Sudrun kita kali ini tergolong pria yang rewelan. Terutama dalam persoalan ranjang. Dia pingine ketika ber-indehoi istrinya benar-benar melayani dengan sepenuh hati. Totalitas. Tidak nanggung alias setengah-setengah.
Nah, ketika Mbok Ndewor, istrinya, ingin pasang alat kontrasepsi Sudrun jadi mencak-mencak. Dia menganggap adanya alat keluarga berencana (KB) itu mengganggu kenikmatan aktivitas ranjang. Sudrun emoh bila istrinya menggunakan alat kontrasepsi, apapun jenisnya.
“Jadi tak nikmat,” dalihnya.
Padahal niatan Mbok Ndewor juga untuk kebaikan bersama. Dia tak ingin kebobolan lagi. Maklum, anaknya baru berusia dua tahun. Kalau ndak ditahan-tahan nanti ujug-ujug mbrojol lagi. Ujung-ujungnya, dia sendiri yang kewalahan ngrumat anak.
Sejatinya, Sudrun juga memahami kesulitan istrinya bila nanti hamil dan melahirkan ketika anak pertamanya belum besar. Namun, dia sudah kadung kurang selera dengan model KB menggunakan alat kontrasepsi. Nah, kalau model KB dengan sistem tanggalan Sudrun sih oke-oke saja.
Repotnya, bila menggunakan model kalender seperti itu ganti Mbok Ndewor yang emoh. Alasannya, peluang terjadinya gol, dan dia akhirnya mbobot, masih terbuka lebar. Apalagi dia harus repot-repot menghitung dan menandai kapan waktunya subur dan kapan waktunya nggak subur yang bisa dimanfaatkan untuk ber-kelon mesra.
“Lha wong yang pasang alat KB saja bisa kebobolan, apalagi ini yang tidak pasang. Hanya main kira-kira saja. Pasti gampang jebolnya,” ketus Mbok Ndewor.
Tak pelak, selisih paham itu membuat pasangan yang tinggal di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri ini jadi sering cekcok. Tukaran pun nyaris tiap hari. Sudrun dan Mbok Ndewor ibarat seperti aksi Tom and Jerry di pilem kartun. Selalu bertengkar. Masalah sedikit saja bisa berujung pada eker-ekeran berkepanjangan.
Apalagi bila berkait masalah urusan ranjang. Pertengkaran pun menjadi-jadi. Tak hanya Sudrun yang ngotot, Mbok Ndewor pun tak ingin ngalah.
“Lek pas tukaran ngono, perkara cilik iso dadi gede,” keluh Mbok Ndewor.
Mbok Ndewor sebenarnya sudah berniat menurunkan tensi ngototnya. Dia ingin sedikit mengalah. Harapannya, rumah tangganya bisa lebih harmonis. Sayang, nasi telah jadi bubur. Keretakan di biduk rumah tangganya sudah besar. Ibaratnya menjadi rongga dan siap mengaramkan sang perahu.
Mbok Ndewor pun tak kuat lagi mempertahankan keutuhan rumah tangganya itu. Bagi dia, tiga tahun membina rumah tangga bak di neraka saja. Seperti tak ada rasa cinta di antara mereka. Dia pun menguatkan tekad mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama.
“Paling wis gak cocok maneh. Luwih apik pisahan ae,” tekad di hati Mbok Ndewor. (ica/fud)
Editor : adi nugroho