KEDIRI, JP Radar Kediri-Perampokan yang terjadi di SPBU Dusun Nglempun, Desa Pandantoyo, Ngancar, pada Rabu (7/2) dini hari lalu menyisakan trauma bagi Dewa Bayu Saputra, 22. Karyawan SPBU yang sempat disekap oleh kawanan perampok itu masih terus dibayangi peristiwa yang hampir merenggut nyawanya tersebut. Meski tak menderita luka berat, hingga kemarin dia masih dalam masa pemulihan dan belum masuk kerja.
Ditemui di rumahnya, Desa Jagul, Kecamatan Ngancar, Dewa terlihat berbincang dengan teman-temannya yang sengaja datang menjenguk. “Belum masuk kerja karena masih pemulihan,” kata Dewa yang sudah menyerahkan surat dokter ke SPBU tempatnya bekerja.
Peristiwa perampokan yang terjadi dini hari lalu memang membuat SPBU merugi hingga puluhan juta. Namun, kerugian yang dialami Dewa justru tak bisa terhitung. Sebab, peristiwa mencekam dini hari lalu itu hampir saja merenggut nyawanya.
Dia lantas mengisahkan kembali kejadian paling menakutkan yang baru dialaminya itu. Menurut Dewa, SPBU sudah tutup sejak pukul 22.00. Pemuda yang kebagian sif malam itu lantas memutuskan tidur di kantor. “Saya baru bisa tidur sekitar pukul 00.00,” tutur Dewa.
Pemuda yang biasa tidur dalam kondisi gelap ini langsung mematikan lampu di dalam kantor. Keanehan mulai terjadi sekitar pukul 01.00. Saat itu, ada orang yang mendobrak pintu kantor SPBU.
Dalam kondisi belum bangun sempurna, pipi kiri Dewa sudah dipukul oleh seorang pria. Saat itu juga, dia dipiting oleh dua orang lainnya. Belum sempat melihat jelas wajah pelaku karena kantor dalam kondisi gelap, wajah Dewa langsung ditutupi dengan seragam miliknya yang digantung di sana. “Tangan saya diikat dengan sabuk,” kenang Dewa sembari menyebut mulutnya juga disumpal dengan tangan pelaku yang memakai sarung tangan.
Ditanya tentang ciri-ciri pelaku, Dewa mengaku tidak bisa melihat dengan jelas. “Yang saya tahu pelaku yang memegangi ada tiga. Badannya tinggi besar. Setelah itu tidak tahu apa-apa,” paparnya tentang aksi mencekam selama sekitar 30 menit itu.
Tak hanya memukul pipi kirinya, menurut Dewa pelaku juga beberapa kali memukul rusuk kanannya. Setelah dalam kondisi tengkuran dan diikat, dia juga beberapa kali diinjak oleh para pelaku. “Sampai hari ini (kemarin, Red) masih terasa nyeri,” jelas Dewa sembari menyebut dirinya juga sudah menjalani computerized tomography (CT) scan. Hasilnya dia tidak mengalami luka berat.
Meski demikian, hingga kemarin Dewa masih harus berjuang melawan trauma yang dialaminya. Saat dirinya dipukuli oleh para pelaku, dia sempat merasa hidupnya akan berakhir. “Napas sudah ngos-ngosan. Sulit bernapas. Sempat mikir kalau nggak akan selamat,” kenangnya lagi.
Dengan pengalaman traumatis yang dialaminya, Dewa berharap agar polisi bisa segera menangkap pelaku. Sebab, hanya dengan cara tersebut dia bisa merasa lebih tenang.
Terpisah, Kapolsek Ngancar AKP Chardi Kukuh Wicaksono menuturkan, pihaknya dibantu tim Resmob Satreskrim Polres Kediri tengah melakukan penyelidikan. Dia mengaku sedang mengumpulkan keterangan dari para saksi dan bukti-bukti terkait. “Kami juga sudah memeriksa CCTV (closed circuit television, Red),” jelas Chardi.
Seperti diberitakan, kawanan perampok menyatroni SPBU Dusun Nglempun, Desa Pandantoyo, Kecamatan Ngancar pada Rabu (7/2) dini hari lalu. Pelaku yang diduga berjumlah lima orang membongkar brankas. Mereka membawa kabur uang lebih dari Rp 35 juta yang merupakan hasil penjualan sif siang dan malam. “Sekitar Rp 35 juta ke atas, tapi nggak sampai Rp 40 juta,” jelas Dewa.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah