KABUPATEN, JP Radar Kediri-Polisi mengintensifkan pengusutan kasus pengeroyokan yang membuat Moh. Hidris Rayyan, 17, tewas, dan dua pemuda lainnya luka-luka. Kemarin, Satreskrim Polres Kediri telah mengamankan closed circuit television (CCTV) yang merekam wajah dan kendaraan para pelaku insiden di Desa Menang, Pagu pada Senin (24/3) dini hari lalu itu.
Untuk diketahui, selain pemuda yang akrab disapa Rayyan itu ada dua korban lain yang mengalami luka-luka. Mereka adalah Zaki Amani, 17, dan Hendra Reza, 18. Berdasar rekaman CCTV yang diamankan polisi, para pelaku diperkirakan berjumlah 14 orang.
Hal tersebut terlihat dari rekaman CCTV yang menunjukkan para pelaku mengendarai tujuh sepeda motor. Achmad Fauzi Kurniawan, 30, kakak Zaki mengatakan, dirinya memiliki rekaman CCTV yang memperlihatkan kendaraan para pelaku. “Ada tujuh sepeda motor dan semua pelaku berboncengan,” kata Fauzi.
Karenanya, pelaku pengeroyokan diperkirakan minimal berjumlah 14 orang. Saat kejadian, para pelaku berkendara dengan memenuhi jalan raya.
Fauzi menegaskan, polisi telah mengumpulkan rekaman CCTV di 20 titik. Dia berharap hal tersebut tidak hanya mempermudah aparat mengidentifikasi kendaraan pelaku.
Melainkan juga bisa mengungkap identitas mereka. “Sehingga semua korban yang dikeroyok bisa mendapat keadilan,” ungkapnya.
Terpisah, Kasatreskrim Polres Kediri AKP Fauzy Pratama melalui Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Ipda Heri Wiyono mengatakan, hingga kemarin pihaknya masih melakukan penyelidikan. “(Para pelaku pengeroyokan Rayyan dan dua pemuda lainnya, Red) belum tertangkap,” kata Heri.
Ditanya tentang rekamana CCTV yang dikumpulkan dari 20 titik di sekitar lokasi kejadian, Heri enggan membeberkannya. Beberapa pertanyaan yang dilontarkan koran ini tidak dijawab.
Seperti diberitakan, Minggu (23/3) lalu Zaki, Hendra, Rayyan, serta tiga teman lainnya pergi ke SLG sekitar pukul 23.30. Sedianya mereka ingin melakukan sahur on the road.
Pemuda asal Kecamatan Pare itu berboncengan tiga alias hanya mengendarai dua sepeda motor. Setelah menghabiskan waktu berkeliling selama sekitar satu jam, sekitar pukul 01.30 Senin (24/3), mereka hendak pulang ke Pare.
Saat melintas di depan SMKN 1 Ngasem, mereka berpapasan dengan pelaku. Mengendarai sepeda motor, mereka terlihat membawa parang dan balok kayu.
Gerombolan tersebut meminta Rayyan dan teman-temannya berhenti. Namun, mereka tak menuruti dan memilih melaju kencang untuk menjauh. Dalam pelarian, motor yang dikemudikan Rayyan dan dua temannya terpisah dengan satu sepeda motor lain.
Setelah jaraknya relatif jauh, Rayyan dan dua temannya memilih berhenti di kafe wilayah Ngasem untuk menunggu temannya. Berharap yang menyusul satu sepeda motor temannya, rupanya yang mendekat adalah gerombolan yang membawa parang.
Rayyan pun memilih untuk kabur. Namun, karena jarak yang dekat mereka tetap bisa dikejar oleh gerombolan tersebut. Dalam hitungan detik, salah satu pelaku menendang motor yang dikendarai Rayyan dan teman-temannya hingga terguling.
Dalam kondisi luka-luka karena terjatuh, Zaki berlari ke persawahan. Satu teman lainnya juga berlari ke tempat terpisah. Sedangkan Rayyan menjadi bulan-bulanan pengeroyokan. Akibatnya, Rayyan tergeletak bersimbah darah.
Dia dilarikan ke RSUD SLG dalam kondisi koma. Selanjutnya, dia dinyatakan meninggal pada Selasa (24/3) dini hari. Pengeroyokan berujung maut itu diduga kuat akibat sentiment perguruan silat.
Hal itu diketahui dari adanya logo perguruan silat di logo helm Rayyan hingga memancing pelaku. Dari kaus yang dikenakan, gerombolan tersebut berasal dari perguruan yang berbeda.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira