Sejak kecil Renata Amalia Putri menyukai dunia musik. Khususnya dangdut. Orang tuanya pun mendukung. Sejak kelas 5 SD ia sudah berani tampil. Namun beranjak SMP, aliran musiknya beralih ke seni tradisional. Renata memilih sinden. Alasannya, walau tua tetap dicari.
Awalnya Renata Amalia Putri mengikuti ajang bakat menyanyi dangdut di televisi. Dari situ dia terjun ke dunia sinden. Selain menekuni hobi, juga karena ingin melestarikan budaya agar tidak punah bagi generasi mendatang.
“Awalnya karena ayah dulu suka setel musik dangdut. Dari situ jadi suka,” aku perempuan yang sejak SD sudah berlatih menyanyi dangdut itu. Kecintaan Renata Amalia Putri pada dangdut tumbuh sedari kecil. Saniran, ayahnya, memang kerap menyetel musik tersebut di rumahnya.
Selain itu, juga musik dangdut sedang melejit. Terlebih banyak acara televisi (TV) mengadakan akademi dangdut. Sehingga muncul cita-cita dalam diri Renata untuk mengikuti kontes tersebut agar bisa dikenal. “Lihat acara kompetisi dangdut di TV, jadi punya tekad kuat. Aku besok pasti bisa masuk ke situ,” ujar perempuan kelahiran 2005 tersebut.
Orang tuanya pun mendukung Renata untuk ikut les musik dangdut. Sehingga skill menyanyinya semakin terasah. Kecintaannya semakin memuncak saat kelas 5 SD. Kali itu Renata pertama dapat tawaran job jadi penyanyi dangdut cilik. Dia mendapatkan apresiasi dan honor yang membuatnya berbinar-binar. “Awal dapat job, dikasih uang Rp 50 ribu, rasanya seneng banget,” ungkapnya mengenang pengalaman pertamanya manggung.
Karirnya berlanjut dengan kontrak menyanyi. Hingga masuk SMP 6 Kota Kediri, Renata ikut sanggar seni. Dia tertarik dengan sanggar sinden. Dari situ ia berpikir menyanyi dangdut kurang efektif dijadikan karier. “Kalau dangdut kan semakin tua kayaknya semakin meredup. Berbeda dengan sinden. Walau tua tetap dicari,” sebut perempuan yang sudah banyak memenangi perlombaan menyanyi dangdut maupun sinden itu.
Sejak itu Renata mulai menekuni sinden. Tiga tahun berlatih, kini ia sering mendapat job tanggapan. Seperti nyinden di pergelaran wayang, campursari, maupun uyon-uyon. Namun semua itu tidak mudah dicapai, karena selain pakem sinden yang berbeda dengan dangdut biasa, Renata harus mengerti bahasa Jawa yang oleh anak muda tidak pahami.
“Sejak kelas 1 SMP itu latihan terus setiap hari,” terang Renata. Selain ikut les dangdut, ia juga les tari, keyboard serta modeling.
Keinginannya belajar sinden yang menumbuhkan kecintaannya sehingga menjadi hobi itu juga dilandasi kemirisannya terhadap anak muda yang lupa dengan budaya Jawa. “Dengan ini, nantinya saya ingin menunjukkan bahwa anak muda harus melestarikan budaya agar tidak punah, dan anak cucu bisa menikmatinya juga,” harapnya sembari menutup percakapan dengan satu tembang yang dia nyanyikan dengan merdu.
“Nulada Laku Utama, Tumrape wong Tanah Jawi, Wong Agung ing ngeksiganda, Panembahan Senopati, Kepati amrsudi, Sudane hawa lan nepsu, Pinesu tapa brata, Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sesame (Contohlah tindak utama, bagi orang Jawa, orang besar di Mataram, yaitu Panembahan Senopati, yang tekun, mengurangi hawa nafsu, dengan jalan prihatin, serta siang malam selalu menyenagkan orang lain).
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah