JP Radar Kediri - Harga telur di Amerika Serikat kembali melonjak hingga mencapai rekor baru sebesar $6,23 per lusin pada bulan lalu, berdasarkan laporan terbaru dari Indeks Harga Konsumen (CPI). Kenaikan ini terjadi meskipun tidak ada laporan terbaru mengenai wabah flu burung dan harga telur grosir sebenarnya telah menunjukkan penurunan.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi konsumen dan pelaku bisnis yang mengandalkan telur sebagai bahan utama produksi. Biasanya, permintaan telur mengalami peningkatan hingga setelah perayaan Paskah, yang tahun ini jatuh pada tanggal 20 April.
Harga Grosir Turun, Tapi Tidak Langsung Terdampak ke Pasar Eceran
Para ahli sebelumnya memperkirakan harga eceran telur akan turun seiring dengan turunnya harga grosir pada bulan Maret. Namun, menurut ekonom pertanian dari University of Arkansas, Jada Thompson, penurunan harga grosir terjadi terlalu lambat baru dimulai pertengahan Maret sehingga belum cukup berpengaruh terhadap rata-rata harga bulanan. Di sisi lain, tidak semua toko kelontong langsung menyesuaikan harga jual kepada konsumen.
Flu Burung Masih Beri Dampak Jangka Panjang
Wabah flu burung menjadi salah satu penyebab utama kenaikan harga telur awal tahun ini. Lebih dari 30 juta ayam petelur dimusnahkan demi mencegah penyebaran virus tersebut. Pada bulan Maret, hanya sekitar 2,1 juta ayam yang disembelih, dan tidak berasal dari peternakan telur. Meskipun beberapa peternakan telah mulai memulihkan populasi ayam, butuh waktu sekitar enam bulan sebelum ayam-ayam tersebut mulai bertelur. Data USDA menunjukkan, populasi ayam petelur nasional per 1 Maret hanya mencapai 285 juta, turun signifikan dibandingkan jumlah normal sebelum wabah, yaitu lebih dari 315 juta ekor.
Baca Juga: Pangeran Harry Pergi ke Ukraina Setelah Hadiri Pengadilan di Inggris, Ada Apa?
Pernyataan Trump dan Faktor Politik Harga Telur
Mantan Presiden Donald Trump sempat mengklaim bahwa penurunan harga telur grosir adalah hasil dari kebijakan pemerintahannya, dengan menyoroti pasokan yang dianggap mencukupi. Namun, para analis menilai bahwa kebijakan struktural dan strategi jangka panjang untuk menghadapi flu burung jauh lebih menentukan.
Trump bahkan mengatakan bahwa acara Easter Egg Roll di Gedung Putih akan kembali menggunakan telur asli, meskipun harganya mahal. Biasanya, peternak menyumbangkan lebih dari 30.000 telur untuk acara tersebut.
Impor dan Ekspor Mempengaruhi Ketersediaan
Departemen Pertanian AS telah mengimpor hampir 4 juta lusin telur pada bulan Februari untuk menambah pasokan domestik. Namun pada saat yang sama, ekspor telur melonjak menjadi 7,6 juta lusin karena peluang dari harga tinggi. Data untuk bulan Maret masih belum tersedia.
Variasi Harga Berdasarkan Lokasi dan Regulasi Negara Bagian
Berdasarkan laporan Datasembly, rata-rata harga telur pada pertengahan Maret berada di angka $5,98 per lusin dan menurun menjadi $5,51 di akhir bulan. Namun, harga di berbagai negara bagian sangat bervariasi. Misalnya, Walmart di Richmond, California menjual telur seharga $6,34 per lusin, sedangkan di Omaha, Nebraska, harganya hanya $4,97. Perbedaan ini sebagian dipengaruhi oleh regulasi negara bagian seperti kewajiban menjual telur bebas kandang di California.
Baca Juga: Kebijakan Tarif Trump Menyebabkan Dolar melemah? Simak penjelasannya
Cal-Maine Foods Disorot karena Laba Tinggi
Cal-Maine Foods, perusahaan penyedia telur terbesar di AS dengan pangsa pasar 20%, kini tengah menjadi sorotan. Departemen Kehakiman AS sedang menyelidiki apakah terdapat praktik monopoli dalam kenaikan harga telur. Dalam laporan keuangan terakhirnya hingga 1 Maret, Cal-Maine mencatatkan lonjakan laba bersih lebih dari tiga kali lipat menjadi $508,5 juta dibanding tahun sebelumnya.
Konsumen Beralih ke Telur Palsu untuk Paskah
Karena mahalnya harga telur, sejumlah konsumen memilih alternatif seperti telur plastik untuk keperluan dekorasi dan kerajinan Paskah. Retailer seperti Michaels melaporkan peningkatan penjualan kit kerajinan telur plastik hingga 20% dibandingkan tahun sebelumnya.
Penulis: Kemal Fahreza Jibran
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira