KEDIRI KABUPATEN – Kasus bunuh diri cukup banyak terjadi di Kabupaten Kediri. Setidaknya hingga enam bulan terakhir –Januari-Juni 2018– tercatat sebanyak 17 kasus. Jumlah itu sudah lebih dari separo dibanding tahun lalu.
Pada 2017 terjadi 27 kasus. Pelakunya mengakhiri hidupnya dengan dua cara. Yakni sebanyak 26 orang gantung diri dan satu nekat minum racun. Motifnya kebanyakan karena depresi. Punya penyakit menahun tak kunjung sembuh. Rata-rata pelakunya berusia 30 tahun ke atas.
Seperti yang terjadi selama April 2018 silam. Selama sebulan itu terdapat tiga orang bunuh diri. Di awal bulan tersebut, pada 1 April ada pria 35 tahun bunuh diri di Dusun Kaliketar, Desa Jajar, Kecamatan Wates. Dia ditemukan tergantung di kandang kambing.
Lalu pada 19 April, pria 57 tahun tewas gantung diri di Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih. Polisi menemukan barang bukti tali dan surat wasiat di sebelah korban.
Lima hari kemudian, pada 24 April terjadi lagi kasus sama di Dusun/Desa Paron, Kecamatan Ngasem. Pria 37 tahun ditemukan oleh istrinya tergantung di langit-langit gudang rumahnya. Hasil penyelidikan polisi menyebut, korban nekat bunuh diri karena tidak tahan menahan sakit menahun yang dideritanya.
“Korban stres karena merasakan nyeri di bagian luka bekas operasi,” jelas Kasihumas Polsek Gampengrejo Aiptu Suprayitno.
Yang memprihatinkan, kejadian bunuh diri kembali terjadi pada bulan Ramadan. Tepatnya, 19 Mei silam, seorang pemuda 33 tahun ditemukan meninggal gantung diri di Jl Lawu, Pare.
Bahkan, setelah hari raya Idul Fitri, pada 19 Juni seorang pria 39 tahun asal Dusun Tlanak, Desa Ngampel, Kecamatan Papar ditemukan tergantung di pohon trembesi. Kabarnya, ia nekat akibat tekanan batin.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kediri Sugeng Waluyo mengatakan, pihaknya berupaya mengantisipasi agar kejadian tersebut tak terulang. Di antaranya dengan melakukan penyuluhan dan sosialisasi. “Karena fenomena bunuh diri ini masih banyak, sehingga kami melakukan sosialisasi bersama lembaga konsultasi dan keluarga,” jelasnya.
Editor : adi nugroho