Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Zohran Mamdani Wali Kota Muslim Pertama New York. Tump Marah dan Ancam Batasi Bantuan

Jauhar Yohanis • Kamis, 6 November 2025 | 13:50 WIB
 

Zohran Mamdani, Wali Kota muslim pertama New York
Zohran Mamdani, Wali Kota muslim pertama New York

Meteor Politik Seorang Demokrat Sosialis

Di tengah gemuruh politik Amerika yang semakin terpolarisasi, muncul sosok baru yang mengubah lanskap kekuasaan di New York. Zohran Mamdani, 34 tahun, seorang anggota parlemen negara bagian dari Queens dan penganut demokrasi sosial, resmi terpilih sebagai Wali Kota New York ke-111 pada Selasa malam. Kemenangannya bukan sekadar pergantian figur di balai kota — ia menjadi wali kota Muslim pertama, wali kota keturunan Asia Selatan pertama, dan wali kota termuda kota itu dalam lebih dari satu abad.

Menurut hasil yang diumumkan The Associated Press, kemenangan Mamdani menandai babak baru bagi progresivisme Amerika perkotaan. Ia menyingkirkan nama-nama besar seperti mantan Gubernur Andrew M. Cuomo, yang semula difavoritkan, serta Curtis Sliwa, pendiri Guardian Angels yang berhaluan konservatif.

Lahir di Uganda dari keluarga keturunan India dan besar di New York, Mamdani tumbuh di tengah keberagaman kota yang kelak ia pimpin. Ia dikenal sebagai aktivis komunitas sebelum meniti karier politik di Queens, wilayah yang kini menjadi pusat koalisi politiknya.

Kampanyenya bertumpu pada platform keterjangkauan (affordability): transportasi bus gratis, pembekuan sewa untuk apartemen berstatus sewa-stabil, serta layanan penitipan anak universal. Slogan-slogan sederhananya, yang menyentuh kebutuhan hidup sehari-hari warga kelas pekerja, menembus sekat ideologi dan menarik simpati luas — dari imigran Bangladesh di Bronx hingga profesional muda di Brooklyn.

“Yang saya perjuangkan sederhana — kota yang bisa ditinggali oleh mereka yang membangunnya,” kata Mamdani di hadapan ribuan pendukung yang memadati Forest Hills Stadium di Queens pada malam kemenangan.

Kemenangan Koalisi Baru: Anak Muda, Imigran, dan Politik Harapan

Lebih dari dua juta warga New York memberikan suaranya dalam pemilihan ini — tingkat partisipasi tertinggi untuk pemilihan wali kota sejak 1969. Di antara mereka, lebih dari 107.000 merupakan pemilih baru, banyak di antaranya muda, imigran, atau pemilih Muslim. Mereka inilah tulang punggung gerakan politik Mamdani.

Mamdani dan timnya membangun kekuatan dari bawah. Ribuan relawan mengetuk pintu rumah-rumah, kampanye mereka berdenyut kuat di media sosial, dan ribuan donasi kecil — banyak di bawah $20 — mengalir dari seluruh penjuru kota. “Kami tidak punya miliarder di pihak kami,” ujar seorang sukarelawan di Astoria, “tapi kami punya keyakinan bahwa politik harus kembali ke rakyat.”

Kemenangannya sekaligus menjadi momen kebanggaan bagi komunitas Muslim Amerika, yang kerap menghadapi gelombang Islamofobia pasca-9/11. Namun keberhasilan ini juga memunculkan ketegangan. Selama kampanye, Mamdani menjadi sasaran serangan politik dan ujaran kebencian, terutama dari kelompok sayap kanan dan beberapa elite politik yang mempersoalkan pandangannya terhadap Israel dan kebijakan perpajakan.

“Ada rasa bangga, tapi juga rasa waspada,” ujar Mohammed Khaleque, pemilih asal Bangladesh di Bronx. “Ia Muslim, tapi lebih dari itu — dia berbicara untuk semua warga kelas pekerja.”

Kemenangan Mamdani juga menggarisbawahi pergeseran kekuatan dalam tubuh Partai Demokrat, di mana sayap progresif semakin memantapkan posisi mereka. Dukungan datang dari tokoh-tokoh seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez, sementara beberapa tokoh arus utama, termasuk Senator Chuck Schumer, memilih diam.

Namun dukungan dari Gubernur Kathy Hochul dan Jaksa Agung Letitia James menunjukkan bahwa sebagian elite Demokrat kini mulai menerima — bahkan memanfaatkan — energi politik baru yang dibawa Mamdani. Hochul, yang akan menghadapi pemilihan ulang tahun depan, menyebut kemenangan ini sebagai “tanda bahwa New York siap untuk arah baru.”

Presiden Trump Marah. Ancam Batasi Bantuan Federal

Di balik gemuruh perayaan, Mamdani menghadapi medan yang jauh lebih sulit di depan. Ia akan memimpin kota dengan anggaran $115 miliar dan lebih dari 300.000 pegawai, termasuk 34.000 petugas kepolisian — ironis bagi seorang politikus yang dulu mendukung gerakan defund the police.

Presiden Donald Trump, yang telah berulang kali menyerangnya selama kampanye, menyatakan bahwa pemerintahannya akan membatasi bantuan federal untuk New York di bawah kepemimpinan Mamdani. Bahkan, Trump mengancam akan mengirim Pasukan Garda Nasional atau petugas imigrasi ke kota itu. Ancaman tersebut, meskipun dianggap retoris, menggambarkan betapa politis dan ideologis hubungan antara Gedung Putih dan Balai Kota bisa menjadi.

Selain tekanan dari Washington, Mamdani juga harus menghadapi resistensi dari dunia usaha dan elite kota. Para donor besar — termasuk Michael Bloomberg, yang menggelontorkan lebih dari $9 juta untuk mendukung Cuomo — kini menjadi oposisi diam-diam terhadap agenda progresif Mamdani, yang mencakup kenaikan pajak untuk kalangan kaya dan perluasan layanan publik.

Tugasnya tidak hanya menjalankan pemerintahan, tetapi juga membuktikan bahwa idealisme progresif bisa sejalan dengan realitas ekonomi kota global. Mamdani berjanji membentuk kabinet yang mencerminkan keberagaman dan kompetensi: campuran antara aktivis gerakan sosial dan birokrat berpengalaman.

Namun, banyak pengamat memperingatkan bahwa harapan tinggi bisa dengan cepat berubah menjadi kekecewaan, jika Mamdani gagal menunjukkan hasil nyata dalam isu perumahan dan biaya hidup.

“Ia simbol harapan baru,” tulis The New Yorker dalam editorialnya, “tapi juga ujian apakah politik progresif dapat bertahan dalam ujian pemerintahan nyata.”

Di malam kemenangannya, Mamdani berbicara di hadapan ribuan pendukungnya di Brooklyn. “Kita baru saja membuktikan bahwa politik yang penuh kasih, berani, dan berpihak pada rakyat bisa menang di New York,” katanya. “Tapi perjuangan baru saja dimulai.”

Ketika ia resmi dilantik pada 1 Januari, Zohran Mamdani akan menapaki jalan yang belum pernah ditempuh sebelumnya — antara idealisme dan kenyataan, antara sejarah dan ekspektasi masa depan.

Bagi banyak warga New York, terutama generasi muda dan komunitas imigran, perjalanan Mamdani adalah cermin harapan tentang kota yang lebih inklusif dan manusiawi. Tapi bagi para skeptis, ini adalah eksperimen politik yang berisiko — satu yang akan menentukan arah masa depan politik progresif Amerika.(*)

Editor : Jauhar Yohanis
#donald trump #Wali Kota New York Muslim Pertama