KEDIRI, JP Radar Kediri - Entah bagaimana cara berpikir Yusa Cahyo Utomo ini. Di satu sisi dia bertindak bak jagal manusia kejam yang tega menghilangkan nyawa tiga orang sekaligus. Tapi, di sisi lain, dia mengaku merasa iba. Hingga membiarkan korban keempatnya tetap hidup. Meskipun, si korban terakhir ini kondisinya kritis.
Yang dibiarkan hidup itu adalah anak bungsu pasangan Agus-Kristina, Samuel Putra Yordaniel. Alasannya kepada polisi, dia merasa kasihan dengan keponakan terkecilnya itu.
“Kalau pengakuan tersangka, dia memang memastikan (terlebih dahulu) tiga orang (Agus, Kristina, dan Christian) yang dia tinggalkan dalam kondisi tidak bernapas,” jelas AKP Fauzy Pratama.
Sementara, Samuel belum tewas ketika dipukul. Menurut keterangan Yusa, keponakannya itu masih sadar dan berusaha merangkak ke arah kasur. Tapi, dengan kondisi bercucuran darah.
Setelah sampai di kasur, Yusa kemudian menyelimutkan baju ke tubuh Samuel. Menutupi bagian yang berlumuran darah. Dia tak memukulnya lagi dan membiarkannya tetap hidup. Si pembunuh sadis ini juga menutupi tubuh keponakannya yang lain, yang sudah meninggal, dengan baju.
Mengapa dia tak menghabisi nyawa si keponakan terkecilnya? “Untuk korban yang paling kecil, memang dibiarkan. Tersangka meninggalkannya dalam kondisi bernapas. Alasannya meninggalkan dalam kondisi seperti itu, dia merasa kasihan pada yang paling kecil. Pengakuannya seperti itu,” jelas Fauzy.
Kondisi Samuel sendiri mulai membaik. Menurut Kapolres Kediri AKBP Bimo Ariyanto, Kamis malam RS Bhayangkara berhasil mengoperasi korban. Mengeluarkan gumpalan darah di kepala.
“Alhamdulillah kondisinya semakin membaik,” jelas laki-laki asal Sidoarjo itu, sambil menyebut otopsi tiga korban lain menyebutkan meninggal karena kekerasan fisik di kepala.
Yusa, yang dihadirkan saat rilis kemarin, mengaku menyesal. Dengan duduk selonjor di lantai, pria yang juga residivis dalam kasus jambret ini terlihat menunduk sepanjang press conference.
“Iya menyesal,” ucapnya lirih ketika ditanya wartawan.
Mengapa dia sampai nekat melakukan tindakan brutal seperti itu? Yusa hanya bungkam dan menunduk. Ketika ditanya Kapolres Bimo, pelaku hanya menjawab bahwa dia menyesal.
Yusa diketahui merupakan pribadi yang bermasalah. Selain kasus ini, sebelumnya dia juga pernah terjerat kasus kriminalitas.
“Dia merupakan pelaku kejahatan, dia residivis pencopetan. Kasusnya juga di Polres Kediri,” jelas Bimo.
Di lingkungan keluarganya, dia juga tidak harmonis. Pelaku sebenarnya sudah berumahtangga dan punya satu anak. Namun dia bercerai dengan sang istri karena hubungannya tidak langgeng.
“Penyebabnya apa tidak tahu, tapi memang orangnya temperamen juga,” jelas Sunardi, sepupu korban Kristina.
Menurutnya, Yusa beberapa kali kerja ke luar daerah. Namun tidak bertahan lama. Sehingga dia berpindah pindah. “Tak tahu karena bermasalah atau bagaimana, yang jelas kerja gagal terus. Jadinya sering pinjam ke mbaknya,” jelasnya.
Sunardi mengatakan, bahwa Kristiani tidak memberikan pinjaman ke adiknya karena sudah berulangkali tidak dikembalikan. Belakangan, yang melatarbelakangi pembunuhan itu, Yusa mau meminjam uang Rp 13 juta.
“Padahal dia punya hutang ke kakaknya itu Rp 2 juta. Tapi mau pinjam lagi dengan jumlah yang besar. Jelas tidak mau. Dan kabar ini (sering pinjam dan tidak dikembalikan) sudah beredar di para saudara,” jelas Sunardi.
Pria 55 tahun ini mengatakan, dari keterangan keluarga yang rumahnya di belakang rumah korban, mereka mendengar suara gaduh. Namun diabaikan, karena tidak ada yang menyangka ternyata ada kejadian nahas itu.
“Saat subuh juga lihat mobilnya (mobil korban) keluar. Pikirnya berangkat kerja. Karena memang bisanya pagi-pagi berangkat kerja dan tidak jarang pakai mobil,” jelasnya saat ditemui usai melakukan pemakaman para korban.
Terkait dalih Yusa mengenai Kristina yang mengusir ayahnya itu, menurut Sunardi tidak benar. Memang benar bahwa Kristina tidak setuju dengan ayahnya yang mau menikah lagi. Namun dia tidak mengusirnya, melainkan sang ayah sendiri yang merajuk dan pergi dari sana.
“Karena kan bapaknya itu juga tinggal di tempat saya, jadi saya tahu. Soalnya nanya ke bapaknya, juga ke Kristina,” jlentrehnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah