Second Lead Syndrome, Kenapa Penonton Justru Bisa Lebih Memihak Tokoh Kedua?

Mifta dwi saifin nisa • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:25 WIB

 

Ilustrasi cinta segitiga dalam cerita, ketika salah satu tokoh harus menghadapi perasaan yang tidak terbalas dan tidak menjadi pilihan utama. Foto:freepik
Ilustrasi cinta segitiga dalam cerita, ketika salah satu tokoh harus menghadapi perasaan yang tidak terbalas dan tidak menjadi pilihan utama. Foto:freepik

JP Radar Kediri - Tokoh utama biasanya menjadi pusat perhatian dalam sebuah film atau serial. Namun, tidak sedikit penonton yang justru lebih menyukai karakter kedua dibandingkan tokoh yang akhirnya menjadi pasangan utama.

Fenomena tersebut sering disebut sebagai second lead syndrome. Istilah ini digunakan ketika penonton merasa lebih tertarik, bersimpati, atau berharap tokoh kedua mendapatkan akhir yang lebih bahagia dibandingkan karakter utama.

Second lead syndrome cukup sering muncul dalam drama Korea, anime, maupun serial yang menggunakan cerita cinta segitiga. Tokoh kedua biasanya memiliki hubungan dekat dengan karakter utama, tetapi tidak menjadi pilihan pada akhir cerita.

Baca Juga: RSUD SLG dan Puskesmas Grogol Jadi Rujukan CJH Embarkasi Dhoho Kediri, Begini Penjelasannya

Salah satu alasan tokoh kedua mudah mendapat simpati adalah cara karakter tersebut dibangun. Mereka sering digambarkan sebagai sosok yang perhatian, mendukung, atau selalu hadir ketika tokoh utama mengalami kesulitan.

Karakter kedua juga terkadang memiliki perjalanan yang lebih emosional. Perasaan yang tidak terbalas, kesempatan yang datang terlambat, atau keputusan untuk tetap membantu meski mengetahui dirinya tidak dipilih dapat membuat penonton merasa lebih dekat dengan karakter tersebut.

Baca Juga: Kabar Duka! Ibunda Deddy Corbuzier Meninggal Dunia

Baca Juga: Minta Persikmania Ramaikan Stadion, Dukungan Suporter Bikin Macan Putih Tambah Kuat Lagi

Di sisi lain, karakter utama biasanya memiliki porsi cerita yang lebih besar. Konflik, kekurangan, dan berbagai keputusan mereka ditampilkan secara lebih lengkap sehingga penonton juga lebih sering melihat sisi yang tidak sempurna.

Hal tersebut dapat membuat tokoh kedua terlihat lebih menarik karena kemunculannya lebih terbatas. Penonton sering kali hanya melihat sisi tertentu dari karakter tersebut, sehingga kesan positifnya dapat terasa lebih kuat.

Chemistry antar karakter juga menjadi faktor penting. Jika interaksi tokoh kedua dengan karakter utama terasa lebih natural atau menghibur, penonton dapat mulai berharap hubungan tersebut berkembang lebih jauh.

Respons penonton terhadap sebuah karakter tidak selalu sama dengan arah cerita yang telah disiapkan penulis. Karena itu, tidak jarang muncul perdebatan di media sosial mengenai pasangan mana yang dianggap lebih cocok atau karakter mana yang seharusnya dipilih.

Second lead syndrome juga menunjukkan bagaimana penonton dapat membangun keterikatan emosional dengan karakter fiksi. Pilihan, konflik, dan perkembangan karakter dapat membuat penonton ikut merasa kecewa maupun senang terhadap perjalanan mereka.

Baca Juga: Cek Desil Terbaru di cekbansos.kemensos.go.id Untuk Lihat Penerima Bansos September 2026

Meski demikian, popularitas tokoh kedua tidak selalu berarti penulisan tokoh utama gagal. Dalam beberapa cerita, karakter kedua memang dirancang untuk memberikan pilihan lain, memperkuat konflik, atau menunjukkan sisi berbeda dari hubungan antarkarakter.

Fenomena ini pada akhirnya menjadi salah satu bagian menarik dari pengalaman menonton. Tokoh yang awalnya hanya berada di posisi kedua bisa saja menjadi karakter yang paling diingat bahkan setelah cerita berakhir.

Second lead syndrome menunjukkan bahwa posisi dalam cerita tidak selalu menentukan siapa yang paling disukai penonton. Terkadang, karakter yang tidak mendapatkan akhir sesuai harapan justru meninggalkan kesan paling kuat.

Editor : Shinta Nurma Ababil
drama penonton film serial karakter utama