Orang Jawa menyebut istri sebagai garwa. Kependekan dari sigaring nyawa alias belahan jiwa. Artinya, bila suami gembira tentu saja akan ikut merasa suka. Sebaliknya, bila suami sedang susah tentu sang garwa juga merasa demikian. Kemudian bersama-sama berusaha bangkit dari kesusahan itu.
Tapi, ternyata, filosofi itu tak berlaku bagi Mbok Ndewor. Bukannya merasa iba karena sang suami sedang ditimpa kemalangan, dia malah mencak-mencak. Buntutnya, njaluk pegat. Peh, amit-amit jabang bayi….!
Kisah memilukan ini terjadi di keluarga kecil Sudrun, warga Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Pria 28 tahun ini adalah suami Mbok Ndewor. Dari pasangan ini punya satu orang anak yang masih kecil.
Tapi Sudrun saat ini sudah ditinggal pergi oleh Mbok Ndewor, istrinya yang setahun lebih muda. Yang sangat memilukan, Sudrun ditinggal minggat setelah dia ditimpa kemalangan. Di-PHK dari tempat kerjanya, di salah satu pabrik kertas di Mojokerto.
Saat menjadi karyawan di pabrik itu, gaji Sudrun sudah tinggi. Kalau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Mbok Ndewor sudah lebih dari cukup. Sayang, keteledorannya ketika bekerja berujung petaka. Dia dipecat, yang membuat pendapatannya seketika lenyap.
“Waktu itu shift malam. Dini hari ketiduran di ruangan. Nggak tahu kalau mesin pengaduk trouble. Akhirnya ya hancur bahan pembuat kertasnya,” cerita Sudrun berkisah kejadian buruk yang menimpa.
Supervisornya pun marah besar. Sudrun langsung di-PHK. Dia pun pulang ke rumah dengan lemah lunglai. Harapannya di rumah dia bisa berkeluh kesah pada sang istri.
Tapi, tak disangka dan dinyana, Mbok Ndewor justru sama marahnya dengan sang supervisor pabrik. Bukannya memberi semangat agar Sudrun segera bangkit, eh dia malah muring-muring. Menyuruh Sudrun segera mencari kerja yang gajinya sepadan dengan yang lama.
Sudrun sebenarnya segera menuruti kemauan sang istri. Dia juga sadar harus segera bangkit dan mencari kerja. Semuanya untuk menghidupi keluarga.
Tapi apa lacur, mencari kerja di zaman sekarang tak semudah marah-marah. Semua lamaran yang dilayangkan Sudrun ditolak. "Belum ada yang nyantol, hampir tiga bulan menganggur setelah dipecat," kata Sudrun memelas.
Bukannya menemani suaminya yang berada di titik terendah dalah hidup, Mbok Ndewor malah memilih kabur dari rumah. Pulang ke rumah orang tuanya. Alasannya karena tak lagi dinafkahi Sudrun.
“Sebenarnya sek ana tabungan, tapi pancen mulai berkurang,” kata Sudrun.
Sudrun sebenarnya masih sayang pada sang istri. Buktinya dia mencoba membujuk Mbok Ndewor agar mau mbalik lagi nang omah. Sayang, Mbok Ndewor sudah kukuh tak mau balen. Takut jatuh miskin.
Sudrun akhirnya tersinggung juga. Harga dirinya merasa terusik. Dia pun langsung melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama.
Sebenarnya sebagai istri, Mbok Ndewor bertipikal jarang minta-minta. Karena itulah perubahan sikap itu membuat Sudrun merasa heran. “Dulu nggak matre, tapi saat itu memang uang selalu tak berikan ke dia semuanya,” aku Sudrun.
Sudrun pun tak hanya berupaya mencerai sang istri. Tapi dia juga berusaha mendapatkan hak asuh sang anak semata wayangnya. Kebetulan, ketika proses persidangan berjalan dia mendapat panggilan kerja. Meskipun hanya menjadi salesman di distributor cat tembok.
"Yang penting ada kerjaan, tapi tetap saya nggak mau rujuk dengan istri karena saya sudah telanjur sakit hati," pungkasnya. (ica/fud)
Editor : adi nugroho