KEDIRI, JP Radar Kediri - Sidang kasus penganiayaan yang membuat Bintang Balqis Maulana, 14, santri Ponpes Al Hanifiyyah, Desa Kranding, Mojo kembali digelar kemarin. Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi itu menghadirkan Gus Fatihunnada atau Gus Fatih, pengasuh Ponpes Al Hanifiyyah. Di depan majelis hakim, pria yang mengantarkan jenazah Bintang ke Desa Karangharjo, Glenmore, Banyuwangi Februari lalu itu beralasan tidak mengetahui peristiwa pengeroyokan di pesantren yang dipimpinnya.
Selain Gus Fatih, sidang kemarin juga menghadirkan dua terdakwa pelaku pengeroyokan. Yakni, Muh. Aisy Afifudin, 19; dan Muh. Nasril Ilham, 18. “Sama sekali tidak tahu kejadiannya (pengeroyokan, Red). Tahu-tahu pagi saat istirahat dibangunkan karena ada anak (Bintang, Red) yang meninggal di rumah sakit (RS),” kata Gus Fatih.
Lebih jauh Fatih tidak mengira jika Bintang tewas akibat dianiaya teman-temannya. Alasannya, menurut laporan yang diterimanya Bintang meninggal karena jatuh saat di kamar mandi.
Keterangan itu diungkapkan oleholeh AF, 16, yang merupakan sepupu Bintang. Karenanya, Gus Fatih mengaku percaya saja. Sebelumnya, menurut Fatih juga tidak ada laporan terkait adanya penganiayaan. Hal tersebut membuatnya beralasan tidak tahu adanya tindakan kekerasan yang menimpa Bintang.
Selebihnya, Fatih menyebut pengeroyokan terjadi saat Maghrib. Saat itu, para santri dan pengurus sedang salat berjemaah. Sehingga, tidak ada pengawasan.
Di depan para pengunjung sidang, Gus Fatih mengaku baru mengetahui kematian Bintang tidak lazim setelah tiba di rumah duka korban Banyuwangi. Saat itu, keluarga memaksa untuk membuka kain kafan Bintang. “Saat di Banyuwangi baru lihat pertama kali kondisi Bintang. Mukanya lebam-lebam,” akunya.
Mendengar pernyataan Gus Fatif, JPU Nanda Yoga Rohmana menilai pengawasan dari pihak pengurus pondok kurang memadai. “Kami tidak bisa menilai itu sebagai kelalaian. Namun kalau dari fakta menurut kami kurangnya pengawasan,” tegas Nanda.
Sementara itu, Verry Achmad, penasihat hukum Nasril menilai keterangan yang disampaikan Gus Fatih berbelit-belit. Meski demikian, menurutnya hal itu bukan karena menutup-nutupi. Melainkan karena grogi. “Bahasa yang disampaikan memang agak mbulet. Sebenarnya tidak menutup-nutupi. Tapi memang dia grogi. Selain itu Memang dia tidak paham dan tidak mengetahui kejadian itu,” jelas Verry.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah