Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sosok Inspiratif Mubarok Ainul, Orang Kediri Pertama yang Raih Gelar Doktor Ushul Fikih dari Ummul Qura Makkah

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 3 Juli 2026 | 06:30 WIB

 

Sosok Mohammad Mubarok Ainul
Sosok Mohammad Mubarok Ainul

Bukan perkara gampang bagi Mohammad Mubarok Ainul menembus perguruan tinggi sekelas Universitas Ummul Qura Makkah.

Jalan panjang yang penuh kegetiran pun harus dilewati. Hingga berhasil menjadi satu dari tujuh orang Indonesia yang mendapatkan gelar doktor dari perguruan tinggi tersebut.

ASAD MS, JP Radar Kediri

Mohammad Mubarok Ainul lahir di Desa Cendono, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri pada 1984.

Anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Moh. Zaini, hanyalah buruh bangunan. Sedangkan sang ibu, Sholehah, seorang ibu rumah tangga.

Tentu saja, ekonomi keluarga ini pas-pasan. Apalagi ketika lulus sekolah dasar, tenaga ayahnya tak sekuat dulu lagi. Seakan kelelahan setelah membesarkan tujuh anak sebelumnya.

“Untuk membiayai sekolah bapak sudah tidak mampu,” kenangnya.

Toh, Mubarok kecil tak menyerah. Berusaha mencari jalan sendiri. Ketika diterima di MTsN 2 Kota Kediri, waktunya dia habiskan untuk membaca dan belajar.

Baca Juga: Dari Pecinta Alam, Sosok Imam Sobirin Kini Bergelut dengan Reklamasi Tambang di Kalimantan

Yang ada di pikirannya saat itu adalah mengubah masa depan dengan pendidikan.

“Saking seringnya baca buku saya jadi pakai kacamata. Karena itu ditegur orang tua,” cerita Mubarok.

Kerja kerasnya itu membuahkan hasil. Dia bisa peringkat pertama kelas pararel. Menjadikannya mendapat beasiswa penuh hingga lulus.

Lepas dari biaya pendidikan, tantangan masih harus dia hadapi. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya tak memiliki uang saku yang cukup. Tak ada uang bila setiap hari naik angkutan umum ke sekolah.

Untungnya, sang kakak yang bekerja di Kalimantan mengiriminya sepeda ontel. Bukan baru, melainkan sepeda bekas. Sepeda itulah teman setianya mengarungi jalan dari rumah menuju sekolah.

Pulang sekolah, Mubarok masih mengaji di masjid. Setelah itu buru-buru mencari rumput untuk dua ekor kambing milik keluarga. Hewan yang digadang-gadang sebagai tambahan pendapatan.

Nahas tak bisa ditolak, kambing kurang terurus karena waktunya habis untuk belajar. Terpaksalah dijual dengan harga yang jauh di bawah harga beli.

"Kambingnya sering lepas sampai saya dimarahi tetangga,” ucapnya sambil tertawa.

Saat MTs itu, ada peristiwa yang membekas di hati. Seorang temannya yang rajin puasa Senin-Kamis, berpesan agar dia membiasakan tirakat.

 Itu jika ingin sukses. Setelah memberi nasihat itu, sang teman tersebut meninggal dunia akibat kecelakaan saat sama-sama pulang sekolah. Peristiwa ini yang terus diingat Mubarok hingga sekarang.

Singkat kisah, dia diterima di MAN Program Khusus Denanyar, Jombang dengan beasiswa penuh. Bersaing dengan lulusan pondok sudah pandai membaca kitab kuning.

Baca Juga: Sosok Zaini ‘Zainsano’, Pesepak Bola Kampung yang Diabadikan Jadi Nama Lapangan Desa: Kalau Main Penonton Penuh, Jika Tidak Jadi Sepi

Sedangkan dia harus mulai dari nol. Membuatnya harus membeli kamus dan menerjemahkan kitab kata demi kata setiap malam.

"Alhamdulillah ada banyak prestasi karena mewakili sekolah. Seperti ke Jawa Timur pada ajang Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren Nasional cabang pidato bahasa Inggris," jelasnya.

Jalan berliku kembali dia jalani ketika menuju perguruan tinggi. Tawaran kuliah gratis ke Sudan datang, tapi orang tua tak mengizinkan.

Akhirnya, dia pun mengabdi di ponpes cabang Gontor di pedalaman Lombok. Harapannya, bisa diberangkatkan kuliah ke luar negeri.

Sayang, bukannya harapan terpenuhi, justru kemalangan menimpa. Uang tabungannya raib. “Padahal akan saya gunakan untuk pulang,” jelasnya.

Dalam kondisi bingung, dia bertemu seorang dosen di Lombok yang mengubah arah hidupnya. Dosen itu memberi rekomendasi mendaftar ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta. Lolos di peringkat ketiga.

Di Jakarta, Mubarok harus bekerja untuk biaya hidup sekaligus membiayai kuliah adiknya. Berjualan koran berbahasa Arab, menerjemahkan buku-buku Arab, dan pekerjaan sambilan lain.

Meskipun demikian, keinginan berkuliah di Makkah tak surut. Berkali-kali dia mengirim berkas ke Universitas Ummul Qura. Berkali-kali pula ditolak.

Dia juga berusaha mendapatkan rekomendasi dari berbagai lembaga. Mulai NU, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia, Kementerian Agama, hingga Kementerian Pendidikan. Namun hasilnya tetap sama.

"Saya akhirnya lebih fokus meminta ridha orang tua dan memperbanyak doa," kenangnya.

Baca Juga: Sosok Stevanny Berliana Wijaya, Jebolan Ajang Beauty Pageant di Kediri: Pengalamannya Jadi Bekal Bantu Anak-Anak Lain Capai Mimpi

Kesempatan itu akhirnya datang. Yaitu saat musim haji, saat dia bekerja sebagai petugas musiman Saudi Airlines. Kakaknya mengabarkan ada surat dari Arab Saudi. Surat yang dikirim faksimile ke kantornya itu mengabarkan dia diterima di Universitas Ummul Qura.

“Saat itu masih jadi petugas haji,” kenangnya lagi.

Selesai persoalan? Belum. Kontrak kerjanya masih berjalan. Bila putus kontrak dia terancam denda puluhan juta rupiah.

Akhirnya, dia pun memberanikan mendatangi kampus. Meminta agar status penerimaan tidak dibatalkan meskipun baru masuk semester berikutnya.

Pihak kampus akhirnya mengabulkan. Mubarok pun tak menyia-nyiakan hal itu. Menuntaskan S-1 hingga S-3 Ushul Fikih. Indeks prestasi saat lulus S-1 mencapai 3,97. Menjadi salah satu lulusan terbaik.

Kini ia tercatat sebagai lulusan doktor Ushul Fikih lulusan Universitas Ummul Qura yang menempuh pendidikan secara linear, mulai S-1 hingga S-3. Sekaligus menjadi satu-satunya dari Indonesia untuk jalur tersebut.

Bagi Mubarok, semua perjalanan panjang itu mengajarkan satu hal sederhana. Jalan menuju ilmu tidak selalu ditentukan oleh kecerdasan atau kemudahan hidup.

 Kadang, jalan itu justru dibuka melalui kayuhan sepeda tua. Tangan yang menggenggam sabit pencari rumput. Doa seorang ibu. Serta keyakinan untuk terus melangkah meski berkali-kali ditolak.

"Salah satu pelajaran hidup yang Saya dapatkan adalah, jangan sampai jemawa. Karena semua yang kita dapatkan adalah berkat Tuhan yang Maha Esa," pesannya. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#ummul qura #makkah #Sosok