NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Kabar tentang RV, siswa SMAN 2 (Smada) Nganjuk yang tak naik kelas akhirnya ditindaklanjuti dengan upaya mediasi kemarin. Sayangnya, mediasi yang dihadiri oleh berbagai stake holder bidang pendidikan itu gagal karena RV dan orang tuanya tidak memenuhi undangan sekolah.
Untuk diketahui, sejak Kamis (16/7) lalu beredar kabar tentang adanya siswa kelas X Smada yang tidak naik kelas. Penyebabnya pun simpang siur. Di antaranya dikaitkan dengan tidak adanya kesempatan mengikuti ujian susulan hingga nilainya untuk beberapa pelajaran di penilaian akhir semester nol.
Masalah tersebut lantas diadukan orang tua RV ke Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Dikonfirmasi koran ini, FSGI Heru Purnomo menjelaskan, RV mendapat nilai nol di lima mata pelajaran dalam penilaian akhir tahun (PAT). Yaitu, agama, pendidikan jasmani, seni budaya, sejarah Indonesia, dan informatika. “Idealnya siswa diberi ujian susulan untuk perbaikan,” ujar Heru sembari menyebut sikap sekolah bertentangan dengan Permendikbud No. 23/2016 tentang standar nilai.
Setelah mendapat laporan tersebut, Heru mengaku berupaya untuk melakukan mediasi dengan sekolah. Tetapi gagal. “Sudah diberi waktu satu minggu tapi tidak ada tanggapan,” lanjut Heru.
Dengan hasil itu, FSGI memilih melaporkan kejadian tersebut ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Irjend Kemendikbud RI. “Pada dasarnya kalau bisa dimediasi, kita akan mediasi. Semua yang terbaik bagi anak dan guru-guru,” tutur pria yang berada di Jakarta ini.
Saat koran ini berusaha mendatangi rumah RV di Kelurahan Kramat, Kota Nganjuk kemarin siang, rumahnya dalam kondisi kosong. Salah satu tetangganya mengatakan jika pemuda tersebut dan orang tuanya sedang keluar. “Tidak ada. Kosong,” ujar perempuan paruh baya kepada koran ini.
Terpisah, Kepala SMAN 2 Nganjuk Rita Amalisa membantah sejumlah informasi yang ramai di pemberitaan sejak Kamis lalu. Menurutnya, penilaian kepada siswa melalui proses panjang. Bukan hanya pada penilaian akhir tahun saja. “Ada penilaian perilaku anak dan karakter anak yang kurang pas,” ungkapnya.
Dia mencontohkan, pada hari pertama ujian, RV tidak masuk di tiga mata pelajaran. Saat itu, menurut Rita sudah ada guru yang melakukan kunjungan rumah. “Anaknya tidak ada di rumah,” ungkap Rita tentang PAT yang berlangsung dalam kondisi pandemi itu.
Padahal, menurut Rita sekolah sudah membuat surat edaran bahwa orang tua wajib menjaga anaknya saat belajar di rumah. “Guru ke rumah untuk berkunjung dan tidak bisa bertemu,” lanjutnya.
Rita juga menepis kabar jika RV tidak ikut ujian lantaran laptop rusak. Dia menyebutkan, siswa tersebut sempat log in tetapi tidak ada yang dikerjakan. “Saya juga tidak pernah melarang untuk ikut ujian susulan,” terang Rita.
Hanya saja, untuk bisa mengikuti ujian susulan harus ada keterangan yang jelas. Misalnya, sakit atau kena musibah. “Selama ini tidak pernah ada keterangan. Bahkan ketika dikunjungi ke rumahnya juga tidak ada,” tegasnya.
Tidak hanya itu, menurut Rita tugas yang diberikan sekolah dalam waktu satu bulan juga tidak diselesaikan. “Dikunjungi dan dipanggil sampai empat kali tidak ada hasil,” imbuh Rita sembari menyebut hal itu sudah dilaporkan kepada Kepala Cabdisdik Provinsi Jatim Wilayah Nganjuk Edy Sukarno.
Dari proses panjang itu, sekolah lantas menggelar rapat pleno yang dihadiri dewan guru. Hasilnya, RV harus mengulang di kelas X jika masih ingin belajar di SMAN 2 Nganjuk. “Kami sudah koordinasi dengan orang tua dan anaknya. Waktu itu ada permohonana pindah naik. Kami fasilitasi kalau itu yang dimau,” bebernya.
Sementara itu, mediasi di Smada Nganjuk kemarin sedianya dihadiri oleh beberapa pihak. Selain Kacabdisdik Edy Sukarno, ada pula Komnas Pendidikan, hingga fasilitator nasional sekolah ramah anak. Sayangnya, mediasi tersebut batal karena orang tua dan siswa tidak hadir.
Meski upaya mediasi kemarin gagal, Edy Sukarno meminta pihak sekolah dan orang tua siswa tetap melakukan mediasi agar ditemukan jalan keluar. “Yang terpenting adalah anak tidak putus sekolah,” pintanya.
Editor : adi nugroho