JP Radar Kediri - Film horor Indonesia Suanggi: Ilmu Kutukan dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada 10 September 2026. Film ini membawa kisah teror supranatural yang dipadukan dengan drama keluarga, konflik masa lalu, serta unsur budaya dari Indonesia Timur.
Cerita berpusat pada Beni, yang diperankan Pangeran Lantang. Setelah 13 tahun meninggalkan kampung halamannya, Beni kembali ke Pulau Kladum bersama kekasihnya, Gia, yang diperankan Carissa Perusset.
Baca Juga: Kembali dari Wajib Militer, Kim Jae-hwan Siap Gelar Konser Solo di Seoul
Kepulangan mereka awalnya disebut untuk menjenguk Mama Lin, ibu angkat Beni yang tengah sakit keras. Namun, Beni sebenarnya memiliki tujuan lain karena sedang menghadapi utang hingga ratusan juta rupiah.
Kepulangan Beni Membuka Rahasia Lama
Beni berniat mencari harta tersembunyi milik keluarganya untuk menyelesaikan persoalan utang yang dihadapinya. Namun, keputusannya kembali ke kampung halaman justru membawa dirinya pada rahasia kelam yang selama ini terkubur.
Situasi semakin menegangkan ketika Beni mulai menghadapi teror kekuatan gaib yang dikirim oleh Aroba, sosok Suanggi yang diperankan Iwa K. Ancaman tersebut kemudian berkembang hingga melibatkan keluarga Mama Lin dan warga Pulau Kladum.
Baca Juga: Sinopsis Terikat Janji Episode 148, Davina Terancam, Aksi Heroik Sena Bikin Jantungan
Baca Juga: Spoiler atau Sekadar Bahas Cerita, Di Mana Batasnya?
Teror juga hadir melalui serangan lalat mematikan yang mengancam orang-orang di sekitar Beni. Di tengah keadaan tersebut, ia harus menghadapi kutukan sekaligus masa lalu yang sebelumnya berusaha ditinggalkan.
Padukan Horor dan Budaya Indonesia Timur
Suanggi: Ilmu Kutukan tidak hanya membawa unsur horor, tetapi juga memadukannya dengan drama keluarga dan konflik yang berkaitan dengan masa lalu karakter. Latar serta unsur budaya Indonesia Timur turut menjadi bagian dari pendekatan cerita film tersebut.
Film ini merupakan produksi Mutiara Films dan Subtube Studio. Penyutradaraannya dipercayakan kepada Dom Dharmo, sedangkan naskahnya ditulis oleh Baskoro Adi Wuryanto.
Editor : Shinta Nurma AbabilSumber : Jawa Pos