Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Merasa Tak Aman, Keluarga Korban Penculikan Asal Kota Kediri Minta Perlindungan

Ayu Ismawati • Selasa, 6 Agustus 2024 | 16:32 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Kejahatan yang dilakukan Slamet Mulyono, 55, tidak hanya berdampak bagi Mil, 26, sang korban. Melainkan juga keluarganya. Merasa tak aman, keluarga perempuan yang hilang selama 12 tahun itu meminta perlindungan kepada pemerintah.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Arief Cholisudin Yuswanto melalui Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Siti Nur Laila Istiqomah mengatakan, pihaknya sudah melakukan penjangkauan terhadap korban. Dengan kondisi korban yang masih trauma, mereka langsung melakukan pendampingan psikologis kemarin.

“Dia bilang sudah empat kali berupaya melarikan diri tapi selalu gagal. Di sini saya menangkap adanya semacam bentuk kekerasan TPPO (tindak pidana perdagangan orang). Tapi itu sudah ranahnya polisi,” katanya.

Laila—sapaan akrabnya—memaparkan, kekerasan TPPO sering kali ditandai dengan adanya upaya penyekapan. Atau, selalu dikuntit kemanapun korban pergi. Perlakuan yang berlangsung selama belasan tahun itu membuat orang tua korban meminta bantuan pendampingan psikologis bagi Mil.

“Jadi dia menyambut antusias saya menawarkan layanan psikologi. Mulai nanti sore (kemarin, Red) Insya Allah kami langsung memfasilitasi itu. Karena kondisinya masih terluka, jadi kami home visit,” bebernya sembari menyebut, kejahatan yang seakan dilakukan secara profesional oleh pelaku itu juga membuat korban dan keluarga merasa tidak aman.

Laila menambahkan, tujuan pendampingan juga untuk menguatkan korban. Harapannya, korban bisa mengumpulkan keberanian untuk mengungkap kasusnya di persidangan. Sehingga pelaku bisa mendapat balasan yang setimpal atas kejahatannya.

“Bisa jadi dia (pelaku, Red) melakukan ini tidak hanya ke anak ini kan, tapi juga ke orang lain. Karena kabarnya pelaku juga melibatkan beberapa orang yang itu dibayari,” sambungnya sembari berharap pihak berwajib bisa menguak kasus tersebut.

Selain dampak psikologis yang dirasakan Mil, kejadian itu juga membuat orang tua kandung korban merasa khawatir. Mereka lantas meminta perlindungan untuk keluarganya.

“Karena dari cerita si anak ini, bapaknya menangkap bahwa pelaku memiliki jejaring kejahatan yang profesional. Jadi mereka memohon bantuan kepada kelurahan dan babinkamtibmas untuk memperhatikan dan memonitoring lingkungan rumah mereka,” tandasnya.

Adapun upaya pendampingan terhadap korban, menurut Laila saat ini masih diprioritaskan pada proses penanganan kasusnya. Upaya pendampingan lanjutan untuk memulihkan psikososial korban, nantinya juga akan ditawarkan. “Misal mau mengikuti kegiatan pemberdayaan seperti pelatihan UMKM dan sebagainya. Atau misal mau kejar paket,” tegasnya.

Seperti diberitakan, upaya penculikan terhadap Mil, 26, di Jl. Veteran, Mojoroto, berhasil digagalkan masyarakat. Percobaan penculikan itu diotaki oleh Slamet Mulyono, 55, dan tiga pelaku lainnya. Belakangan diketahui, pelaku sudah menculik Mil sejak 2012 dan membawa gadis itu ke Probolinggo. Belasan tahun tinggal di Probolinggo, dia menjadi budak bagi bapak satu anak tersebut. Perempuan asal Bandarlor, Mojoroto itu dipaksa bekerja tanpa menerima upah selama tinggal di Probolinggo.

Sementara itu, hingga kemarin Slamet dan tiga tersangka lainnya masih menjalani penahanan di Polres Kediri Kota. Penyidik yang sudah meminta keterangan terhadap Mil, melanjutkan pemeriksaan secara maraton terhadap empat pria yang terlibat dalam kasus penculikan tersebut.

Tak Tunggu Terus Bocahe, Ora Tega Ninggal

Gagalnya penculikan Mil, 26, untuk kali kedua oleh Slamet Mulyono pada Sabtu (03/8) malam lalu disambut suka cita keluarga. Suh, nenek Mil, bahkan terus menunggui cucunya yang hilang selama 12 tahun itu.

Melihat kaki dan tangan cucunya terluka akibat tusukan gunting, Suh juga terus memandangi beberapa bagian tubuh Mil yang diperban itu. Sorot mata sedih tak bisa disembunyikan lagi. “Tak tunggu terus bocahe. Tak tinggal nek ngarep wae ora tega,” ungkap Suh.

Kekhawatiran terlihat jelas di mata lansia itu. Betapa tidak, jika warga tidak menyelamatkan Mil pada Sabtu malam lalu, gadis yang baru pulang ke rumah pada Juni lalu itu akan hilang kembali. Bisa saja keluarga akan kesulitan melacak keberadaannya seperti tahun 2012 silam. “Saiki aku ayem,” lanjut Suh sambil tersenyum.

Saat Mil tiba-tiba hilang setelah pamit berangkat sekolah tahun 2012 lalu, menurut Suh pihak keluarga berusaha melakukan pencarian. Selain mencari di Kota Kediri, mereka mencari Mil hingga ke Lamongan, Jombang, dan beberapa kota lainnya. “Kabeh nggoleki. Sampek kaya wong stres,” kenang Suh.

Di saat bersamaan, orang tua Mil juga melaporkan kejadian hilangnya siswa kelas IX SMPN 8 Kota Kediri itu ke Polres Kediri Kota. Namun, Mil tetap tidak bisa ditemukan. “Saking gesitnya pelaku mungkin. Ayah saya kemarin juga sempat bilang kalau sudah laporan 12 tahun yang lalu,” sahut Mil.

Penantian itu terbayar setelah 28 Juni lalu Mil yang berhasil kabur bersama temannya, tiba-tiba muncul di depan rumahnya. “Semua kaget karena memang 12 tahun tidak ada kabar sama sekali,” terang gadis berambut panjang itu.

Untuk diketahui, 12 tahun tinggal di rumah Slamet Mulyono, Mil tak ubahnya budak. Dia bekerja dengan pengawasan ketat Slamet. Adapun upah langsung dipegang oleh Slamet.

Setelah pulang dari tempat kerja, Mil juga hanya bisa di dalam rumah. Saat dia ditinggal pergi oleh Slamet, pintu dan pagar selalu dikunci. Gadis yang tidak memiliki dokumen kependudukan itu diakui sebagai anak tiri Slamet. Karena itu pula, warga sekitar di Probolinggo tidak menaruh curiga.

Sayang, Kasatreskrim Polres Kediri Kota Iptu Fathur Rozikin belum bisa dikonfirmasi terkait perkembangan lebih lanjut kasus penculikan yang dilakukan Slamet bersama tiga pelaku lainnya. Ditemui di Polres Kediri Kota kemarin, dia meminta wartawan koran ini untuk menunggu update perkembangan dari satreskrim. “Nanti dulu,” elak Fathur.

 Selain Slamet, polisi mengamankan tiga pria lainnya. Mereka adalah

Rifaldi Abdul Wahid, Choierum Min Alfie Sahrien alias Toni, dan Sugiardi Cahya Pratama. Tiga pemuda itu memiliki peran beragam. Toni mendapat tugas memancing Mil untuk datang ke Jl. Jaksa Agung Suprapto. Sebelumnya mereka juga berkenalan lewat Instagram dan intens berkomunikasi.

Toni pula yang menyopiri mobil Toyota Innova Reborn yang digunakan untuk beraksi. Adapun Slamet yang geram karena Mil hendak kabur langsung menusuk perempuan yang disukainya itu dengan gunting hingga tiga kali. Akibatnya Mil mengalami luka di dua kaki dan tangannya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #tppo #perlindungan #kejahatan #penyekapan #penculikan #jawa pos #kekerasan