Wabah Covid-19 tak hanya memunculkan ketakutan terjangkit virus tersebut. Masyarakat juga ‘diteror’ rasa tidak aman seiring banyaknya kasus kriminal di sekitar mereka. Upaya jaga diri pun digalakkan.
Kamis, 30 April tengah malam. Warga Desa Sambiresik, Kecamatan Gampengrejo berkumpul di depan markas polisi sektor (mapolsek) setempat. Mereka bukan berdemo. Melainkan menunggui proses pemeriksaan seorang pencuri yang tertangkap basah. Pencuri itu warga desa setempat. Barang yang dicuri, meskipun akhirnya gagal, termasuk sepele. Yaitu tabung elpiji.
Namun warga punya perhatian ekstra pada kasus pencurian kecil tersebut. Penyebabnya, kejadian serupa telah berulang kali terjadi.
“Seminggu ini sudah empat kali ada warga kehilangan. Barang yang dicuri macam-macam, beras juga (pernah),” ucap seorang warga desa yang enggan menyebutkan namanya.
Kasus pencurian dengan sasaran barang rumah tangga seperti itu tak hanya terjadi di Sambiresik. Di Desa Sidorejo, Kecamatan Pare, juga terjadi Minggu (3/5). Pelakunya warga Desa Dawuhan, Kecamatan Papar. Sang pelaku menggasak tabung elpiji dari salah satu toko di Jalan MT Haryono.
Sang pemilik toko sempat mengejar pencuri yang kabur. Akhirnya, si pencuri tertangkap setelah sebelumnya motornya tergelincir saat hendak berbelok. “Pelaku membawa dua tabung gas,” ujar Kapolsek Pare Iptu I Nyoman Sugita membenarkan.
Pencurian peralatan rumah tangga memang marak terjadi saat pandemi korona saat ini. Tapi itu bukan kejahatan yang mendominasi. Beberapa kejahatan lain juga terjadi. Seperti penjambretan, pencurian kendaraan bermotor, serta begal.
Sepanjang Mei ini Polres Kediri sudah menangkap empat pelaku pencurian dengan pemberatan. Ironisnya, beberapa di antaranya merupakan penjahat kambuhan alias residivis.
Sebut saja pencurian dengan pemberatan yang dilakukan Feri Ananto, warga Desa Bedali, Kecamatan Ngancar. Dia adalah residivis yang keluar penjara pada 2015. Dia tertangkap lagi setelah mencuri motor milik warga Desa Purwodadi, Kecamatan Ringinrejo. Yang bikin tercengang, pelaku yang akhirnya ditembak polisi tersebut mengaku selama sebulan kemarin telah melakukan pencurian sebanyak lima kali!
“Tiga kali di Ringinrejo dua kali di Ngancar,” sebut Kasatreskrim Polres Kediri AKP Gilang Akbar.
Feri tak bekerja sendiri. Dia juga melibatkan Dudun sebaga penadah. Keduanya berhasil ditangkap setelah petugas berpura-pura hendak membeli hasil jarahan.
Selain disibukkan dengan aksi residivis asal Kediri, polisi juga sempat disibukkan penjahat luar kota. Jumat (24/4) polisi menangkap Kusrianto. Warga Ponggok, Kabupaten Blitar itu mencuri motor. Dia akhirnya juga ditembak polisi.
Situasi seperti itu yang membuat warga menjadi cemas. Konsentrasi mereka pun kini terbelah. Antara mengantisipasi wabah korona dengan menjaga wilayahnya dari aksi para pencoleng.
Hampir semua desa di Kabupaten Kediri menggelar jaga malam. Kegiatan yang dulu dikenal dengan sistem keamanan lingkungan (siskamling) itu kembali marak di sudut-sudut wilayah kabupaten. Seperti di Desa Pelem, Kecamatan Pare. Di desa ini warga mengubah pos yang tadinya untuk Covid-19 menjadi pengaman terkait tindak kriminal.
“Sudah sejak 4 Mei,” terang Kepala Desa (Kades) Pelem Ali Sulthon.
Menurut Ali, warganya berjaga mulai pukul 20.00 hingga menjelang subuh, sekitar pukul 04.00. Yang bertugas diatur bergiliran dengan pos jaga ada di setiap rukun tetangga (RT).
“yang berjaga lebih dari 5 orang. Itu untuk keamanan dan untuk Covid-19. Alhamdulillah tidak ada pencurian dan kriminalitas di desa kami,” aku Ali.
Situasi serupa juga ada di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare. Pos yang tadinya untuk Covid-19 berganti fungsi untuk pos pengamanan. “Warga sudah tergerak sendiri untuk mengadakan pos penjagaan. Penjagaan juga dari tiap RT. Untuk mencegah misalnya ada pencurian dan lain sebagainya. Tapi tujuan utama untuk Covid-19,” kata Kades Tulungrejo Kasan.
Di desa lain di wilayah Kabupaten Kediri, yang masuk wilayah hukum Polres Kediri Kota, juga melakukan hal serupa. Seperti di Desa Bulu, Kecamatan Semen. Warga berinisiatif melakukan pemortalan di akses masuk ke desa mereka. Pemasangan portal itu sejak 25 April lalu.
“Tujuannya salah satunya untuk pencegajan masalah Covid-19 dan juga kami jangan sampai terlena dengan masalah kriminalitas,” aku Kades Bulu Sya’roni.
Sya’roni juga menambahkan pemortalan tersebut juga menindaklanjuti keresahan warga terkait eskalasi kriminalitas di beberapa tempat. “Agar masyarakat menjadi aman dan juga tenteram. Pemortalan dilakukan mulai pukul 22.00 WIB sampai 04.00 WIB,” ujarnya.
Wilayah Desa Bulu yang berbatasan dengan Kota Kediri membuat kerawanan pencurian tergolong tinggi. Karena itulah peningkatan keamananan menjadi hal yang diperhatikan.
“Untuk pemortalan swadaya dari masing-masing dusun. Saat ini sistem keamanan keliling (siskamling, Red) jua mulai digalakkan kembali,” imbuhnya.
Semua elemen di desa ini terlibat dalam penjagaan keamanan. Terutama pemudanya yang tergabung dalam karang taruna. “Kami juga ikut andil dalam mengamankan desa,” sambung Ketua Karang Taruna Desa Bulu Muhib.
Pemortalan serupa juga bisa ditemui ditemui di Desa Mlati, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Sama dengan Desa Bulu, pemortalan tersebut memang untuk mengantisipasi tindakan kriminalitas yang semakin marak. “Kalau di sini sejak pukul 21.00 WIB sudah dilakukan penutupan portal sampai pukul 04.00 WIB,” ujar Yanto, salah seorang warga.
Editor : adi nugroho