Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sering Kena Razia Satpol PP tapi Mengapa Anjal Gepeng Tak Jera-Jera?

Hilda Nurmala Risani • Minggu, 27 Juli 2025 | 21:05 WIB
Seorang pria mengemis di Jl Brawijaya Kota Kediri dengan memakai kostum. Bulan ini, ada 10 gepeng yang diamankan Satpol PP Kota Kediri.
Seorang pria mengemis di Jl Brawijaya Kota Kediri dengan memakai kostum. Bulan ini, ada 10 gepeng yang diamankan Satpol PP Kota Kediri.

JP Radar Kediri – Anak jalanan gelandangan dan pengemis (anjal gepeng) benar-benar sulit jera. Mereka tetap saja beroperasi di tempat-tempat yang dilarang. Meskipun berkali-kali terkena razia satuan polisi pamong praja (satpol PP).

Seperti bulan ini misalnya, ada sepuluh anjal gepeng yang berhasil diamankan polisi penegak perda tersebut. Mereka diamankan dari beberapa lokasi, terutama di perempatan-perempatan.

“Paling banyak pengemis dan badut,” terang Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban (Trantibum) Agus Dwi Ratmoko.

Khusus untuk badut, menurut Agus, sebenarnya tak menjadi masalah besar. Selama mereka beroperasi di lokasi yang tidak menimbulkan risiko bagi orang lain. Misalnya di pasar atau keramaian lain.

Sayangnya, badut-badut tersebut beroperasi di jalan raya. Membuat mereka berisiko mengganggu arus lalu lintas. Bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Selain itu, mayoritas mereka yang mengemis dengan menggunakan kostum badut adalah pria yang masih produktif. Berusia 28 hingga 40 tahun. Notabene, fisik mereka juga bagus. Masih mampu bekerja, misal menjadi kuli bangunan.

“Kadang saya miris melihat mereka yang masih sanggup bekerja tetapi lebih memilih menjadi pengemis. Tapi ya bagaimana lagi itu adalah mindset. Kalau mentalnya meminta-minta memang sulit untuk diubah,” nilainya.

Sebenarnya, satpol PP setiap hari melakukan patroli atau pemantauan. Tetapi yang sering terjadi adalah aksi kucing-kucingan antara petugas dan pengemis. Terkadang ketika ditertibkan di satu tempat mereka akan beroperasi kembali di tempat lain.

Selain badut, yang sulit jera adalah anak manusia silver, anak punk, dan pengemis lansia. Mereka punya taktik mengelabui petugas.

“Maka dari itu saya menyarankan ke anggota ketika melakukan patroli harus divariasi jamnya,” terangnya.

Anjal gepeng yang berhasil diamankan petugas biasanya akan diminta untuk membuat surat pernyataan. Mereka juga mendapat pembinaan. Misalnya diajarkan untuk bersih-bersih lingkungan sekitar.

Sayangnya surat pernyataan tersebut tidak membuat jera para pelaku. Sebab masih banyak dari mereka yang mengulangi kesalahan hingga harus membuat surat pernyataan tiga kali.

“Motif melakukan lagi ya karena ekonomi. Tetapi biasanya kalau sudah tiga kali, barang bukti akan kami sita. Dan itu baru membuat mereka jera,” terangnya.

Hal lain yang membuat anjal gepeng tak jera adalah faktor ekonomi. Setiap hari, mereka bisa mendapatkan hasil yang lumayan.

“Persewaan (kostum) badut satu  harinya Rp 35 ribu. Tentu penghasilan mereka melebihi itu,” ujarnya.

Pantauan koran ini, titik rawan anjal gepeng ada di beberapa traffic light yang ada di Kota Kediri. Namun yang paling sering ditertibkan petugas adalah di simpang empat Mrican Kecamatan Mojoroto dan simpang empat Kodim, Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota.

Problemnya lagi adalah terbatasnya kuota di dinas sosial (dinsos). Seperti ketika satpol PP menemukan anjal gepeng lansia tidak bisa diserahkan ke dinsos karena kuotanya penuh.

“Mau tidak mau kalau seperti ini para manula akan kembali menjadi pengemis. Karena sudah tidak mampu untuk bekerja,” ujarnya.

Terakhir, Agus mengimbau agar masyarakat tidak memberi sepeser pun uang kepada pengemis, pengamen maupun anak punk. Sebab, hal itu hanya akan membuat mereka semakin malas untuk mencari pekerjaan. (la/fud)

Editor : Mahfud
#anjal #razia #badut #gepeng