pukul 15.00.

"Terjadi di beberapa titik (Wilayah Semen) termasuk di rumah saya," jelas Anang Soetomo, 25, warga Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, Semen sembari menyebut tidak ada dampak kerusakan akibat peristiwa itu.

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#BMKG #jawa timur #kediri #banjir #angin kencang #oktober #cuaca ekstrem #dhoho