Niat hati menyenangkan hati sang istri. Semua-semua serba dituruti. Mulai menyediakan asisten rumah tangga hingga memberi keleluasaan untuk bergaul dengan teman-temannya. Tapi siapa kira bila di ujung cerita si istri tersebut nglunjak alias tidak tahu diri. Bisa ditebak bila akhirnya suami istri itu pecah kongsi. Menuju jurang perceraian.
Narasi di atas adalah pembuka dari kisah Sudrun dari Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Cintanya yang sekonyong koder kepada Mbok Ndewor membuat dia sangat memanjakan wanita itu. Terutama di tahun awal perkawinannya, lima tahun silam.
Karena cintanya itu Sudrun tak tega melihat Mbok Ndewor harus berkubang dengan urusan rumah. Dia takut kulit mulus sang istri jadi ternoda. Atau kulit tangannya jadi kasar karena keseringan ngepel lantai. Maka, untuk urusan seperti itu Sudrun sudah menyiapkan orang yang membantu istrinya.
“Untuk urusan beres-beres saja sudah ada yang membantu di rumah,” kata Sudrun, yang bekerja di salah satu BUMN ini.
Awalnya semua terasa baik-baik saja. Keduanya merasakan kenikmatan berkeluarga. Karena tak tersita untuk urusan rumah tangga, keduanya lebih banyak waktu untuk bermesraan. Ibaratnya, semua waktu adalah hanimun bagi pasangan ini.
Sayangnya, Mbok Ndewor seperti lupa daratan. Wanita ini mabok kebebasan. Setiap waktu dia keluar rumah. Tidak dengan Sudrun. Melainkan bersama teman-temannya, klayapan tanpa tujuan. Tak peduli siang atau malam.
Jadilah Mbok Ndewor istri yang tak tahu diri. Tak pernah mau menyentuh urusan rumah tangga. Membuatkan kopi untuk suaminya pun dia menyuruh orang lain. Lebih parah lagi, Mbok Ndewor juga mulai lupa kewajiban hakiki sebagai seorang istri. Dia sering enggan bila diajak ber-hohohihe oleh suaminya.
“Ada saja alasannya, yang capeklah, yang itulah….,” keluh Sudrun.
Titik kulminasi kesabaran Sudrun terjadi ketika mereka sudah punya anak. Tingkah Mbok Ndewor semangkin tak karuan. Tak mau menyentuh anaknya. Semua diserahkan pada baby sitter. Dia memilih mencari kesenangan sendiri di luar rumah.
“Sebenarnya orang tua ngasih masukan, namanya sudah keluarga harus bisa mengurusi semua bareng-bareng. Tapi dia malah tetap dengan gaya hidupnya,” Keluh Sudrun.
Sudrun pun capek dengan sikap istrinya. Dia mengambil sikap tegas. Berpisah dengan Mbok Ndewor. Tapi, anak semata wayangnya dia bawa, dia urusi.
“Biar dia sadar kalau namanya rumah tangga ada tanggung jawab bersama. Bukannya memikirkan kesenangan sendiri,” sungut Sudrun yang mengajukan talak pada istrinya itu di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Kediri. (ica/fud)
Editor : adi nugroho