JP Radar Kediri — Lagi, kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG) terjadi.
Kali ini menimpa beberapa sekolah di wilayah Kecamatan Badas. Puluhan siswa mengeluhkan ciri-ciri seperti terkena diare. Mereka merasakan mual, mulas, hingga muntah.
Namun, pihak satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) penyuplai membantah hal itu akibat keracunan makanan yang mereka sajikan.
Alasannya, karena kejadian baru dilaporkan setelah 24 jam berselang dari waktu santap makanan.
Apapun, dugaan keracunan tersebut termasuk massif. Terjadi di beberapa sekolah. Dan, sekolah-sekolah itu mendapat kiriman menu MBG dari satu SPPG, yaitu SPPG Blaru.
“Beberapa anak yang sempat makan mengeluh perutnya sakit, mules, dan mencret. Ada juga satu anak yang muntah," ujar An, 25, guru di salah satu sekolah yang terdampak.
Di sekolah ini ada lima siswa yang dilaporkan keracunan. Empat di antaranya mengeluh perut. Satu lagi merasa mual hingga muntah.
Selain di sekolah tersebut, dugaan keracunan juga terjadi di salah satu taman kanak-kanak (TK) penerima kiriman MBG dari SPPG yang sama.
Baca Juga: Lagi, MBG Diduga Picu Keracunan, Kali Ini di Badas Kediri , Satu SPPG Disorot
Di tempat ini ada empat yang merasakan keluhan setelah menyantap makanan kiriman. Satu siswa yang berulang kali muntah. Kemudian ada tiga orang dewasa yang diare.
Juga di sekolah dasar penerima manfaat serupa. Beberapa siswa mengeluh serupa usai mengonsumsi menu MBG.
Dari penelusuran Jawa Pos Radar Kediri, kejadian bermula ketika para korban menyantap menu masakan ayam yang dibagikan Rabu (2/9).
Beberapa guru dan wali murid menyebut ayam bumbu kuning yang diterima seperti berlendir dan terasa kecut (asam). Beberapa siswa memilih tak menghabiskan makanannya karena mencium bau yang tak wajar.
Menurut An, keluhan mulai muncul beberapa waktu setelah siswa pulang sekolah.
Hanya saja, mereka kembali beraktivitas dan masuk sekolah pada keesokan harinya. Tidak ada laporan siswa yang menjalani rawat inap di rumah sakit.
"Ada juga satu guru yang mengeluh diare. Tapi besoknya langsung masuk sekolah," ujarnya, ketika ditemui di sekolah.
Masih berdasar keterangan guru tersebut, sehari setelahnya kiriman MBG juga ‘aneh’. Menunya lele yang terlihat masih merah di bagian dalam.
Seperti kondisi belum matang sempurna. Akhirnya, menu itu tak dikonsumsi langsung. Sebagian siswa memilih membawa pulang untuk dimasak kembali.
"Lelenya belum matang sepertinya. Soalnya masih merah seperti darah gitu. Dan banyak," ujarnya.
Baca Juga: 10 Siswa Bergejala Keracunan Usai Diduga Santap MBG di Badas Kediri, Enam Ditangani Puskesmas
Dampak paling parah menimpa siswa TK. Dia dikabarkan harus dibawa ke puskesmas.
“Sore ada keluhan itu, Kamis tidak masuk (sekolah), Jumat sudah masuk tapi Senin tidak masuk lagi. Katanya masih muntah-muntah,” terangnya.
Sedangkan korban lainnya adalah seorang guru dan pengelola yayasan, satu tenaga pendidik (tendik), dan satu lagi orang tua siswa.
Dia memperkirakan, yang tidak jadi korban dugaan keracunan karena sadar menu ayamnya bermasalah. Sehingga tidak mengonsumsi langsung.
SPPG Blaru Bantah karena Keracunan dari Makanan Mereka
Kemungkinan dugaan keracunan disebabkan oleh makanan MBG langsung dibantah oleh pihak SPPG Blaru.
Mereka menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak bisa langsung disebut sebagai keracunan akibat menu mereka.
“Karena laporannya lebih dari 1 x 24 jam, jadi tidak bisa dipastikan itu dari MBG atau tidak,” dalih Kepala SPPG Blaru Ervian Dwi Putra Hernanda.
Menurut pria yang biasa disapa Ervian itu, laporan kejadian baru diterima Kamis malam. Padahal menu yang dipermasalahkan disajikan Rabu pagi.
Menurutnya, ada informasi yang masuk ke pihaknya bahwa guru yang mengalami mual sebelumnya juga mengonsumsi jajanan pentol (bakso) yang dijajakan oleh pedagang.
Baca Juga: Keracunan Marak, Satgas MBG Kota Kediri Perketat Pengawasan
Termasuk siswa yang keracunan juga mengonsumsi seperti itu. Bahkan, Ervian menyebut ada siswa yang mengonsumsi menu MBG lebih dari empat ompreng. “Siswa itu ternyata tidak merasakan keluhan,” tegasnya.
Meskipun demikian, dia menegaskan SPPG tetap kooperatif. Terutama bila nanti akan dilakukan pemeriksaan.
"Kami juga sudah memberikan sampel (makanan)," tandasnya.
Berdasarkan keterangan Ervian, SPPG Blaru melayani 22 sekolah. Total penerima manfaatnya mencapai 2.600 orang.
Setelah kejadian tersebut, SPPG sempat berhenti beroperasi selama dua hari. Namun Ervian membantah penghentian itu karena terbukti ada masalah pada makanan.
Melainkan karena ditemukan kekurangan pada fasilitas bangunan dapur yang perlu diperbaiki.
"Memang kami sedang ada pembangunan. Sementara kalau saat ada pembangunan tidak boleh buka," kilahnya.
Ia mengatakan evaluasi juga dilakukan terhadap menu yang dinilai memiliki risiko. Ke depan, pihak SPPG akan lebih memperhatikan pemilihan menu. Mereka akan menghindari makanan yang dianggap rawan.
Begini Penjelasan Satgas MBG Kabupaten Kediri
Sementara itu, Tim Satgas MBG Kabupaten Kediri membenarkan soal dugaan keracunan itu. Setidaknya, ada 20-an siswa yang terdampak.
“(Ada) 20 korban dari SMPN 1 Badas,” terang dr Ika Tjandra Kusuma, anggota tim satgas MBG Kabupaten Kediri. Sayangnya, dia belum merinci korban dari sekolah lain.
Ketua Satgas MBG Moh. Solikin menambahkan, pihaknya masih melakukan pendalaman pada kasus ini.
Ke depan, pihaknya juga memberikan evaluasi agar SPPG bisa lebih berhati-hati.
"Kami lakukan juga pengetatan pengawasan. Terutama kepatuhan terhadap SOP(standart operating procedure, Red) yang sudah ada," tegasnya.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri