JP Radar Kediri- Jalanan di Desa Keling, Kecamatan Kepung sesak oleh manusia. Berduyun-duyun datang dari pelosok desa. Bahkan banyak yang orang luar desa.
Berdesak-desakan sejak siang hari. Dengan sabar menunggu rombongan pawai karnaval Agustusan yang hendak lewat.
Ketika arak-arakan datang, antusiasme mereka kian memuncak. Sebagian sampai menerjang pembatas penonton yang terbuat dari tali rafia.
Demi memuaskan hasrat melihat dari dekat rombongan pawai. Kemudian berswafoto dengan cerianya.
“Saya penasaran karena kepala naga ini bisa bergerak-gerak,” ucap Wahyudianto, 34. Lelaki ini jauh-jauh datang dari Desa Pelem, desa yang masuk wilayah Kecamatan Pare.
Naga yang dimaksud pria itu adalah karakter hewan yang diusung warga Dusun Jegles. Berwarna hitam pekat dengan sentuhan corak kuning keemasan.
Patung berbahan kardus itu selebar tiga meter. Tingginya mencapai dua meter.
“Badannya dari kardus bekas. Kerangkanya dari bambu,” terang Muhammad Sukron, 29. Pria ini adalah salah satu tim kreatif Dusun Jegles.
Dia bercerita, proses pembuatan sang naga relatif lama. Hampir dua bulan. Dikerjakan bergotong royong warga dusun.
“Seminggu sebelum karnaval sampai harus lembur. Hanya tidur sebentar sore hari,” sambung Samsudin, warga yang lain.
Idenya? “Dari kisah pewayangan pertarungan antara Bima dengan naga di tengah lautan,” jawabnya.
Ide itu muncul setelah melalui perdebatan panjang. Berawal ketika pihak panitia karnaval desa menetapkan tema flora dan fauna nusantara.
Setelah ide tercetus, warga dusun pun bekerja keras. Bergotong-royong mengerahkan semua kreativitasnya.
Biaya yang dikeluarkan juga tak sedikit. Menghabiskan dana hingga Rp 6 juta. Semuanya berasal dari swadaya masyarakat dusun. Membuat penampilan dari Dusun Jegles paling banyak dipuji.
Panitia yang juga perangkat Desa Keling Didin Saputro menjelaskan, rombongan peserta karnaval dengan tema seperti itu memang harus didorong.
Agar warga memunculkan kreativitas yang tinggi. Tidak hanya mengandalkan sound horeg-kendaraan yang mengusung sound system berkekuatan besar-saja.
Menurut Didin, karnaval desa dengan mengusung tema khusus ini sudah diterapkan selama dua tahun terakhir. Sebagai upaya menekan penggunaan sound horeg yang juga menjamur dalam beberapa tahun terakhir.
“Sudah dua kali ini karnaval bertema digelar. Tujuannya untuk menyiasati kemunculan sound horeg,” terang kasi Pemerintahan Desa Keling ini.
Pihak pemerintah desa (pemdes) pun berusaha menjaga agar warganya tetap sesuai dengan tema yang ditetapkan. Karena itulah seluruh proses pembuatan terus diawasi.
“Dalam proses pembuatan kita selaku perangkat turut memantau. Tujuannya agar warga tetap berada di jalur tema yang ditentukan,” imbuh Didin.
Praktis, perangkat Desa Keling aktif berkeliling dusun-dusun. Mencegah ada yang memakai sound horeg yang tak bisa diatur.
“Saya aktif keliling desa untuk amati pesertra yang sedang buat kerajinan buat karnaval,” imbuh Didin.
Hasilnya, karnaval di Desa Keling relatif menarik perhatian pengunjung. Seperti Suryaningsih, 47. Warga Pare ini tercengang dengan aksi warga yang bagus-bagus.
“Penampilan naga ini bagus sekali. Tak sia-sia jauh dari Pare untuk lihat karnaval desa ini,” puji Suryaningsih.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah