Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Keluarga Tak Lagi Jadi Tempat Aman

Hilda Nurmala Risani • Senin, 20 April 2026 | 17:19 WIB
Ilustrasi anak-anak yang membutuhkan kasih sayang
Ilustrasi anak-anak yang membutuhkan kasih sayang

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - “Anak merupakan anugerah sekaligus amanah yang diberikan oleh Tuhan kepada orang tua. Yang seharusnya dijaga dan dilindungi sepenuh hati. Bukannya menjadi samsak amarah ketika orang tua tak bisa mengarahkan. Karena sejatinya mereka perlu dibimbing bukan dianiaya yang menyisakan trauma.” 

Pada Rabu (15/4) warga Kota Kediri dihebohkan dengan adanya kasus penganiayaan kepada anak yang berujung kematian. Mirisnya, pelaku adalah orang terdekat korban yang seharusnya jadi tempat berlindung aman. Namun sebaliknya menjadi ancaman yang dengan tega menghilangkan nyawa korban.

Ya, pelaku adalah adalah neneknya sendiri. Yang biasanya nenek berperan sebagai garda terdepan cucunya ketika tak sejalan dengan orang tuanya. Ini justru kebalikannya. Dia dengan tega menganiaya cucunya yang menyebabkan adanya pendarahan berat di bagian organ dalam.

Baca Juga: Ketika Kritik Bukan Dibalas Argumen Melainkan Ancaman

Dibalik kejamnya perlakuan tersebut, perlu untuk diketahui lebih dalam apa faktor yang menyebabkan sang nenek berlaku keji. Ternyata tak lain adalah kelakuan sang anak yang tak menurut apa perintahnya.

Lalu apakah ketika anak tak menurut, orang tua dan nenek berhak melakukan kekerasan? Tentu tidak. Karena kekerasan pada dasarnya tidak menyelesaikan masalah. Justru menciptakan masalah baru.

Sebenarnya, jika diamati tak hanya persoalan anak menurut atau tidak. Ada hal lain yang menjadi persoalan serius. Yang mungkin juga ada benang merah sehingga nenek melakukan tindakan kejam tersebut.

 Baca Juga: Cuaca Ekstrem di Kediri Jadi Ancaman Masyarakat

Yaitu berkaitan dengan kondisi sosial.  Apabila kondisi tersebut ada ketimpangan atau kesenjangan maka dapat menimbulkan dampak negatif yang cukup signifikan. Seperti pola asuh yang kurang sehat dan juga kekerasan fisik maupun verbal di lingkungannya. 

Misalnya saja, bagi mereka yang kondisi sosial ekonominya rendah pasti tidak memusingkan soal pola asuh dan pendidikan. Mereka hanya berpikir bagaimana besok bisa makan.

Mereka juga mungkin tidak pernah tahu dan belajar bagaimana menjadi orang tua dan nenek yang baik. Sebab dunianya hanya berisi bagaimana bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 Baca Juga: Pro dan Kontra Pelaksanaan SOTR

Tak heran ketika anak tidak nurut, mereka yang sudah capek bekerja seharian dengan kondisi emosional yang tak menentu dengan ringan melakukan kekerasan pada anak. 

Secara tak langsung mungkin sebagian dari mereka juga tumbuh di lingkungan yang menganggap kekerasan adalah hal biasa dan sebuah solusi.

Tentu ini bukan sekadar kisah kriminal yang selesai dengan hukuman penjara. Ini adalah alarm kemanusiaan. Ketika orang tua dan nenek yang seharusnya menjadi pelindung utama justru menjadi sumber teror.

Rumah semestinya menjadi tempat paling aman di dunia. Tempat anak bertumbuh dengan cinta, belajar dengan tenang, dan merasa dilindungi. Namun bagi sebagian anak, rumah justru menjadi ladang ketakutan tempat di mana luka dibungkus keheningan dan air mata ditelan diam-diam.

 Baca Juga: Antara Trauma dan Hukum Yang Masih Menganga

Mengerikan bukan? Bahwa cinta yang semestinya menjadi pelindung, justru menjelma menjadi pisau yang melukai?

Kalau ada ungkapan ‘orang tua yang tak pernah sembuh dari lukanya, akan melukai anak-anaknya’, rasanya itu benar adanya. Anak-anak yang tumbuh dalam rumah penuh bentakan, ancaman, atau perlakuan kasar, menyerap semua itu sebagai realitas. Sebagian akan tumbuh membenci masa kecilnya, sebagian lagi akan mengulangnya tanpa sadar.

Pola itu akan terus diwariskan, kecuali ada yang memilih memutus rantainya. Dan memutus rantai itu tidaklah mudah. Dibutuhkan kesadaran, pendampingan, dan keberanian luar biasa. Tapi itu harus dimulai dari kita. Dari para orang dewasa yang pernah menjadi anak-anak terluka.

Mari berhenti mewariskan luka. Mari belajar mengasuh dengan cinta. Mari percaya bahwa dunia yang lebih hangat dimulai dari rumah yang lebih manusiawi. Karena pada dasarnya tidak ada satu pun anak yang pantas diperlakukan seperti itu.

 Baca Juga: Korban Kecerobohan Orang Lain

Seringkali masyarakat menyikapi kekerasan sebagai urusan pribadi. Tapi kekerasan, sekecil apa pun, adalah urusan bersama. Karena menyangkut generasi masa depan.

Pada akhirnya yang dibutuhkan adalah  sistem yang lebih peka dan tanggap. Layanan konseling yang benar-benar menjangkau keluarga miskin, edukasi tentang pengasuhan berbasis empati serta perlindungan hukum yang tidak hanya hadir di atas kertas.

Editor : Andhika Attar Anindita
#penganiayaan kota kediri #orang tua kejam #satreskrim polres kediri kota #balita #kelurahan ngronggo