KEDIRI KABUPATEN – Proses evakuasi tujuh pendaki yang tersesat di Gunung Kelud akhirnya tuntas pagi hari kemarin. Tim evakuasi, yang terdiri dari anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, polisi, TNI, dan warga Kecamatan Ngancar, sempat terkendala sulitnya medan. Untungnya, upaya penyelematan itu bisa berlangsung sukses.
Sebenarnya, ada sembilan orang yang melakukan pendakian sejak Senin (6/11). Mereka mendaki Gunung Kelud dari jalur Kabupaten Blitar. Tepatnya dari wilayah Kecamatan Gandusari. Namun, dua di antaranya sudah tak kuat melanjutkan ketika masih berada di wilayah Blitar. Sedangkan yang tujuh terus nekat walaupun saat itu cuaca sedang hujan.
Para pendaki itu berasal dari Blitar, Mojokerto, Lamongan, Tuban, dan Sidoarjo. Yang berasal dari Blitar adalah Arik, 24, dan Hari, 28. Empat orang dari Mojokerto adalah Santi, 21, Nani, 20, Ani, 23, dan Raka, 25. Kemudian yang berasal dari Lamongan bernama Niswa, 22, dari Tuban bernama Agus, 25, serta Tristiawan, 22, asal Sidoarjo. Heri dan Santi adalah dua pendaki yang akhirnya tak meneruskan pendakian itu.
Evakuasi kemarin dipimpin langsung oleh Plt Kepala BPBD Kabupaten Kediri Randi Agata Sakaira. Menurut Rendy, mereka tahu kabar itu sekitar pukul 20.00. “Kami langsung gerakkan personil,” terangnya.
Cuaca dingin dan medan yang curam adalah kendala utama tim pencari. Setelah semua anggota berkumpul dan peralatan sudah siap, mereka memutuskan memulai pencarian dari jalur Ngancar. Berpusat di sekitar kawah Gunung Kelud.
“Kami susur menuju Gunung Sumbing ke arah Selatan. Karena perkiraan kami mereka tersesat di daerah tersebut,” terang Randi.
Tak mudah bagi tim pencari menemukan para pendaki yang tersesat. Mereka harus berjalan sejauh 4 kilometer dari puncak Gunung Sumbing. Berjam-jam mereka harus melintasi jalur curam dan rawan longsor. Sebelum akhirnya menemukan tujuh pendaki.
Keberhasilan menemukan lokasi tersesatnya para pendaki juga karena upaya para pendaki mencari pertolongan. Para pendaki itu menyalakan lampu senter mereka. Nyala lampu di tengah kegelapan hutan itulah yang jadi penunjuk bagi tim evakuasi.
“Saat kami temukan mereka dalam kondisi yang sangat lemah,” terangnya.
Bisa menemukan para pendaki bukan berarti pekerjaan selesai. Justru, bagian tersulit adalah proses evakuasi. Upaya menurunkan para pendaki itu harus dilakukan dengan tenaga ekstra. Penyebabnya, selain dinginnya udara, juga kondisi tubuh para pendaki yang lemah.
Ketujuh pendaki itu sudah tak kuat lagi berjalan. Akhirnya, tim evakuasi yang berjumlah sekitar 30-an orang itu pun harus menggendong secara bergantian. Membawanya ke titik awal evakuasi, di utara Gunung Sumbing.
“Ini yang membuat lama. Selain mereka tidak kuat jalan kami kembali ke titik awal juga melalui medan yang cukup sulit. Hingga pukul 05.00 kami berhasil selamatkan mereka,” terang pria kekar ini.
Setiba di titik awal evakuasi, korban langsung dilarikan ke Puskesmas Ngancar. Puskesmas itu adalah yang terdekat dari lokasi. Tiga orang pendaki harus menjalani penanganan intensif terlebih dulu. Kondisi tiga orang itu sangat lemah. Petugas medis sampai harus memberi alat bantu pernafasan.
“Sedangkan empat lainnya setelah dievakuasi langsung dibawa ke Blitar oleh tim BPBD Kabupaten Blitar,” jelas Randi.
Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kediri Krisna Setiawan mengatakan mereka langsung bereaksi cepat setelah mendapat informasi hilangnya tujuh pendaki. Pemkab Kediri langsung menerjunkan semua pihak yang bisa menjadi tim penyelamat. Mulai dari BPBD Kabupaten Kediri, Polsek Ngancar, Koramil Ngancar, warga Ngancar, dan tenaga medis dari Puskesmas Ngancar dan Wates.
“Kami langsung fokus penyelamatan (korban),” tegas Krisna.
Demikian pula penanganan setelah berhasil menemukan para pendaki. Pihaknya langsung memberikan pertolongan medis secepatnya. Khususnya yang kondisinya drop. Setelah itu Pemkab Kediri menyerahkan ke BPBD Kabupaten Blitar. Penyerahan langsung dipimpin oleh Wakil Bupati Kediri Masykuri Ikhsan.
Menurut Krisna, para pendaki itu tak mengajukan izin kepada pihak Pemkab Kediri. Karena mereka berusaha mendaki Kelud dari jalur Blitar. “Kami hanya fokus pada penyelamatan. Terkait mereka mengajukan izin atau tidak untuk melakukan pendakian, kami tak tahu. Karena mereka masuk dari jalur Kabupaten Blitar. Kalau mereka mengajukan izin kepada kami tentu akan ditolak. Karena Pemkab Kediri melarang pendakian,” jelas Krisna.
SELENGKAPNYA...Baca di koran Jawa Pos Radar Kediri, pagi ini.. Ada cerita tentang "teriakan dan tangisan di telepon ketika itu"...
Editor : adi nugroho