Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

7 Perbedaan Manga dan Film Dandadan: Evil Eye, Apa Saja?

Radyan Fahmi Asshidqi • Rabu, 18 Juni 2025 | 17:00 WIB
Perbedaan Manga dan Film Anime Dandadan, mulai dari cerita hingga karakter.
Perbedaan Manga dan Film Anime Dandadan, mulai dari cerita hingga karakter.

JP Radar Kediri - Popularitas Dandadan terus meroket sejak adaptasi animenya rilis serta filmnya mulai tayang di berbagai bioskop serta platform streaming. 

Cerita tentang remaja bernama Momo Ayase dan Okarun yang menghadapi fenomena supernatural ini telah mencuri hati pembaca manga dan kini merambah penonton film.

Namun, bagi kalian yang sudah mengikuti versi manga karya Yukinobu Tatsu, ada beberapa hal yang pasti terasa berbeda saat menonton filmnya.

Adaptasi manga ke film memang tak pernah bisa 100 persen sama. Baik karena keterbatasan durasi maupun visi sutradara, sejumlah perubahan kerap dilakukan untuk menyesuaikan pengalaman visual penonton.

Baca Juga: Fakta Mengejutkan Tentang Studio Anime MAPPA yang Jarang Diketahui

Dandadan: Evil Eye pun tak lepas dari hal tersebut, dengan sejumlah modifikasi yang cukup mencolok, mulai dari desain karakter hingga alur cerita.

Lantas, apa saja perbedaan mencolok antara manga Dandadan dan versi film Evil Eye? Berikut rangkuman lengkap dari Jawa Pos Radar Kediri!

  1. Urutan Cerita yang Diubah

Salah satu perbedaan paling mencolok adalah urutan cerita yang dirombak total di versi film. Beberapa adegan penting dalam manga justru muncul lebih awal atau bahkan ditukar dengan adegan lain demi membangun tensi lebih cepat.

Di manga, kisah dimulai dengan dinamika antara Momo dan Okarun setelah mereka bertaruh soal hal-hal supranatural.

Baca Juga: 8 Karakter Terkuat One Punch Man Selain Saitama, Siapa Paling Dominan?

Namun, di film, cerita langsung dibuka dengan kejadian horor intens di sekolah, agar penonton langsung ‘terikat’ sejak menit awal. Perubahan ini membuat tempo film terasa lebih cepat, tapi juga mengorbankan sedikit pembangunan karakter awal yang detail di manga.

Akibatnya, bagi pembaca manga, awal film terasa agak terburu-buru dan ada nuansa cerita yang hilang. Namun bagi penonton baru, pendekatan ini lebih efektif membangun rasa penasaran.

  1. Penghilangan Beberapa Karakter Pendukung

Versi film Dandadan: Evil Eye terpaksa memotong sejumlah karakter pendukung demi efisiensi durasi. Beberapa tokoh seperti Rokuro dan nenek Okarun yang punya peran cukup penting di manga, tak banyak mendapat sorotan.

Padahal, kehadiran tokoh-tokoh tersebut di manga memberikan lapisan humor dan kehangatan yang menjadi ciri khas cerita Dandadan. Dalam film, sebagian dari peran mereka digantikan dengan eksposisi cepat atau bahkan dihilangkan sama sekali.

Baca Juga: 10 Anime Mirip Jujutsu Kaisen yang Wajib Ditonton, Banyak Pertarungan Epik!

Ini membuat cerita terasa lebih fokus pada konflik utama, tapi di sisi lain mengurangi kedalaman dunia yang dibangun Yukinobu Tatsu di manga.

  1. Desain Karakter yang Lebih Realistis

Adaptasi visual film menampilkan desain karakter yang lebih realistis ketimbang versi manga yang cenderung ekspresif dan hiperaktif.

Wajah-wajah karakter seperti Momo dan Okarun dibuat lebih ‘normal’ dan tidak terlalu karikatural. Hal ini cukup bisa dimengerti mengingat film berusaha menghadirkan kesan horor dan aksi yang lebih grounded.

Namun, bagi pembaca manga, kehilangan ekspresi lebay khas Okarun bisa membuat film terasa kurang ‘hidup’.

Beberapa momen komedi yang biasanya efektif di manga pun jadi kurang terasa karena perubahan desain dan ekspresi karakter ini.

Baca Juga: 9 Villain Anime yang Diam-Diam Lebih Disukai daripada Tokoh Utama

  1. Atmosfer Horor yang Lebih Intens

Salah satu poin plus dalam versi film adalah pendekatannya terhadap elemen horor yang lebih mencekam dan sinematik.

Jika di manga horor dan humor berjalan beriringan, maka di film, suasana mencekam lebih ditonjolkan.

Adegan-adegan seperti pertemuan dengan alien dan makhluk gaib diberi sentuhan visual yang mengandalkan efek CGI dan pencahayaan gelap. Hasilnya, pengalaman horor menjadi lebih terasa ‘nyata’ dan membuat penonton bergidik.

Namun, intensitas horor ini juga menyebabkan elemen humor khas Dandadan jadi berkurang, yang bisa membuat fans manga merasa ada yang kurang.

  1. Perubahan Karakterisasi Okarun

Okarun dalam versi film dibuat lebih kalem dan tidak se-nerdy seperti di manga. Dalam manga, Okarun digambarkan sebagai otaku sejati yang blak-blakan soal keyakinannya terhadap UFO dan hal-hal aneh. Namun di film, karakternya dibuat lebih misterius dan pendiam.

Perubahan ini dilakukan kemungkinan agar Okarun terlihat lebih cocok sebagai protagonis film aksi-horor.

Baca Juga: Zoro Adalah Keturunan Ryuma? Ini Bukti-Buktinya dari Manga One Piece!

Tapi sayangnya, ini membuat dinamika antara Momo dan Okarun jadi kurang ‘nendang’, apalagi mengingat interaksi keduanya di manga menjadi salah satu kekuatan utama cerita.

Penyesuaian karakter ini bisa jadi pilihan gaya, namun mengubah cukup banyak tone keseluruhan cerita dibanding versi asli.

  1. Durasi Pertarungan yang Lebih Pendek

Manga Dandadan dikenal dengan pertarungan supranatural yang panjang, penuh twist, dan menggila. Namun, versi film harus memangkas banyak adegan aksi agar tak melewati batas durasi standar.

Akibatnya, beberapa pertarungan ikonik yang di manga bisa berlangsung lebih dari satu chapter, di film hanya berlangsung dalam hitungan menit. Koreografi tetap apik, namun kurang memberikan build-up dan rasa klimaks seperti di versi manga.

Baca Juga: Apakah Cha Hae-In Menikah dengan Sung Jin-Woo di Solo Leveling? Ini Jawabannya!

Hal ini bisa mengecewakan bagi penggemar aksi, tapi cukup bisa dimaklumi dari sisi teknis pembuatan film.

  1. Ending yang Lebih Terbuka

Versi film Dandadan: Evil Eye memberikan ending yang lebih terbuka dan ambigu dibandingkan manga yang punya alur lebih terstruktur.

Beberapa misteri tidak dijelaskan sepenuhnya, membuka kemungkinan sekuel atau seri lanjutan. Sementara itu, manga cenderung memberikan kejelasan dalam setiap arc, bahkan saat menggantung, pembaca tetap diberi ‘clue’.

Film layar lebar lebih memilih membiarkan penonton menebak-nebak, seperti gaya khas film horor Jepang modern.

Bagi penonton umum, ini menambah kesan seram. Tapi bagi pembaca setia manga, pendekatan ini bisa terasa kurang memuaskan karena tidak memberikan resolusi utuh.

Meski adaptasinya terasa terbuka, hal ini seharusnya tidak membuat kalian kecewa. Karena Season kedua dari Dandadan akan segera tayang Juli depan!

Kalau sudah baca manganya, mari tonton versi filmnya untuk melihat sendiri sejauh apa perbedaan ini terasa. Siapa tahu kalian justru menemukan versi favorit baru!

Editor : Jauhar Yohanis
#Anime sub Indo #anime #Dandadan #Dandadan Season 2 #nonton anime #dandadan evil eye