Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Fenomena Quiet Quitting: Cara ElegBukan Resign, Tapi Quiet Quitting: Cara Elegan Gen Z Melawan Toxic Productivityan Gen Z "Memberontak" di Kantor

Internship Radar Kediri • Sabtu, 21 Februari 2026 | 04:18 WIB

Cara ELegan Gen Z memberontak di Kantor
Cara ELegan Gen Z memberontak di Kantor
JP Radar Kediri - Fenomena Quiet Quitting, lagi rame banget dibahas mulai di kota-kota berkembang seperti Kediri sendiri. Gen Z tidak lagi memuja hustle culture (gila kerja), karena buat Gen Z sekarang, kesehatan mental dan gaji yang setara itu harga mati.

Apa Bedanya Quiet Quitting & Loud Quitting?

Mari kita bedah dulu istilahnya, biar ngga salah paham. Quiet Quitting itu bukan berarti diam-diam berhenti kerja, melainkan sikap berkerja sesuai dengan porsi. Mengerjakan apa yang ada di job description, ngga kurang, apalagi lebih, jadi pas dengan porsi. Berstandarkan prinsip Act your wage (bekerjalah sesuai gajimu) membuat fenomena ini menghilangkan istilah "loyalitas tanpa batas" atau lembur tanpa bayaran.

Sedangkan Loud Quitting lebih ekstrim di mana tahap ini berarti karyawan sudah muak banget, mereka ga cuman pasif, tapi secara aktif menunjukan ketidaksukaannya. Mulai dari berani debat sama atasan, menyebarkan energi negatif, atau juga bisa sampai bikin konten sindiran soal kantornya di sosmed. 

Baca Juga: Bye Alkohol! Mengenal Tren Sober Revolution yang Bikin Kedai Kopi Makin Menjamu di Kalangan Gen Z

Bukan Manja, Ini Masalah Mental dan Ada Datanya!

Mungkin kalian udah ngga asing dengan kata-kata seperti "Anak muda sekarang manja!". Eits, tunggu dulu. Data menunjukan kalau Gen Z punya alasan kuat kenapa mereka sering dianggap manja atau lembek.

Menurut laporan Deloitte Gen Z and Millennial Survey, hampir setengah dari populasi Gen Z (sekitar 46%) mereka mengaku merasa stress atau cemas di tempat kerja sepanjang waktu.

Bayangkan hampir setengah anak muda yang kamu temui di kantor itu sebenernya lagi menahan burnout! Beban kerja yang bertambah terus, tapi gaji segitu-gitu aja, wajar akhirnya mereka memilih "mengerem" diri sebagai cara untuk menjaga kewarasan.

Mayoritas Pekerja Global Udah "Bodo Amat"

Survei dari Gallup dalam laporannya State of the Global Workplace menyebutkan fakta yang bikin HRD ketar-ketir, yaitu fenomena Quiet Quitting (berkerja tanpa keterikatan emosional) dilakukan oleh hampir 60% tenaga kerja global.

Artinya, jika ada 10 orang di kantor, bisa jadi 6 orang di antaranya cuma datang fisik doang, tapi hatinya udah nggak di situ, dan mereka bertahan cuma karena butuh gaji bulanan, bukan karena cinta sama perusahaan.

Solusinya Apa?

Gen Z itu kreatif dan inovatif, tapi mereka butuh lingkungan yang fair. Jadi kalau mau karyawan Gen Z-nya loyal, kuncinya bukan dikasih motivasi kosong atau gathering setahun sekali. Tapi kasih mereka Work-Life Balance, apresiasi yang nyata dan ruang buat berkembang. Karena buat Gen Z, kerja itu penting, tapi hidup dan ngopi santai sepulang kerja itu jauh lebih penting.

 

Kerja keras itu harus, tapi sadar diri itu juga harus. Jangan sampai loyalitasmu bikin dompet tipis tapi penyakit klinis makin laris. Ingat, tujuan kita kerja itu buat bayar kopi dan healing, bukan buat bayar tagihan rumah sakit. Stay sane, Kawan!

Penulis adalah Ragil Arya Kusuma, mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita- berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

Editor : rekian
#pekerja #Gen Z #gaya hidup #mental health #kantor #Quiet quitting