Arak-arakan mobil bak terbuka yang mengusung sound system berkekuatan besar ini marak beberapa tahun terakhir. Sangar memang, tapi dampaknya bisa berbahaya. Bisa membuat yang mendengar rusak gendang telinganya.
“Kalau dilos, bangunan rumah bisa rusak. Entah itu atap atau kaca rumah,” kata Naryo Kawat. Pria yang tinggal di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri ini adalah pemilik persewaan sound system. Yang menyewakan peralatannya tak hanya untuk acara hajatan saja. Juga untuk kepentingan battle sound, arak-arakan sound system mirip karnaval.
Sesaat kemudian Naryo membuktikan omongannya. Dia langsung menyalakan satu set sound system miliknya. Panel volume bass-nya didorong ke atas, nyaris maksimal. Hingga kaca rumahnya bergetar kencang seiring meningginya suara.
Padahal itu baru satu set. Sementara para peserta battle sound membawa berkali-kali lipat. Bisa berkekuatan 5 ribu hingga 10 ribu watt! Seperti yang terjadi di Kecamatan Kandat beberapa waktu lalu. Dalam karnaval agustusan, ada truk yang mengusung 12 set sound system!
“Untungnya truk tersebut langsung dicegat polisi,” terangnya.
Lelaki 63 tahun ini mengatakan tren battle sound sudah marak sejak beberapa tahun terakhir. Setelah beberapa kali viral di media sosial. Sayangnya, tren tersebut tidak dibarengi oleh rasa tanggung jawab para penikmatnya. Alih-alih menjadi sebuah hiburan, battle sound system justru jadi momok yang menyeramkan. Bagaimana tidak, ketika sound dinyalakan dengan volume hampir maksimal, benda di sekitar lokasi akan bergetar.
Bila kekuatan battle sound sangat tinggi, tak hanya bergetar, benda-benda bisa berjatuhan. Termasuk genting rumah. Bahkan, tembok hingga kaca pun bisa retak atau pecah.
Naryo sadar akan dampak itu. Karenanya, ketika melakukan check sound, dia memilih membawanya ke tanah lapang. “Sering waktu ngecek terus kebanteren malah ditegur warga,” akunya.
Tak hanya berpengaruh pada benda, suara keras dari battle sound juga berdampak buruk pada manusia. Tentu saja, terutama, pada indera pendengaran.
“Kalau di tahap paling parah dan tetap tidak diobati ya bisa jadi tuli,” ujar dr Elida Mustikawati, dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan (THT).
Sebab telinga punya keterbatasan kemampuan. Batas maksimal yang bisa diterima adalah 90 desibel (db). Di atas itu bisa menimbulkan cedera di pendengaran. Baik itu kategori ringan, sedang, dan berat.
Bila ringan, mungkin hanya berakibat munculnya suara mendengung. Kemudian, lama-lama pendengaran jadi melemah. Bila pada tahap ini harus segera diperiksakan.
Oleh sebab itu, dokter lulusan Universitas Airlangga ini berharap agar masyarakat berhati-hati. Ketika ada battle sound system, Elida mengimbau warga untuk menghindar. Dengan tujuan agar tidak mengalami cedera di bagian pendengaran.
“Jangan sampai sudah merasa dampaknya lalu menyesal,” ingatnya.
Dampak merusak dari acara battle sound inilah yang membuat polisi turun tangan. Mereka melarang acara-acara semacam itu. “Battle sound itu mengganggu ketertiban umum,” tegas Kapolres Kediri Kota (Kapolresta) AKBP Teddy Chandra.
Teddy menilai suara yang dihasilkan dari battle sound tak hanya memunculkan kerugian material maupun non-material. Juga mengganggu aktivitas ibadah. Bahkan, bisa juga menimbulkan korban jiwa.
“Misalkan orang yang sakit kemudian mendengar suara yang begitu keras, akhirnya kaget, akhirnya bisa menimbulkan kerugian jiwa,” ujarnya memberi contoh.
Terkait perayaan HUT Kemerdekaan RI tahun ini, Teddy mengaku belum menerima permohonan izin battle sound. Kalaupun ada, permohonan itu tetap diterima. Tapi, rekomendasinya adalah tidak memberikan izin atau menolak.
Jika ada yang ngotot menggelar? “Tentu kita akan mengambil tindakan kepolisian,” tegas Teddy, sambil berharap agar masyarakat patuh larangan dan bisa saling toleransi
Hal senada disampaikan Kapolres Kediri Agung Setyo Nugroho. Dia menegaskan battle sound tidak boleh berlangsung di wilayah hukum mereka. Karena banyaknya keluhan yang dia dapat dari warga Kediri.
“Yang jelas kami tidak memberikan izin battle sound keliling,” ujarnya singkat.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah