Rogoh Kocek Pribadi demi Rute Ramah Wisatawan
Jalur pendakian di kaki Gunung Wilis ini tergolong baru. Namun, sudah mampu menjadi daya tarik bagi para pendaki, terutama mereka yang berstatus pemula. Dan, sosok lelaki inilah figur di belakang jalur pendakian yang sempat ditutup akibat karhutla itu.
ASAD M. S., Kabupaten, JP Radar Kediri
Jalan setapak itu seakan membelah lereng Gunung Wilis. Menyusur di antara rimbunnya pepohonan. Konturnya menanjak, beberapa bagian terasa terjal.
Titik awal setapak itu tak jauh dari area Tebing Prongos yang sudah banyak diisi kafe dan warung.
Tak terlalu jauh pula dengan lokasi kafe Batu Tulis, yang juga menjadi pintu masuk jalur pendakian lain.
Lokasi ini masuk kawasan Wisata Besuki, di Desa Jugo, Kecamatan Mojo. Sekaligus jalur untuk menuju kawasan air terjun Dolo, salah satu air terjun eksotis di Gunung Wilis.
Dari Kota Kediri, perjalanan bisa ditempuh selama 30 menit. Melalui jalan beraspal mulus namun berkelok-kelok tajam, khas daerah pegunungan.
Baca Juga: Mengenal Sosok AKBP Muhammad Wahyudin Latif, Bocah dari Kampung yang Menakhodai Polres Kediri
Tapi setapak ini tak membawa kita ke air terjun itu. Melainkan membawa kita masuk lebih dalam ke hutan.
Di beberapa spot, ketika kita berdiri di antara pepohonan, akan terlihat bentang alam Lereng Wilis.
“Sekitar 30 menit sampai ke lokasi,” ucap Tarmono. Pria ini adalah petugas penjagaan jalur pendakian Tembelang dan Warisan Budaya Tak Benda Batu Tulis.
Bagi lelaki 45 tahun ini, jalur pendakian Tembelang bukan sesuatu yang asing.
Seluk-beluk jalur tersebut sangat dia hafal. Bukan karena apa-apa, sebab, sebagian jalur tersebut memang dia buka secara mandiri.
Bagi Tarmono, membuka akses di kawasan tersebut bukan sekadar membuat jalur untuk orang berwisata. Ada cerita yang lebih panjang di baliknya.
Pada 2014 dia mulai membuka jalur menuju Batu Tulis. Saat itu jalur yang tersedia hanya dari sisi bawah.
Orang lebih sering menyebut jalur depan. Dan butuh waktu satu jam mencapai situs tersebut.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Tarmono. Sebab, tidak hanya pecinta alam saja yang melakukan pendakian menuju Batu Tulis.
Banyak pula umat Hindu yang bertujuan melakukan ritual keagamaan. Sebagian datang dari Bali.
Baca Juga: Berawal Gambar Gunung Masa Kecil, Sosok Dedi Sasmito Telurkan Banyak Buku Penelitian Kelud
Batu Tulis memang bukan hanya tempat dengan pemandangan alam.
Di lokasi tersebut terdapat batu besar yang dipercaya masyarakat Bali sebagai tempat moksa Mahapatih Gajah Mada dan Kebo Iwa. Itulah mengapa tempat itu jadi jujukan umat Hindu.
Melihat itu Tarmono merasa kasihan. Tak tega melihat umat yang harus menempuh perjalanan panjang dengan medan menanjak. Tebersitlah inisiatif membuat jalur yang lebih singkat.
Maka, berkomunikasilah dia dengan beberapa teman. Meminta pertimbangan mereka. Sebelum akhirnya membuka jalur dari sisi yang lebih dekat.
Tentu saja tidak dengan menggunakan alat berat. Tarmono mencangkul sendiri tanah yang akan dijadikan jalan. Pekerjaan itu dilakukan secara bertahap. Terutama ketika Minggu.
Dalam sekali pengerjaan, sekitar 25 meter jalur bisa dibuka. Setelah itu dia kembali pulang sembari membawa kayu bakar atau pakan kambing.
Begitu terus hingga jalur tersebut akhirnya tersambung. Total waktu yang dibutuhkan sekitar satu bulan.
“Saya cangkul sendiri,” kata pria yang juga dipanggil Pak Menuk ini.
Jalur menuju Batu Tulis kemudian menjadi akses yang jauh lebih singkat. Tidak lagi satu jam untuk mencapai Batu Tulis. Melainkan hanya butuh waktu setengah jam saja.
Perhatian Tarmono pada lereng Wilis tidak berhenti di Batu Tulis. Beberapa bulan terakhir, dia kembali membuka jalur lain yang dikenal sebagai jalur Tembelang.
Baca Juga: Mengenal Sosok Intan Ayu Idha Wulandari, Guru SMA dengan Segudang Prestasi
Tujuannya kali ini lebih luas. Selain ingin memperkenalkan kawasan lereng Wilis sebagai tujuan wisata, Tarmono ingin kembali membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Dia membayangkan kawasan tersebut bisa menjadi tempat berkemah. Warga yang belum memiliki pekerjaan bisa ikut mendapatkan penghasilan.
Salah satunya melalui penyewaan tenda bagi pengunjung.
Apalagi dari kawasan Tembelang, pemandangan menjadi daya tarik tersendiri.
Pada kondisi cuaca cerah, Bandara Dhoho Kediri bahkan dapat terlihat dari atas.
“Dulu juga ambil kesempatan, karena dibangun Bandara Dhoho, dari puncak Tembelang ini kelihatan pemandangan Bandara Dhoho,” jelasnya.
Karena itu, Tarmono melihat keberadaan bandara sebagai peluang tambahan untuk mengembangkan wisata di lereng Wilis.
Namun, membuka jalur di kawasan perbukitan tentu tidak cukup dengan mencangkul tanah. Persoalan air juga menjadi tantangan.
Untuk mengatasinya, Tarmono membuat sistem untuk menaikkan air dari bawah menggunakan pipa dan disel.
Pipa tersebut sudah dipasang sejak sekitar 2014. Ketika ada tamu dari Bali yang menginap di kawasan atas, air dinaikkan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Baca Juga: Sempat Dibuka Usai Kebakaran Wilis, Jalur Pendakian Tembelang Kembali Ditutup, Begini Penjelasannya
Jalur Tembelang sendiri sempat ramai setelah dibuka. Banyak orang datang untuk menikmati kawasan tersebut sebelum akhirnya aktivitas pendakian terhenti karena kondisi kebakaran hutan dan lahan beberapa waktu lalu.
Tarmono menyebut, ketika jalur masih dibuka, pengunjung yang datang cukup banyak.
Penutupan akibat karhutla membuat banyak calon pendaki akhirnya tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Meski begitu, upaya membuka akses tersebut menjadi bagian kecil dari perjuangan Tarmono memperkenalkan lereng Wilis.
Untuk jalur Tembelang saja, dia mengeluarkan sekitar Rp 2 juta dari uang pribadi. Sementara biaya membuka jalur menuju Batu Tulis jauh lebih besar karena jalurnya lebih panjang.
Tidak ada keuntungan besar yang langsung dia dapatkan dari pekerjaan tersebut. Yang ada justru tenaga, waktu, dan biaya yang dikeluarkan sendiri.
Tetapi bagi Tarmono, membuka jalan berarti membuka kesempatan. Kesempatan agar lereng Wilis lebih dikenal sebagai kawasan wisata.
Sekaligus memberi kemudahan bagi umat yang datang menjalani perjalanan spiritual.
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri