Paijo dan Minthul bisa diibaratkan dua negara di semenanjung Korea, Korea Selatan dan Korea Utara. Tak pernah isa akor. Selalu bertengkar. Padahal, seperti halnya dua Korea itu, kedua orang ini pun bersaudara. Kakak beradik.
Seringkali pemicu pertengkaran mereka sangat sepele. Misal, karena olok-olokan. Namun, ujung-ujungnya selalu dahsyat. Sampai-sampai, salah satu dari mereka harus berakhir di penjara, peh!
Puncak dari kisah ‘perang saudara’ itu ketika Paijo, yang warga Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, geregetan pada ulah keponakannya, anake Minthul. Sebabnya adalah, sepeda motor miliknya rusak setelah digunakan oleh sang keponakan. Padahal kendaraan itu hendak dia pakai bekerja.
Bersungut-sungut Paijo mendatangi rumah adiknya. Tujuannya, mencari sang keponakan. Namun, yang dia dapati adalah Minthul tengah bertelepon ria.
Dasar ati Paijo tengah panas mongah-mongah, dia pun sewot melihat sang adik asyik bertelepon. Olok-olok pun langsung nerocos dari mulutnya.
“Ora awan ora bengi, bel-belan terus. Kupingku wae ora kuat ngrungokne,” sindir Paijo kepada adiknya.
Minthul yang mendengar sindiran kakaknya memilih tak menanggapi. Selesai menelpon dia kemudian pergi ke dapur. Niatnya mencuci piring kotor yang bergeletakan. Nah, Paijo yang masih mangkel ati ngetotne ke dapur. Repotnya, tak sekadar mengikuti, lelaki ini juga terus mengomel pada sang adik.
Merasa kesal, Minthul pun membalas dengan ledekan. “Aja cedak-cedak, ambumu ngalah-ngalahi wedhus,” ejek Minthul sambil terus mencuci piring.
Mendapat hinaan seperti itu, darah Paijo langsung mendidih. Naik hingga ke ubun-ubun. Amarahnya tak bisa dia tahan lagi. Sontak dia mengambil tatah yang ada di dekatnya. Kemudian diacungkan ke adiknya.
“Kowe ngko tak suduk,” teriak Paijo sambil tangannya mengayun ke arah Minthul.
Di serangan pertama ini Minthul gesit menghindar. Reflek dia segera mengambil sebatang kayu yang ada di dapur. Kemudian memukulkan ke punggung kakaknya. Namun, pukulan itu hanya pelan saja. Meskipun kena tapi tak melukai atau membuat memar.
Toh, meskipun pelan, Paijo kian marah. Lelaki kelahiran 1974 ini kian emosi. Kayu di tangan adiknya langsung direbut. Kemudian dipukulkan ke kepala bagian belakang Minthul. Pukulan telak itu langsung membuat darah mengucur.
Usai melukai sang adik, Paijo seperti tak merasa bersalah. Dia pun ngeloyor pergi. Sebelumnya, dia juga sempat berkoar tak takut ditangkap polisi.
“Undangen kabeh polisi kongkonen mrene. Kongkon nembaki, aku ora wedi,” koar Paijo.
Minthul pun segera minta tolong ke tetangga. Setelah diobati lukanya, dia kemudian menuruti keinginan kakaknya itu. Pergi ke kantor polisi. Melaporkan ulah sang kakak.
Tentu, yang datang ke TKP bukan semua polisi seperti yang dikarepne Paijo. Cukup beberapa orang untuk menangkapnya. Kemudian, menyeret ke pengadilan. Akhirnya, kakak yang tak tahu diri inipun harus meringkuk di penjara. Dasar Paijo, ora tau mikir sebelum melakukan sesuatu, peh! (ara/fud)
Editor : adi nugroho