Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ular Picung, Berbisa Tinggi yang Mematikan Sekaligus Beracun

Nakula Agi Sada • Minggu, 19 Juli 2026 | 10:01 WIB
Ular picung, Berbisa Tinggi dan Beracun
Ular picung, Berbisa Tinggi dan Beracun

 

Pernahkah Anda melihat ular dengan warna merah menyala di bagian lehernya saat sedang membersihkan pekarangan atau berjalan di dekat sawah? Jika iya, Anda mungkin baru saja berpapasan dengan ular picung. Reptil yang memiliki nama ilmiah Rhabdophis subminiatus ini memang sering ditemukan di sekitar kita, terutama di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Namun, di balik penampilannya yang memukau, ular ini menyimpan sebuah rahasia pertahanan diri yang luar biasa mematikan.

Secara fisik, ular picung terbilang cukup mudah dikenali berkat ciri khasnya yang menonjol. Sesuai dengan julukan bahasa Inggrisnya, red-necked keelback, ular ini memiliki corak kemerahan atau oranye terang di bagian tengkuknya. Warna ini akan semakin jelas terlihat saat ular masih berada di usia muda atau saat ia merasa terancam dan berusaha mengembangkan area lehernya untuk menakut-nakuti musuh. Sementara itu, warna dominan tubuhnya berkisar antara hijau zaitun hingga kecokelatan dengan motif kotak-kotak gelap.

Tahukah Anda bahwa selama bertahun-tahun ular picung sempat diremehkan dan dianggap tidak berbahaya bagi manusia? Ya, di masa lalu, ular ini digolongkan sebagai satwa yang jinak atau tidak berbisa kuat. Banyak penggemar reptil bahkan memeliharanya di rumah tanpa rasa khawatir sedikit pun. Sayangnya, anggapan tersebut ternyata keliru besar dan telah menelan beberapa korban jiwa sebelum akhirnya para ilmuwan menyadari betapa berbahayanya gigitan satwa yang satu ini.

Baca Juga: Ramalan Shio Ular Pekan Ini: Keuangan dan Asmara Moncer, tapi Awas "Mriyang" Pancaroba!

Fakta mengerikan pertama dari ular picung adalah statusnya yang sangat berbisa (venomous). Ular ini memiliki taring bisa yang terletak di bagian belakang rahang atasnya, atau yang sering disebut sebagai rear-fanged. Meski tidak seperti ular kobra yang taringnya ada di depan, gigitan ular picung mampu menyuntikkan bisa hemotoksin yang sangat kuat. Karena posisi taringnya di belakang, ia biasanya perlu mengunyah korbannya beberapa kali agar bisanya benar-benar masuk menembus aliran darah.

Efek dari bisa hemotoksin ini sama sekali tidak boleh dianggap remeh karena sifatnya yang merusak sel darah merah dan sistem pembekuan darah. Jika seseorang tergigit dan bisanya berhasil masuk, korban dapat mengalami pendarahan internal yang parah, baik itu dari gusi, hidung, maupun pendarahan di organ dalam. Lebih parahnya lagi, gigitan ular picung bisa memicu gagal ginjal akut yang berujung pada kematian jika korban tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Keunikan ular picung tidak berhenti sampai di situ saja, karena satwa cantik ini juga memiliki status sebagai hewan yang beracun (poisonous). Perlu kita pahami bersama bahwa berbisa dan beracun adalah dua hal yang sangat berbeda di dunia biologi. Berbisa berarti racun disuntikkan secara aktif melalui gigitan atau sengatan, sedangkan beracun berarti hewan tersebut mengandung zat berbahaya di dalam tubuhnya yang akan bereaksi jika disentuh, dimakan, atau digigit oleh pemangsanya.

Baca Juga: Sanca Batu Afrika, Ular Terbesar di Afrika yang Galak dan Bukan untuk Diremehkan

Sebagai hewan yang beracun, ular picung dilengkapi dengan kelenjar khusus di bagian tengkuknya yang disebut kelenjar nukal (nuchal glands). Kelenjar inilah yang menjadi tempat penyimpanan cairan racun mematikan. Saat ada predator berukuran besar seperti burung elang atau mamalia karnivora yang mencoba menerkam dan menggigit lehernya, kelenjar ini akan pecah lalu menyemprotkan cairan beracun ke mulut pemangsa, membuat mereka iritasi hebat dan segera memuntahkan ular ini.

Menariknya lagi, ular picung ternyata tidak memproduksi racun di tengkuknya itu sendiri. Mereka justru mendaur ulang racun tersebut dari makanan utama mereka, yaitu jenis-jenis kodok beracun. Sistem pencernaan ular picung beradaptasi dengan sangat canggih sehingga mampu menyerap racun dari kodok yang dimakannya tanpa keracunan sedikit pun. Mereka lalu memindahkan dan menyimpan zat mematikan tersebut di kelenjar lehernya sebagai senjata pertahanan diri tingkat tinggi.

Berbicara soal habitat, ular picung sangat menyukai lingkungan yang lembap, asri, dan dekat dengan sumber air tawar. Anda akan cukup sering menjumpai mereka beraktivitas di area persawahan, pinggiran sungai, rawa-rawa, hingga kolam-kolam pancing di sekitar permukiman warga. Mereka adalah kelompok satwa diurnal, yang berarti ular-ular ini aktif berburu mangsa seperti kodok, katak, dan ikan-ikan kecil pada siang hari saat matahari sedang bersinar hangat.

Karena preferensi habitatnya yang sering beririsan dengan aktivitas manusia sehari-hari, konflik antara ular picung dan warga menjadi rentan terjadi. Para petani di sawah atau anak-anak yang bermain di dekat saluran air sering kali tidak sengaja menginjak atau mengagetkan ular ini. Oleh karena itu, penting sekali bagi masyarakat luas untuk mengenali ciri-ciri fisiknya agar bisa menjaga jarak aman ketika tidak sengaja berpapasan di lingkungan sekitar rumah.

Lantas, apa yang harus dilakukan jika hal buruk terjadi dan ada seseorang yang tergigit? Langkah paling utama adalah jangan panik dan usahakan tubuh korban seminimal mungkin bergerak agar bisa tidak cepat menyebar melalui pembuluh darah. Jangan pernah menyedot luka, mengikatnya dengan ketat menggunakan tali, atau mengandalkan pengobatan tradisional. Segeralah bawa korban ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif, mengingat antibisa khusus untuk ular ini sangat langka di Indonesia.

Baca Juga: Damkar Kabupaten Kediri Amankan Ular di Rumah Warga Ngadiluwih

Kesimpulannya, ular picung adalah salah satu contoh nyata betapa menakjubkannya sekaligus berbahayanya satwa liar yang hidup berdampingan dengan kita. Memiliki predikat sangat langka sebagai hewan yang berbisa dan beracun sekaligus membuat ular berleher merah ini patut diwaspadai dan dihormati. Dengan memahami fakta-fakta penting mengenai ular picung, kita bisa melindungi diri sendiri dan keluarga dengan lebih baik, sekaligus membiarkan satwa liar ini hidup tenang di habitat aslinya.

Editor : Mahfud
picung berbisa ular reptil tinggi