JP Radar Kediri – Tulus akhirnya mengeluarkan lagu baru usai 4 tahun lamanya tidak mengeluarkan single. Penyanyi dan penulis lagu bersuara emas ini menorehkan karya baru, bertajuk "Teh Hijau" pada Selasa, 30 Juni 2026.
Kehadiran lagu ini menjadi penawar rindu yang luar biasa. Pasalnya, Teh Hijau menandai kembalinya Tulus setelah empat tahun berlalu sejak perilisan album Manusia pada 2023 silam. Tak ayal, berakhirnya masa hiatus ini langsung disambut hangat oleh para penikmat musik Tanah Air.
Secara musikalitas, Teh Hijau mengusung aransemen yang terasa sangat ringan di telinga. Tulus tetap mempertahankan ciri khas utamanya: penulis lirik brilian yang diksinya begitu dekat dengan keseharian kita.
Lagu ini merupakan karya yang diciptakan sendiri oleh Tulus, baik dari segi lirik maupun melodinya. Untuk meracik musiknya agar semakin bernyawa, Tulus menggandeng musisi Yoseph Sitompul yang dipercaya sebagai produser sekaligus pengaransemen musik. Kolaborasi keduanya melahirkan harmoni yang menenangkan jiwa.
Baca Juga: 10 Lagu Terbaik Ozzy Osbourne dan Black Sabbath yang Menjadi Warisan Abadi Musik Metal
Lirik Lagu "Teh Hijau" - Tulus
Hari-hari berulang
Misteri lenyap senang
Ada saran kudengar
Lebih sering keluar ke alam
Saran lain kudengar
Cari hal asing yang menantang
Keluar dari benteng
Dari tempatmu yang sekarang
Baca Juga: Siapa Pencipta Lagu MBG Mas Bahlil Ganteng? Ini Asal Usulnya
Tak ada yang hilang dariku belakangan
Sedang tak mudah bertemu rasa senang
Sedang kucari yang jadi pencetusnya
Mungkin hilangnya atau siklus hidupku
Mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati 'tuk apapun, siapapun
Dan mungkin aku memang sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati 'tuk apapun, siapapun
Woah-oh, woah-oh-oh (Apapun, siapapun)
Tambah gerak tubuhmu
Baca buku yang baru
Ragam saran brilian
Yang belum kunjung jadi penawar
Untuk yang hilang dariku belakangan
Sedang kucoba memahami alurnya
S'moga segera kutemukan jawaban
Tapi kini kurayakan hampa ini, oh
Mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati 'tuk apapun, siapapun
Dan mungkin aku memang sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati 'tuk apapun, siapapun
Kulihat mana di kendaliku
Teh hijau ini yang di tanganku
Di tengah seram sedih yang menghantamku, uh
Lepaskan, lepas kemurunganku
Hijau kembali jiwa gersangku
Ambillah sayang sebanyak waktu yang kau perlu
Mungkin (Aku sedang tak bisa), aku sedang tak bisa
(Tak bisa jatuh cinta) Tak bisa jatuh cinta
(Membuka hati 'tuk apapun, siapapun) Uuh
Dan mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
(Membuka hati 'tuk apapun, siapapun) Aah
Tanpa itu, tanpanya
Apapun yang mungkin hilang itu (Sabar, sayang)
Mungkin ini siklusnya
Sudah garis jalannya
Esok, esok akan lebih elok
Dan mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati 'tuk apapun, siapapun
Dan mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati 'tuk apapun, siapapun
Dan mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
(Apapun, siapapun)
Makna di Balik Secangkir "Teh Hijau"
Lebih dari sekadar alunan nada, Teh Hijau membawa pendengarnya menyelami ruang batin yang paling sunyi. Lagu ini secara gamblang menceritakan fase ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan cinta dan kebahagiaan.
Tulus menuangkan potret kehidupan di mana rasa senang perlahan menghilang, dan segala cara yang dilakukan untuk bangkit justru belum kunjung menjadi penawar. Melalui liriknya, pendengar diajak menyusuri perjalanan batin yang tenang namun penuh pencarian—tentang upaya memahami mengapa hati terasa tertutup dan emosi seolah membeku.
Namun, pesan utama dari lagu ini bukanlah keputusasaan. Tulus justru mengajak pendengarnya untuk menerima keadaan. Bahwa, tidak semua kehampaan harus buru-buru dihilangkan.
Berdasarkan liriknya, simbolisasi “teh hijau” menjadi penanda dari sebuah proses pemulihan, yang mencakup:
Kesederhanaan dalam menerima luka.
Ketenangan saat menghadapi emosi yang beku.
Harapan akan keseimbangan jiwa yang perlahan akan kembali seiring waktu.
Singkatnya, Teh Hijau bukan hanya lagu tentang kehilangan rasa cinta, melainkan sebuah pelukan hangat untuk berdamai dengan kekosongan. Tulus mengingatkan kita untuk memberikan waktu bagi diri sendiri agar bisa pulih secara alami.
Editor : Shinta Nurma Ababil