Tingginya permintaan ini terasa di gerai Galeri 24, di mana ketersediaan emas batangan hampir selalu habis setiap harinya. Situasi itu membuat Galeri 24 harus menerapkan tindakan pembelian emas batangan harian. Yakni dengan menyesuaikan penjualan dengan stok.
Baca Juga: Target KPP Pratama Kediri terkait Penerimaan Pajak Turun Rp 120,6 Miliar
Menurut Anggun Ariwidya, Manager Distro Galeri 24 Kediri, kebijakan pembelian ini telah berlaku sejak Oktober lalu. Pembatasan diterapkan karena adanya pemanggilan pembeli emas setiap harinya. Sehingga perlunya penyesuaian stok emas batangan.
“Pembelian dibatasi, satu orang maksimal beli dua keping.Misalnya 5 gram dan 1 gram, atau lainnya,” jelasnya.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini di Angka Rp2,321, Naik atau Turun? Ini Rinciannya
Anggun menambahkan bahwa masing-masing unit memang menerapkan kebijakan tersendiri. Pembatasan ini dilakukan agar semua calon pembeli emas dapat berpartisipasi.
Emas yang dijual di gerai Galeri 24 Pegadaian meliputi emas batangan dengan merek populer seperti Antam, UBS, dan Galeri 24 sendiri. Selain itu, tersedia pula perhiasan emas dengan berbagai kadar, mulai dari 8 hingga 24 karat.
Baca Juga: Wajib Pajak di Kediri Keluhkan SPT Tahunan Coretex, Ini Alasannya
Anggun juga menyarankan jika emas batangan habis, nasabah bisa beralih ke emas perhiasan. Hal ini penting karena nilai buyback (harga jual kembali) perhiasan emas di Galeri 24 saat ini setara dengan emas batangan.
“Kami memberi batang edukasi ke jika nasabah harga emasan dan perhiasan itu sama-sama menguntungkan untuk berinvestasi,” jelasnya.
Baca Juga: Harga Telur Ayam Meroket Tembus Rp 30 Ribu, Diduga Andil Program Makan Bergizi Gratis
Tren kenaikan ini tidak hanya terjadi pada pembelian. Yuli Kurniawan Syahputra, Marketing Officer Pegadaian, mengatakan jumlah nasabah yang melakukan gadai emas juga meningkat tajam.
Tercatat, dari Juli hingga Oktober tahun ini, terdapat sekitar 4.000 hingga 5.000 nasabah baru, baik yang melakukan gadai maupun pembelian emas.
Baca Juga: Fakta Menarik Pencapaian Pajak Pusat yang Terancam Meleset, Bagaimana dengan Pajak Daerah?
“Gadai emas mengalami kenaikan signifikan.kebanyakan yang digadai itu emas, baik emas perhiasan maupun emas batangan,” pungkas Putra.
Pengamat Ekonomi sebut Indikasi Kekhawatiran Publik.
Baca Juga: Fakta Menarik Pencapaian Pajak Pusat yang Terancam Meleset, Bagaimana dengan Pajak Daerah?
Kenaikan harga emas ini tidak lepas dari pengaruh faktor global dan domestik. Pengamat Ekonomi Subagyo menjelaskan, salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah geopolitik. “Ada kebijakan suku bunga yang belum benar-benar longgar dan kondisi ekonomi yang tidak stabil,” jelas Dosen Universitas Nusantara PGRI Kediri.
Subagyo mengamati, meskipun daya beli masyarakat menurun, permintaan emas justru meningkat karena adanya pergeseran cara pandang aset. Di tengah perekonomian, emas sebagai "passive haven aset," atau aset yang aman dari pengaruh inflasi.
Baca Juga: Harga Cabai Rawit di Pasar Tradisional Kediri Mulai Lesu
“Saat masyarakat merasa nilai rupiah menurun terhadap dolar Amerika, investasi ke sektor lain tidak stabil, pasar saham juga menurun, properti harganya anjlok, deposito bunganya sangat rendah. Maka emas dianggap bagus untuk berjaga-jaga dalam jangka panjang,” ucapnya.
Menurut Subagyo, masyarakat mengalihkan sebagian tabungannya ke emas sebagai aset yang dinilai lebih aman, bukan sebagai konsumsi. Emas memiliki keunggulan karena tidak tergerus inflasi secara langsung dan mudah diperjualbelikan sewaktu-waktu membutuhkan dana cepat. Nilai Rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika juga menjadi faktor kuatnya kenaikan harga karena penjualan emas dalam dolar.
Baca Juga: OJK Kediri Katat Permintaan SLIK di Kediri Raya Tinggi, Ini Penjelasannya
Ia juga mengatakan bahwa terdapat kesenjangan perilaku ekonomi yang muncul akibat harga emas yang tinggi ini. Yaitu, Kalangan menengah ke atas membeli emas untuk melindungi nilai asetnya agar tidak turun. Sementara, kalangan menengah ke bawah justru membeli emas, baik perhiasan atau kepingan 1 atau 5 gram bukan untuk jangka panjang, melainkan sebagai strategi agar nilai uangnya tidak tergerus jika disimpan di bank dengan bunga sangat rendah.
"Ada ironi di balik meningkatnya harga emas. Yang punya uang mampu membeli emas untuk melindungi aset, sementara di kalangan bawah, banyak yang justru menjual emasnya (asetnya, Red) untuk memenuhi kebutuhan harian," tutupnya.
Baca Juga: BRI Raih Pengakuan sebagai Top 50 Emiten BigCap dengan Tata Kelola Perusahaan Terbaik IICD 2025
Subagyo menyebut, secara psikologi ekonomi, permintaan emas yang melambung ini mencerminkan tingginya kekhawatiran atau ketidakpercayaan masyarakat terhadapstabilitas ekonomi.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian