KEDIRI, JP Radar Kediri- Suhu udara yang terasa lebih dingin dalam beberapa hari terakhir mulai dirasakan masyarakat di wilayah Kediri Raya. Kondisi tersebut merupakan fenomena yang lazim terjadi saat memasuki musim kemarau.
Selain menyebabkan udara lebih sejuk pada malam hingga pagi hari, fenomena itu juga berdampak pada kesehatan hingga meningkatnya risiko kebakaran lahan.
Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik BMKG Stasiun Meteorologi kelas III Dhoho Kediri Satria Kridha Nugraha menjelaskan, secara umum wilayah Kediri Raya yang meliputi Kabupaten dan Kota Kediri, Nganjuk, Tulungagung, Blitar, serta Trenggalek telah memasuki awal musim kemarau sejak Mei lalu.
Pada periode tersebut, tutupan awan mulai berkurang sehingga pelepasan panas dari permukaan bumi pada malam hari berlangsung lebih optimal.
"Selain itu, kondisi cuaca juga dipengaruhi massa udara yang relatif lebih dingin dan kering dari Australia," jelasnya.
Kombinasi kedua faktor tersebut membuat suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.
Baca Juga: Cuaca Terik dan Panas Menyengat Dirasakan Warga Kediri Raya, ini Penyebabnya
"Fenomena yang umum dirasakan masyarakat Jawa tersebut dikenal dengan istilah bediding," jelasnya.
Satria menambahkan, fenomena tersebut juga membawa sejumlah dampak lain. Di antaranya kelembapan udara yang lebih rendah dan kecepatan angin yang cenderung lebih kencang.
Kondisi itu dapat menyebabkan kulit terasa lebih kering, meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). "Selain itu juga memperbesar potensi kebakaran lahan selama musim kemarau berlangsung," jelasnya.
Karena itu, masyarakat diminta lebih memperhatikan kondisi kesehatan. Terutama dengan mengenakan pakaian yang lebih hangat saat malam hingga pagi hari serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh.
Warga juga diimbau mulai mengantisipasi berkurangnya ketersediaan air seiring berlangsungnya musim kemarau.
“Masyarakat diimbau menjaga kesehatan dengan menggunakan pakaian yang lebih hangat saat malam hingga pagi hari, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta mengantisipasi berkurangnya ketersediaan air seiring berlangsungnya musim kemarau. Selain itu lebih hati-hati apabila melakukan pembakaran lahan,” ujarnya.
Baca Juga: Cabai Rawit di Kediri Tembus Rp 80 Ribu, Diduga Imbas Cuaca Yang Tidak Menentu
BMKG juga mengingatkan adanya pengaruh fenomena El Nino pada tahun ini.
Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih lama dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat umum, tetapi juga sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
Untuk itu, pelaku pertanian direkomendasikan menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi cuaca yang diperkirakan lebih kering.
"Petani juga disarankan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan serta memperkuat sistem irigasi guna menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau berlangsung," imbuhnya.
Editor : Andhika Attar Anindita