JP Radar Kediri - Pelawak senior asal Yogyakarta, Yati Pesek kini ramai diperbincangkan lantaran video lamanya Bersama Gus Miftah viral di media sosial.
Pendakwah itu diketahui melontarkan pernyataan yang dinilai merendahkan fisik dan profesi sinden berusia 72 tahun itu.
Dalam video lawas yang kembali beredar, Gus Miftah menyebutkan bahwa ia bersyukur Yati Pesek tidak cantik. Tak hanya itu, ia juga mengucapkan candaan yang dinilai melecehkan.
Tentu, hal tersebut tidaklah pantas, terlebih mengingat Yati Pesek adalah sosok seniman senior yang telah memberikan kontribusi besar bagi seni dan budaya Indonesia.
Hal itu sontak menuai berbagai reaksi dari warganet. Ucapan Gus Miftah itu ternyata juga memancing reaksi keras dari sejumlah seniman, termasuk sinden Soimah Pancawati.
Respon emosional Soimah terhadap pernyataan Gus Miftah langsung mencuri perhatian publik dengan tegas mengutip kembali ucapan kontroversial tersebut menggunakan huruf kapital, sebuah ekspresi yang menegaskan ketidaksenangannya.
Sindiran Soimah itu ia unggah melalui Instagram Story miliknya. “Orang Jawa jangan hilang Jawanya! Orang Jawa jangan hilang adabnya!" tulisnya.
Memiliki nama asli Suyati, Yati Pesek lahir di Yogyakarta pada 8 Agustus 1952. Ia tumbuh dalam keluarga seniman. Ayahnya, Sujito, adalah seorang pengrawit, sementara ibunya, Sujilah, adalah seorang penari.
Sejak kecil, Yati sudah akrab dengan dunia seni, khususnya tari, yang ia pelajari langsung dari ibunya dan guru-guru tari ternama seperti R.M. Joko Daulat dan Basuki Koeswaraga.
Karier profesional Yati dimulai pada 1964 ketika ia bergabung dengan komunitas Wayang Orang Jati Mulya di Kebumen.
Kemudian melanjutkan kiprahnya di berbagai kelompok seni lainnya, termasuk Ketoprak Mudha Rahayu Yogyakarta, yang menjadi tonggak awal popularitasnya.
Pada 1980, namanya mulai dikenal luas melalui program Sandiwara Jenaka KR di TVRI Yogyakarta.
Dalam program ini, Yati tampil bersama Marwoto dan Daryadi, membentuk "Trio Jenaka KR" yang sukses mencuri perhatian publik.
Tak hanya di dunia ketoprak dan lawak, ia juga dikenal melalui perannya dalam film Serangan Fajar (1982) dan Langitku Rumahku (1984).
Kepiawaiannya dalam seni pertunjukan juga membuatnya sering tampil di acara wayang kulit bersama dalang legendaris seperti Ki Manteb Sudarsono.
Meski diliputi kekecewaan, Yati Pesek tetap menunjukkan sikap tenang dan profesional.
Ia menyampaikan bahwa selama ini dirinya selalu menjunjung tinggi budi pekerti dalam berkesenian.
Namun, Yati juga tak menutupi rasa kecewanya terhadap komentar Gus Miftah. Ia mengungkapkan bahwa dirinya hadir dalam acara tersebut bukan untuk keuntungan pribadi, melainkan untuk belajar.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah