Pramuka untuk semua. Begitulah kesan yang pertama tebersit saat melihat anak-anak berkebutuhan khusus ini. Melampaui keterbatasan fisik, enam anak akan ikut Jambore Nasional (Jamnas) Agustus nanti. Menjadi delegasi Pramuka Berkebutuhan Khusus (PBK) pertama dari Kota Kediri.
AYU ISMA, Kota, JP Radar Kediri
Berbaur dengan anggota pramuka kontingen jambore nasional lain yang berkunjung ke Jawa Pos Radar Kediri (8/7), anak-anak ini tak kalah aktifnya.
Salah satunya, Guyub Nasrulloh Aji Wicaksono. Bocah yang akrab disapa Nasrul itu berkali-kali menunjuk dan melontarkan pertanyaaan tentang isi halaman koran Jawa Pos Radar Kediri di tangannya.
Hari itu, dia dan puluhan anggota Kwarcab Pramuka Kota Kediri mengunjungi kantor media cetak di Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo.
Kegiatan yang dipimpin oleh Ketua Kwarcab Pramuka Kota Kediri Kak Edi Herwiyanto itu jadi rangkaian pembekalan menuju Jambore Nasional XII Tahun 2026.
Saat mengamati koran terbitan 8 Juli 2026, pandangan Nasrul seketika tertuju pada foto pesawat terbang di halaman depan.
Saking takjubnya, dia ingin membawa pulang koran itu untuk dikoleksi. Lucunya, dia sempat minta menukarkan korannya karena ada sedikit bercak minyak di koran yang disimpan di sudut ruangan itu.
Tingkah spontan Nasrul ini langsung disambut tawa teman-temannya.
“Selain latihan, anak-anak memang kami ajak kunjungan ke beberapa tempat biar anak-anak tahu potensi daerah. Seperti ke Bandara Dhoho, sentra tenun Bandar, tempat pengelolaan sampah, termasuk ke kantor media Jawa Pos Radar Kediri juga biar menambah wawasan dan pengalaman anak-anak,” ujar Pimpinan Kontingen Cabang Jamnas 2026 Kota Kediri Sugeng Hariyanto.
Baca Juga: Momen Kebangkitan Pramuka, Ratusan Pengurus Baru Gerakan Pramuka Kota Kediri Resmi Dilantik
Keikutsertaan Kwarcab Pramuka Kota Kediri dalam Jamnas kali ini terasa istimewa. Sebab, selain 32 perwakilan pramuka reguler, untuk pertama kalinya Kota Kediri mengirimkan delegasi Pramuka Berkebutuhan Khusus (PBK).
Sebanyak enam anak berkebutuhan khusus itu akan bergabung sebagai perwakilan Jawa Timur. Mereka adalah Sadewa Ferdian Bagus Saputra, Samsuri, Guyub Nasrulloh Aji Wicaksono, Tiara Anggraini, Devian Eka Putri, dan Dzarianti Rohimah.
“Kami berani mengirimkan peserta PBK ini juga karena dorongan Ka Kwarcab (Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Kediri Edy Herwiyanto, Red). Beliau juga ingin menaungi anak-anak ini karena mereka kan juga punya hak yang sama,” ungkapnya.
Enam anak ini merupakan penyandang tuna grahita. Alih-alih terbebani sebagai peserta jambore, kegiatan yang akan berlangsung di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur, itu akan jadi momentum mereka bertemu banyak orang.
Selain menambah pengalaman, juga kesempatan berinteraksi dengan 18 ribu peserta lainnya dari seluruh Indonesia.
“Namanya jambore, sebenarnya kalau diartikan itu maknanya pesta. Jadi senang-senang. Hanya kami berlomba-lomba untuk mempromosikan daerah masing-masing. Makanya meskipun ini anak-anak PBK, tapi tetap kami perlakukan sama,” sambungnya.
Pembina PBK Kota Kediri Moh. Ato’ Sholahudin mengatakan, pemilihan anak-anak berbakat itu ditentukan melalui seleksi. Caranya dengan bergerilya ke SLB-SLB di Kota Kediri.
Mereka mencari anak-anak yang sudah punya cukup kemandirian untuk jauh dari sekolah dan orang tua. Sebab, tak dipungkiri salah satu tantangan melibatkan anak-anak disabilitas juga datang dari izin orang tua.
“Harus merayu orang tua biar memberi support anaknya ikut jambore. Karena mungkin mikirnya jauh ke Jakarta,” katanya.
Baca Juga: Mbak Cicha Lepas 20 Kontingen Pramuka Kabupaten Kediri Ikuti Giat Prestasi Jatim 2025
Meski demikian, anak-anak ini tak bisa dipandang sebelah mata. Masing-masing dari mereka juga punya prestasi di luar pramuka. Keaktifan mereka juga berpengaruh bagi rasa percaya diri yang sudah terbentuk.
“Ada yang di bawah naungan NPC (National Paralympic Committee, Red) dan sering ikut lomba. Jadi di balik kekurangan, juga ada keistimewaan tersendiri,” sambung Ato’.
Menjadi pendamping para PBK, bagi Ato’ terasa susah-susah gampang. Beruntung, mereka sudah dididik untuk memiliki kemampuan bina diri yang baik. Sehingga lebih percaya diri dan tidak mudah moody jika berada di tengah keramaian.
“Mereka justru sopan santunnya melebihi pramuka yang reguler. Beberapa kali anak-anak ini kalau minta apa selalu bilang ‘tolong’. Terus baru pulang kalau semua acaranya sudah selesai. Sampai bilang terima kasih terus dan maaf sudah bikin repot katanya. Saya sampai batin, dek, itu kan memang tugas saya,” sambung Sugeng, yang terenyuh dengan sikap para ABK itu.
Jika anak-anak sudah sangat siap untuk berbaur dengan delegasi reguler, justru masyarakat yang belum familiar dengan anggota pramuka disabilitas.
Baca Juga: Wooo, Ada Lima Ton Sampah Dampak Kerusuhan, Pembersihan Libatkan Pramuka dan Relawan
Seperti terlihat saat mereka mengikuti pelantikan Pramuka Garuda di Stadion Brawijaya pertengahan Juni lalu.
Momentum itu merupakan kali pertama mereka muncul dan terlibat di kegiatan berskala besar dengan banyak orang. Mereka pun harus ikut berbaris di lapangan dengan ribuan anggota pramuka lainnya.
“Anak-anak kan memang beda barisnya. Ada orang yang nggak tahu itu marah-marah, ‘Loh, itu pramuka masa barisnya begitu?’ Terus saya bilang, ‘Ngapunten, Pak, itu memang anak-anak berkebutuhan khusus’. Orangnya baru tahu itu. Tapi bagi kami, mereka sudah berani tampil, bahkan di depan Mbak Wali Kota, itu sudah bagus sekali,” puji Sugeng.
Membuat anak-anak nyaman berada di tengah banyak orang kuncinya hanya satu: tahu karakter masing-masing. Selain itu, anak-anak harus lebih dulu dikenalkan dengan lingkungan dan teman-teman di sekitar agar bisa nyaman.
“Kita kan sering bergaul dengan mereka tiap harinya. Jadi tahu karakter anaknya. Karena anak-anak ini kan nggak bisa dipaksakan. Harus sesuai mood-nya dulu, dirayu dulu. Dengan kita kenalkan ke kakak-kakak lainnya, dia akhirnya nggak minder. Mereka tahu bahwa lingkungannya ini welcome dengan mereka,” sambung Ato’ lagi.
Dengan pembekalan dan persiapan yang telah dilakukan, mereka semakin percaya diri menghadapi Jambore Nasional Agustus mendatang.
Di antara belasan ribu peserta yang akan memenuhi Buperta Cibubur, anak-anak istimewa ini akan jadi yang paling lantang suaranya saat yel-yel.
Mereka membawa harapan bahwa ruang bertumbuh itu selalu ada untuk semua anak, bahkan di pramuka sekalipun. (ut)
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri