KEDIRI, JP Radar Kediri - Rasa cinta sering kali bisa mengalahkan logika. Saat masih pacaran semuanya terasa indah. Makan sepiring berdua. Minum satu gelas bersama. Semuanya tetap terasa menyenangkan.
Sayangnya yang indah-indah itu hanya bersifat sementara. Jika dirasakan terus-menerus, banyak yang tidak beta. Salah satunya Yu Minthul.
“Aku kenal Sudrun nalika kuliah di Malang. Kenal neng organisasi, deweke terkenal sregep ,” ujar Yu Minthul, perempuan asal Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Baca Juga: Ambruk gara-gara Jeruk Mangan Jeruk
Bungsu dari empat bersaudara yang sedang dimabuk cinta itu tidak peduli dengan latar belakang pacarnya. Termasuk kondisi ekonominya yang pas-pasan.
" Wis ora peduli latar belakang bojoku kayak piye. Sing penting deweke mau bekerja keras," lanjut Yu Minthul.
Perhatian Sudrun dan sosoknya yang selalu ada saat Yu Minthul membutuhkan, benar-benar membuat perempuan itu klepek-klepek . Karenanya, selepas kuliah mereka langsung menyatakan ingin menikah.
Meski sempat tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya, Yu Minthul dan Sudrun tetap berusaha meluluhkan hati ayah dan ibunya. Lambat laun mereka mendapat restu.
Baca Juga: Sik Kere Setia, Wis Kaya Mendua
Tidak hanya itu, Yu Minthul juga membujuk orang tuanya agar mau membantu biaya pernikahan. Sayangnya, mereka pun iya-iya saja.
Yu Minthul pancen sugih tenan . Kuliah neng Malang wae langsung ditukokne omah . Wis terbiasa urip penak sejak cilik . Lalu, apa sanggup yen urip susah dengan Sudrun?
“ Ora apa-apa aku wis cerita wong tuwaku yen aku lan bojoku perlu berjuang disik . Dadi yen awal rabi gung duwe apa-apa ya wes bene gausah dipermasalahkan,” gerutu Yu Minthul.
Kondisi ekonomi Yu Minthul dengan Sudrun yang tidak sepadan ini sempat jadi topik pembahasan. Terutama dari keluarga Yu Minthul yang tahu benar jika putrinya tidak terbiasa hidup susah.
Baca Juga: Ora Waras gara-gara Miras
Namun, Yu Minthul tetap tidak mau mundur. Dia berjanji tetap menikah dengan pujaan hatinya itu. Apalagi, Sudrun baru saja diterima kerja.
Yu Minthul pun yakin pria yang dicintainya itu bisa menghidupi dirinya. “ Sak wulan urip neng Malang, aku sering mulih Kediri. Alasane kangen wong tuaku . Asline kesel merga ora nduwe pembantu,” kenang Yu Minthul.
Tak hanya berkunjung, saat pulang ke Kediri Yu Minthul juga membawa banyak makanan. Dia juga membawa bahan-bahan mentah yang dibutuhkan agar bisa menghemat.
Tekad Yu Minthul untuk sehidup semati dengan Sudrun ternyata tidak bertahan lama. Seperti dugaan keluarga dan tetangga sekitare . dia hanya mampu hidup serbaterbatas selama setahun.
Baca Juga: Pria Keluarga Gayane, Jebule Duwe Cem-ceman
Yu Minthul memutuskan untuk mengakhiri bahtera rumah tangganya. Alasannya hanya satu, Sudrun tidak bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari. “ Piye maneh , bojoku bayarane mepet tapi gaya seumur hidup ora berubah. Ya ora cukup,” urainya.
Mendapat kabar perceraian dari putri bungsunya, orang tua Yu Minthul langsung syok. Tetapi karena tak mau melihat putrinya hidup susah pun mereka pun mengiyakan.
“ Bapakku awale ya ora mendukung. Tapi ndelok uripku ngenes akhire wes langsung dikongkon pegatan ,” urai Yu Minthul.
Kisah Yu Minthul menjadi pembelajaran bahwa kisah cinta tetap kalah dengan realita hidup. Cinta mati dengan pasangan tapi rasanya lapar akan berujung pada ketidakpuasan. Dampaknya ketidakharmonisan dan perceraian. Peh !
Editor : rekian