KEDIRI, JP Radar Kediri - Melukis jadi kegemaran perempuan ini sejak kecil. Membuatnya kaya akan pengalaman. Sekaligus menciptakan ciri khas pada setiap karyanya.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Namanya Woro Puspita Ningrum. Profesinya adalah advokat. Namun, bukan menjadi satu-satunya yang ditekuni. Sebab, wanita berusia 49 tahun ini juga memiliki keahlian melukis. Dengan jumlah karya yang sudah mencapai ratusan lukisan.
“Sejak kecil itu saya sudah mulai senang corat-coret dan mewarnai. Kemudian SMA (sekolah menengah atas, Red) bergabung dengan komunitas-komunitas untuk mengembangkan skill yang saya punya,” cerita Woro.
Hobi itu tumbuh subur juga karena lingkungan. Orang tuanya, terutama ibu, senang melukis. Otomatis mereka mendukung penuh kegemaran sang anak.
Sejak di bangku taman kanak-kanak (TK) Woro kecil banyak diikutkan kegiatan seni. Menari, teater, hingga melukis. Aktivitas yang disebut terakhiritulah yang dia rasakan paling cocok.
“Seperti pada umumnya dunia anak-anak. Mengilustrasikan pemandangan, gunung, matahari, dan rumah,” paparnya terkait lukisan yang pertama kali dibuat.
Bakat melukisnya itu terus diasah. Banyak ikut lomba. Sering meraih juara. Hingga menemukan ciri khas.
Tak hanya dari media yang digunakan-kanvas dan kertas-tapi juga tekniknya. Sang pengacara ini menegaskan teknik melukis opak, yang dikenal dengan teknik plakat. Cara melukis dengan mengoleskan cat secara tebal dan pekat.
Baca Juga: Kisah Wahyudi Purniawan, Pelukis Otodidak yang Karyanya Melanglang Buana hingga Luar Negeri
Woro mengakui pendidikan formal dan hobinya memang tak linier. Untuk itu, dia harus sering-sering berinteraksi dengan sesama pelukis.
“Agar tetap up to date dengan perkembangan dunia lukis,” aku perempuan yang berdomisili di Kelurahan Mojoroto ini.
Baginya, melukis adalah hobi sekaligus obat lelah. Bila capek dan lelah dengan pekerjaan sebagai pengacara, penghilang stresnya adalah melukis. Tak heran, mood melukisnya sering hilang ketika ada klien datang untuk berkonsultasi. Maklum, sebagai advokat dai memang harus standby 24 jam.
Kepiawaiannya melukis sempat disalahgunakan seorang rekannya. Pernah dia dimintai tolong agar dibuatkan lukisan. Tapi, tak boleh ada tanda tangan pembuat.
“Saya kan ya manut aja, namanya waktu itu kan saya juga nggak tahu ya. Nah saya dengar, dia telepon-teleponan habis kirim karya itu, karya buatan saya tapi bilangnya buatan sendiri. Sakit,” paparnya dengan nada getir.
Baca Juga: Rifqi Nadhim, Pelukis Remaja dari Kediri yang Karyanya Bakal Mejeng di Kantor Kementerian Agama
Tentu saja, banyak pengalamannya yang menyenangkan. Seperti ketika karya yang dia pasang di medsos diminati. Merasa tertarik karena paduan warna.
“Jadi kalau untuk warna memang beberapa mengakui kalau warna saya kuat dan berani. Berani nabrak-nabrak warna gitu, tanpa khawatir apakah ini nanti warnanya matching atau nggak,” tuturnya.
Woro kemudian menunjukkan karya lukis dengan warna saling tabrak itu. Tak jarang dia selalu menuangkan warna-warna yang rumit di karya miliknya.
Keahlian mengkombinasikan warna juga diperolehnya sejak kecil. Saat mengikuti sanggar. Namun yang berperan paling besar adalah sang ibu. Karena mengajarkan untuk jangan pernah takut coba-coba warna.
Baca Juga: Kreatifnya Gelar Prakosa, Pelukis yang Gunakan Ekstrak Tanaman
Selain menonjolkan warna ngejreng, lukisan Woro berkarakter dekoratif. Juga menggambarkan perempuan. Meskipun dia mengaku bukan penganut aliran feminisme.
“Perempuan ini makhluk yang kuat dari segala bidang. Dan banyak karya saya berkaitan dengan itu,” ungkapnya.
Tak jarang, apa yang sedang dirasakan juga dituangkan dalam lukisan. Dia beranggapan melukis seperti menulis diary. Apa yang dirasakan bisa digoreskan di kertas atau kanvas.
“Ada satu tema lagi yang biasanya sering saya angkat. Itu tema kucing. Karena bagi saya kucing simbol kedamaian, ketenangan, dan kesetiaan,” paparnya.
Baca Juga: Mengenal Khoirul Anam, Dulu Pesilat Kini Pelukis Handal yang Karyanya Tembus Luar Kota
Apakah karyanya sudah ada yang terjual? Woro menyebut sudah. Berada pada kisaran harga Rp 3 juta sampai dengan Rp 8 juta. Bergantung pada ukuran dan tingkat kesulitannya.
Karyanya pun juga sudah sering mengikuti pameran di kota-kota besar. Seperti Surabaya, Malang, Solo, dan Jogja.
“Ya, jadi saya berpesan untuk adik-adik dalam berkarya itu tetaplah konsisten. Berusaha untuk mengembangkan teknik yang dimiliki, karena kita tahu bahwa saat ini sudah mendapat serangan AI. Makanya skill-nya harus ditingkatkan,” pungkasnya sembari menyebut bahwa semua karya bagus dan tidak ada yang salah.
Editor : Hilda Nurmala Risani