Kalau kamu suka dunia perburungan. Juga senang mencari tahu tentang burung-burung yang tak pasaran. Maka, baiknya kenalan dulu dengan Calandra Lark.
Meski namanya masih asing di telinga banyak orang, burung satu ini punya suara yang bikin melongo dan gaya hidup yang unik. Dia bukan cuma burung sembarangan tapi salah satu pengicau terbaik dari padang rumput Eurasia.
Burung Calandra Lark punya nama latin Melanocorypha calandra. Namanya terdengar agak nyastra. Kalau dibedah maknanya kurang lebih "mahkota hitam yang bersinar".
Cukup puitis, ya? Cocok dengan penampilannya yang punya dua bercak hitam mencolok di bagian leher. Mirip kalung kecil.
Secara umum, burung ini hidup di wilayah terbuka. Seperti stepa, padang rumput, dan lahan pertanian di Eropa Selatan sampai Asia Barat.
Mereka tak suka hutan lebat atau daerah penuh pohon tinggi. Pokoknya tempat yang lapang dan luas jadi habitat favorit mereka.
Ukuran tubuh Calandra Lark terbilang besar untuk jenis burung lark lainnya. Panjang tubuhnya bisa mencapai 20 cm, dan sayapnya lumayan lebar. Warna bulunya cokelat pucat dengan bercak-bercak gelap, membuatnya mudah menyatu dengan tanah saat diam di rerumputan.
Nah, yang bikin burung ini istimewa bukan cuma tampilannya, tapi juga suaranya. Calandra Lark punya kicauan merdu dan kuat. Mereka sering nyanyi sambil terbang tinggi—gaya yang disebut "display flight". Gaya ini dilakukan pejantan untuk menarik perhatian betina.
Suara burung ini tak monoton. Justru sebaliknya, mereka punya variasi nada yang kompleks. Bahkan, Calandra Lark juga dikenal bisa menirukan suara burung lain! Jadi kalau kamu dengar kicauan aneh dari langit, bisa jadi itu bukan burung langka, tapi si Calandra lagi pamer suara.
Kalau kamu tanya burung ini pemalu atau enggak, jawabannya: tergantung musim. Saat musim kawin, si jantan tampil percaya diri sekali. Tapi di luar musim kawin, mereka lebih suka jalan-jalan di tanah sambil makan biji-bijian dan serangga kecil.
Calandra Lark lebih sering terlihat di tanah ketimbang di pohon. Mereka jalan-jalan santai di rerumputan, cari makan sambil sesekali nyanyi pelan. Meskipun bisa terbang tinggi, gaya hidup mereka cenderung sederhana dan nggak neko-neko.
Bicara soal makan, makanan favorit burung ini adalah biji-bijian. Tapi saat musim kawin tiba, mereka juga berburu serangga kecil untuk tambahan gizi. Anak-anak burung yang baru menetas juga dikasih serangga biar tumbuh cepat dan sehat.
Sarangnya dibangun di atas tanah, tersembunyi di balik rerumputan. Telurnya berjumlah antara 3 sampai 5 butir, dengan warna yang cukup samar. Induk betina akan mengerami selama kurang lebih dua minggu sebelum anak-anaknya menetas.
Meski burung ini terlihat tangguh, nyatanya mereka juga punya tantangan besar. Perubahan habitat, penggunaan pestisida berlebihan, dan alih fungsi lahan jadi ancaman utama buat populasi Calandra Lark di alam liar.
Untungnya, sampai sekarang status konservasi burung ini masih tergolong aman alias "Least Concern" menurut IUCN. Tapi bukan berarti kita bisa cuek. Tetap penting menjaga habitat alaminya supaya si jago kicau ini tetap bisa eksis.
Buat para pengamat burung alias birdwatcher, Calandra Lark termasuk dalam wishlist yang wajib dilihat. Suaranya yang unik dan gaya terbangnya yang dramatis bikin pengalaman mengamatinya jadi nggak terlupakan.
Kalau dibandingkan sama burung lark lain seperti Skylark atau Woodlark, Calandra Lark lebih besar dan lebih lantang. Mereka juga lebih ekspresif saat tampil di udara. Jadi bisa dibilang, dia itu versi “performer” di dunia lark.
Meski suaranya luar biasa, burung ini nggak cocok dipelihara. Mereka butuh ruang terbuka luas, bukan sangkar. Lagipula, di beberapa negara burung ini masuk dalam kategori dilindungi, jadi lebih baik biarkan mereka bebas di alam.(*)
Editor : Mahfud