Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tak Hanya Beribadah, Begini Cara Menyambut Ramadhan Menurut Gus Kautsar, Pengasuh Ponpes Ploso Kediri

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 8 Maret 2024 | 22:24 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri – Ramadhan merupakan salah satu bulan yang mulia bagi umat Islam. Oleh karena itu, kaum muslim dianjurkan untuk menyambutnya dengan sebaik mungkin.

Hal ini juga seperti yang disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kabupaten Kediri Muhammad Abdurrahman Al Kautsar atau yang akrab disapa Gus Kautsar.

Dilansir dari Channel Youtube Ansor Media Tuban, guru dari Gus Iqdam ini menyampaikan ada satu hal penting yang harus dipersiapkan sebelum menyambut Bulan Ramadhan.

Bukan hanya Ibadah seperti sholat, dzikir, maupun membaca Al Qur’an. Ulama kelahiran Mojo, Kediri 22 November 1985 ini menyampaikan bahwa menjaga hati dari rasa benci atau tidak suka terhadap orang lain adalah hal yang harus diutamakan.

“Ulama kita sepakat bahwa apa persiapan yang harus dilakukan sebelum Ramadhan? Satu adalah ketidakadaan kebencian terhadap orang lain,” terang Gus Kautsar.

Dengan menjaga hati dari rasa benci terhadap orang lain akan membuat kita lebih siap dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan. Ayah dari Ning Chasna Nayluf tersebut juga menyampaikan bahwa itu sesuai dengan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam salah satu Hadits Riwayat Bukhori Muslim.

“Al-muslimu man salima al-muslimuna min lisanihi wa yadihi”. Yang berarti orang muslim adalah yang mampu menjaga lisan dan anggota tubuh lain untuk tidak menganiaya orang lain.

Menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain merupakan salah satu Ibadah Ghoiru Mahdah yang merupakan Ibadah antar sesama manusia.

Menjaga hubungan baik terhadap sesama juga menjadi hal yang utama. Hal ini disampaikan Gus Kautsar bahwasanya Al Quran sebagai pedoman hidup ummat muslim lebih banyak membahas tentang hal tersebut.

“Bahkan perintah Allah dalam Al-Quran itu, lebih banyak membahas tentang kisah-kisah masa lalu untuk menjadi ikhtibar ummat penggantinya dan bagaimana cara kita bersosial dengan orang lain,” terang mubaligh yang kini berusia 39 tahun tersebut.

Editor : Anwar Bahar Basalamah