Dhoho Street Fashion (DSF) 7 yang dihelat pada 10 Desember 2022 lalu menyisakan kenangan tak terlupakan bagi Salma, Azka, Liya, dan Ima. Empat pelajar SMK ini memang mendapat kehormatan dalam event yang juga diikuti desainer kenamaan Indonesia hingga internasional itu. Yakni, karya mereka ikut ditampilkan bersama dengan karya para desainer yang sudah belasan hingga puluhan tahun malang melintang di dunia mode.
Ya, DSF 7 memang diikuti oleh sejumlah desainer yang karyanya digemari tidak hanya di Indonesia. Melainkan di tingkat internasional. Sebut saja Priyo Oktaviano, Eras Soekamto, Wignyo Rahadi, hingga Luxe Cesar. Di antara nama-nama besar itu, ternyata ada karya Salma Amelia Salsabila, 18; Rahma Ayu Azka, 18; Auliya Rahma,17; dan Nadia Ima Margareta, 17, yang ikut dipamerkan.
Busana rancangan siswa jurusan tata busana SMK ini berada satu panggung dengan karya desainer kenamaan itu. “Mengikuti Dhoho Street Fashion adalah pengalaman yang tidak terlupakan,” aku Azka, Salma, Liya, dan Ima kompak saat ditemui saat ditemui di sekolahnya di Jl Hasanudin, Kamis (5/1).
Begitu disinggung tentang DSF 7, keempatnya langsung antusias menceritakan pengalamannya. Salah satunya saat mereka harus menyiapkan rancangan busananya. Di event tahun lalu, siswa yang terpilih mengikuti DSF memang bisa menampilkan pakaian karya mereka sendiri.
Karenanya, Azka, Salma, Liya, dan Ima harus mengerjakan tiap tahapan merancang busana sendiri. Mulai membuat desain, pola, menjahit hingga finishing. “Kami hanya punya waktu tiga minggu,” lanjut Azka.
Empat gadis itu berasal dari dua kelas yang berbeda. Salma dan Azka mewakili kelas 12 Tata Busana 3 SMKN 3 Kota Kediri. Sedangkan Liya dan Ima Kelas 11 Tata Busana 2. Setelah terpilih, mereka langsung diminta mencari ide rancangan busana sendiri.
Guru sekolah hanya memberitahu jika tema DSF tahun 2022 adalah Diversity Of Dhaha. Untuk mencari ide, keempatnya kompak mengubek-ubek Pinterest. Selanjutnya, mereka berkumpul untuk menentukan desain pakaian. “Menggabungkan ide dalam desain (dari empat anggota, Red) itu yang sangat sulit,” sambung Salma. Misalnya, saat bagian dada ingin diberi wiru-wiru, ternyata tidak matching dengan bagian lainnya.
Setelah berdiskusi panjang, mereka sepakat membuat empat pakaian three piece. Dalam satu pakaian ada tiga bagian. Yaitu, dalaman, luar, dan bawahan. Pakaian tersebut nantinya dapat digunakan bagi yang berhijab atau yang tidak.
Pengerjaan busana yang akan dipamerkan di DSF 7 digarap disela-sela jam sekolah. Salma dan Azka memilih mengerjakan saat jam praktik. Sedangkan Liya dan Ima menggarap baju saat mereka magang. Kebetulan keduanya magang di bengkel butik sekolah. “Saat proses menjahit, yang memerlukan waktu lama itu pas menjahit rok plisket,” kenang Liya sembari menyebut teknik yang diajarkan oleh guru berbeda dengan yang mereka terapkan.
Dibanding desainer kenamaan lain yang memilih warna kain tenun ikat soft, Salma dan teman-temannya memilih warna-warna cerah. Rupanya, pilihan mereka justru memberi warna tersendiri. Apalagi, kain tenun yang dipakai adalah kain motif panji dan garis-garis. Motif tersebut merupakan satu dari sepuluh motif tenun ikat terbaik.
Melihat karya mereka ditampilkan berbarengan dengan karya para desainer kondang, perasaan empat pelajar itu campur aduk. Bangga, senang, dan lega melebur menjadi satu. Pengalaman mengikuti event kenamaan itu membuat tekad mereka untuk terjun di bidang fashion semakin kuat.
Salma yang rencananya akan kuliah dan mengambil jurusan ekonomi akan tetap belajar desain busana dengan membuka usaha jahit. Sedangkan Azka yang sangat tertarik dengan tata busana akan langsung mengambil kuliah di bidang desain di salah satu universitas Jogjakarta. Adapun Ima dan Liya akan langsung membuka usaha jahit di rumahnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah