JP Radar Kediri – Dua kapal tanker supertanker pengangkut minyak mentah asal Arab Saudi diserang oleh proyektil tak dikenal dalam selang beberapa menit satu sama lain, saat keduanya tengah melintasi Selat Hormuz menuju arah keluar pada Senin (31/8/2026) malam waktu setempat. Insiden ini terjadi di tengah kembali memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS), yang turut mendorong kembali naiknya harga minyak dunia.
Berdasarkan laporan lembaga intelijen dan pelacakan pelayaran, Marisks dan Kpler, kedua kapal tersebut masing-masing mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah asal Arab Saudi, yang dimuat dari Terminal Juaymah pekan lalu. Perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, sendiri baru kembali melakukan pemuatan dan penjualan minyak dari dalam selat tersebut pada Agustus 2026.
Baca Juga: 80 Persen Kapal Kini Pilih Jalur Oman, Iran Disebut Mulai Kehilangan Kendali atas Selat Hormuz
Satu Kapal Berbendera Arab Saudi, Satu Lagi Berbendera Korea Selatan
United Kingdom Maritime Trade Operations Centre (UKMTO) melaporkan bahwa satu kapal tanker berbendera Arab Saudi dan satu kapal tanker berbendera Korea Selatan sama-sama dihantam proyektil pada Senin malam. Badan tersebut menegaskan tidak ada laporan korban jiwa maupun dampak kerusakan lingkungan akibat insiden ini.
Marisks menilai serangan yang terjadi hampir bersamaan terhadap kedua kapal tersebut mencerminkan meningkatnya level ancaman di kawasan koridor Oman, jalur alternatif yang selama ini dianggap lebih aman bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. "Insiden yang terjadi nyaris bersamaan ini merepresentasikan eskalasi lebih lanjut terhadap lingkungan ancaman di dalam koridor Oman," demikian pernyataan Marisks.
Menyusul Ancaman Eskalasi Trump dan Serangan AS ke Pulau Larak
Serangan terhadap dua kapal tanker ini terjadi tak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan potensi eskalasi lebih lanjut dalam perangnya melawan Iran. Amerika Serikat sebelumnya telah melancarkan serangan terhadap pasukan Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026), yang kemudian dibalas Iran lewat serangan terhadap sejumlah aset AS di kawasan tersebut.
Insiden ini menjadi bagian dari rangkaian krisis Selat Hormuz yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026, ketika jalur pelayaran strategis tersebut mulai terganggu akibat aksi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Sepanjang krisis ini, tercatat sedikitnya satu kapal tunda tenggelam, lebih dari 17 kapal niaga mengalami kerusakan (tujuh di antaranya ditinggalkan awaknya), dua kapal niaga disandera, serta 12 pelaut tewas atau hilang, dan satu pekerja pelabuhan tewas beserta dua lainnya luka-luka di Bahrain.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Drastis Buntut Konflik AS-Iran di Selat Hormuz
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya telah berulang kali mengeluarkan peringatan larangan bagi kapal-kapal yang hendak melintasi selat tersebut, bahkan sempat menaiki dan menyerang kapal niaga serta memasang ranjau laut di sepanjang jalur tersebut.
Selat Hormuz Jadi Jalur Vital 20% Pasokan Minyak Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu titik penyempitan (choke point) maritim terpenting bagi perdagangan energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi jalur sempit tersebut setiap harinya. Gangguan berkelanjutan terhadap arus pelayaran di kawasan ini telah memicu krisis bahan bakar global, mendorong AS melancarkan kampanye serangan udara terhadap berbagai target Iran di sepanjang selat, sekaligus memberlakukan blokade laut terhadap Iran dan operasi pengawalan angkatan laut bagi kapal-kapal niaga yang melintas.
Terjadi di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran yang Kembali Memanas
Serangan terhadap dua kapal tanker ini muncul bersamaan dengan kembali pecahnya konflik terbuka antara AS dan Iran setelah sempat mereda selama sebulan penuh. Amerika Serikat baru saja melancarkan gelombang serangan besar ke berbagai sasaran militer Iran, termasuk kawasan Bandar Abbas dan Pulau Qeshm, yang turut menewaskan sejumlah warga sipil dan memicu ancaman keras dari Presiden Trump terhadap Iran apabila kembali melakukan pembalasan.
Baca Juga: Waduh, Kemnaker Sebut Perang Iran-Israel Dapat Picu PHK, Kok Bisa?
Baca Juga: AS Kembali Serang Fasilitas Iran di Hormuz, Trump Beri Ultimatum Keras
Editor : Shinta Nurma Ababil