Mertua minta jatah uang dari menantu? Mungkin, itu sah-sah saja. Tapi bila terus-terusan, tentu jadi persoalan tersendiri. Bisa-bisa, menantu menuding si mertua mata duitan. Trus, pilih bercerai dari anake maratua, peh!
Kisah ini seperti yang terjadi di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Mbok Ndewor dan Sudrun sudah berumah tangga lima tahun lamanya. Dari hubungan ini, lahirlah seorang anak. Sayang, karena penghasilan keluarga ini pas-pasan, mereka masih numpang di rumah orang tua Sudrun.
Dulu, Mbok Ndewor memang bekerja. Yaitu sebelum dia hamil. Nah, ketika mengandung sang anak, perempuan ini pilih berhenti.
“Akhirnya, ekonomi keluarga jadi ngos-ngosan. Apalagi sik urip bareng mertua, masih kudu ngopeni,” ucap Mbok Ndewor sambat.
Maklum, sebagai buruh pabrik, penghasilan Sudrun sangat pas-pasan. Terkuras untuk kebutuhan anak yang masih kecil. Beli susu sampai popok. Nah, jatah belanja bulanan pun selalu kurang.
Ketika anaknya besar, Mbok Ndewor berniat kerja. Balitanya yang masih tiga tahun, rencananya, dititipkan pada mertuanya.
Ide ini awalnya ditentang Sudrun maupun ibunya. Alasannya, anak semata wayangnya tidak ada yang mengurus. Juga, pekerjaan rumah yang selama ini harus diselesaikan Mbok Ndewor.
Tapi, Mbok Ndewor tetap ngotot. Alasannya, kebutuhan hidup sudah tak bisa ditutupi lagi kalau hanya dari gaji Sudrun. “Daripada ngutang terus sana-sini,” ujarnya ngotot.
Akhirnya, Sudrun pun oke-oke saja. Demikian pula dengan si mertua, memilih sikap yang sama. Maka, bekerjalah Mbok Ndewor sebagai penjaga toko. Tentu, dengan gaji yang tak seberapa.
“Tapi masih mending daripada ora kerja blas,” ucapnya.
Problem datang dari sang mertua. Dia minta bagian dari uang gaji Mbok Ndewor. “Ya kangge ongkos kesel ngopeni putu,” dalih si mertua.
Kalau sekali dua kali, mungkin, Mbok Ndewor tak mempermasalahkan. Sayangnya, permintaan uang itu nyaris tiap hari. Akhirnya, jebol lagi keuangan keluarga ini.
“Suwe-suwe ya percuma aku kerja. Lha wong bayaranku mung saithik,” keluh Mbok Ndewor.
Sang istri pun lari ke suaminya. Mengeluhkan sikap mertuanya itu. Seperti apa jawaban Sudrun? “Sing sabar ae, wong awake dewe ya sik nunut,” ujar Sudrun mendinginkan hati istrinya,
Tak puas jawaban sang suami, Mbok Ndewor beberapa kali ‘sambat’ ke mertua. Tapi, sikapnya itu justru ditanggapi berbeda. Akhirnya, keduanya seringkali tukaran. Sampai tidak bertegur sapa segala.
Suasana seperti itu kian membuat Mbok Ndewor jengkel. Apalagi anaknya sering kena omel sang nenek. Dia pun masih dibebani penggawean rumah yang menumpuk sepulang kerja.
“Kayake ora ikhlas ngruwat putune,” keluh Mbok Ndewor.
Sekuat-kuatnya karang, akhirnya terkikis juga oleh ombak. Setabah-tabahnya hati Mbok Ndewor, akhirnya tak kuat lagi menanggung omelan mertuanya. Dia pun memilih minggat. Mengepak pakaian dan membawa sang anak pulang ke rumah orang tuanya sendiri. Cerai pun jadi solusi akhir.
“Mending pisah dan nguripi anak dewean, tinimbang urip kaya sapi perah lan ora tau dihargai,” sungut Mbok Ndewor. (ica/fud)
Editor : adi nugroho