Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bikin Resah, Penjual Kalender Diamankan

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 2 Februari 2023 | 17:09 WIB
KLARIFIKASI: Kelompok penjual kalender memberi klarifikasi dan permintaan maaf di Balai Desa Tugurejo. (Foto: Polsek Ngasem For JPRK)
KLARIFIKASI: Kelompok penjual kalender memberi klarifikasi dan permintaan maaf di Balai Desa Tugurejo. (Foto: Polsek Ngasem For JPRK)
NGASEM, JP Radar Kediri– Polisi mengamankan 8 anggota kelompok penjual kalender yang meresahkan warga Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem. Pasalnya, tak hanya menjual tetapi juga meminta sumbangan. Dalihnya untuk membangun pondok pesantren (ponpes) di Sragen, Jawa Tengah (Jateng).

Warga risau lantaran saat memasarkan almanaknya, para penjual asal Demak, Jateng terkesan memaksa. Bahkan sampai menggedor pintu. Bila tak membeli dimintai sumbangan.

Astutik, 34, warga Dusun Babakan, Tugurejo mengaku, resah dengan para penjual kalender itu. Dia pernah dipaksa membeli. Penjual bertamu tak sopan. Menggedor pintu rumahnya. Tapi ketika tidak membeli, mereka minta uang sumbangan. “Pas siang-siang kan waktunya istirahat. Tiba-tiba ada yang ngetuk pintu terus memaksa beli kalender,” ungkapnya.

Kapolsek Ngasem Iptu Dyan Purwandi mengatakan, sudah memeriksa delapan orang tersebut, Selasa malam (31/1). Setelah itu, polisi berkoordinasi dengan pemerintah Desa Tugurejo.

“Selasa malam memang kita taruh di kantor. Terus saya koordinasi dengan kepala desa untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Dan, pihak desa setuju,” ujarnya.

Paginya, sekitar pukul 08.00 petugas polsek membawa 8 penjual kalender itu ke Balai Desa Tugurejo. Kepala Desa Tugurejo Agung Witanto mengatakan, telah menghadirkan Kiai Toha, pengelola musala Nurul Mustafa di Sragen, yang namanya tercantum dalam kalender.

Ternyata Kiai Toha ini, menurut Agung, tidak tahu kalau kalender itu dibuat sendiri oleh keponakannya yang biasa dipanggil Usup. Kiai tersebut hanya tahu diberi bantuan dana untuk mendirikan ponpes. Sebulan diberi sekitar Rp 300 ribu- Rp 500 ribu. Padahal hasil penjualan kalender bisa sampai belasan juta rupiah. “Kiainya nggak tahu kalau caranya seperti itu. Tahunya hanya dibantu dan mendapat uang segitu. Tidak tahu kalau sebenarnya hasil jual kalender dapat belasan juta per bulan,” paparnya.

Di akhir pertemuan kemarin, kelompok penjual kalender memberikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf. Untuk diketahui, penjual kalender itu punya peran masing-masing. Tujuh memasarkan dari rumah ke rumah. Satu bertugas mengemudi. Mereka berombongan menumpang mobil Sigra putih.

Satu kalender dijual Rp 25 ribu. Dalam sehari bisa terjual ratusan. “Coba kalau dihitung dalam satu bulan sudah dapat berapa puluh juta mereka,” ucap Agung.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kriminalitas #penjual kalender #pemaksaan #sumbangan masjid #kriminal