Memenangi sayembara desain batik jadi bagian kecil jalan hidup pemuda ini. Di balik itu, ada ‘lomba’ lebih besar yang dia menangkan. Menjadi bukti terjaganya harapan meskipun di masa tergelap sekalipun.
Tak ada firasat, tak ada ketegangan. Bagi Beryl Aiko Nararya, keikutsertaannya dalam acara doa bersama menyambut tahun baru Islam di Balai Kota Kediri sebatas ikut berdoa.
Mencoba berdoa khusyuk di antara puluhan ribu jemaah yang hadir.
Bila kemudian nama pelajar MAN 1 Kota Kediri itu muncul sebagai juara sayembara desain batik yang digelar Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Kediri, itu adalah kejutan.
Menjadi juara di sayembara pertama yang dia ikuti.
“Sampai pengumuman pun rasanya masih tidak percaya,” kenang pemuda kelahiran 2009 ini. Senyumnya mengembang ketika menceritakan kenangannya itu.
Di ruang tamu rumahnya, di Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, Beryl membeberkan detil karyanya yang menang itu.
Desain batik dengan warna dominan kuning. Dibuat hanya dalam waktu 10 hari.
Ide besarnya adalah menggabungkan unsur sandang, pangan, dan papan. Memadukannya dengan bukti kekayaan Kota Kediri. Maka, lahirlah desain berlabel ‘Wijaya Bhumi Kadiri’.
Ada ornamen kuda lumping dan stilasi pecut berbentuk motif parang. Ada juga simbolisasi Sungai Brantas. Di tengahnya ada Gua Selomangleng, simbol tempat berlindung.
Dan, ini menariknya, unsur sambel tumpang sebagai kuliner khas Kota Kediri tak ketinggalan. Penggambarannya pun sangat unik.
“Yang saya masukkan itu bahan sambel tumpang. Yaitu bawang putih, bawang merah, cabai, biji kedelai, dan pelengkapnya peyek kacang tanah,” urai Beryl.
Semua simbolis itu dia susun sedemikian rupa. Membentuk batik kontemporer yang sarat identitas Kota Kediri.
Beryl tak sekadar menyusun motif dari simbol-simbol itu. Juga membangun cerita tentang kejayaan Kota Kediri.
Warnanya pun terbilang berani dan cerah. Memadukan kuning, biru, ungu, hijau, hingga merah. Agaknya, cocok dengan karakternya sebagai anak muda.
Baca Juga: Embran Nawawi, Seniman Wastra Berdarah Betawi tapi Berhati Kediri
Sayembara ini adalah pengalaman pertamanya. Namun begitu, pelajar kelas 10 ini punya hobi menggambar sejak belia.
Beryl kecil juga beberapa kali mengikuti perlombaan, meski belum pernah berbuah kemenangan.
“Dari kecil hobi gambar, dari usia dua tahun. Kalau dulu yang sering digambar itu hewan sama animasi Disney,” katanya.
Kemampuan Beryl berawal dari kebiasaannya melihat tantenya yang juga gemar menggambar. Rasa penasaran membuatnya ikut mencoret-coret kertas.
Lama-kelamaan kebiasaan itu berubah menjadi hobi yang terus diasah secara otodidak.
"Sekarang masih terus belajar. Sama lagi pengen belajar gambar digital juga," sambung anak kedua dari tiga bersaudara itu.
Di sekolah pun, waktu pelajaran seni budaya jadi yang paling dia sukai. Dia berharap, hobinya itu bisa terus berkembang. Semakin mengantarkannya pada mimpinya melanjutkan pendidikan tinggi di bidang seni desain.
“Sebenarnya ingin diseriusi (hobi menggambar, Red). Kemungkinan ingin ke desain grafis,” ungkapnya.
Baca Juga: Jalan Panjang Sulistiono, Seniman Otodidak Plosoklaten, hingga Karyanya Tembus Pasar Luar Negeri
Di balik capaian itu, tersimpan kisah yang mengharukan. Beryl pernah mengikuti ‘kompetisi’ yang jauh lebih besar.
Baru beberapa hari dilahirkan, Beryl divonis mengalami kelainan jantung bawaan yang sangat serius.
Kondisi itu mengharuskannya dirujuk ke fasilitas kesehatan di Jakarta. Menjalani operasi dan pengobatan hingga tiga bulan lamanya.
Infeksi yang sangat parah membuat peluang hidupnya sangat kecil.
"Dokter waktu itu bilang kondisinya sangat berat. Tapi Alhamdulillah sekarang sehat, tidak perlu minum obat lagi," kenangnya, menceritakan kisah yang tentunya dia dapat dari penuturan orang tuanya.
Kemenangan ini seolah menjadi pengingat bahwa 17 tahun lalu, Beryl telah memenangkan ‘perlombaan’ pertamanya.
Apa yang awalnya dianggap mustahil, berhasil terbantahkan oleh seorang bayi kecil.
Beryl seolah jadi simbol bahwa harapan selalu ada, meski di masa tergelap sekalipun.
Baca Juga: Prigel Pangayu, Sinden Gen-Z Kediri yang Lahir dari Keluarga Seniman
Dan kini bagi keluarganya, kemenangan dalam sayembara batik itu bukan sekadar tentang trofi atau ucapan selamat.
Melainkan jadi pengingat bahwa anak yang dulu berjuang mempertahankan hidup kini mampu mengukir prestasi melalui bakat yang dimilikinya.
“Mama bilang sempat nggak percaya kalau menang. Tapi kalau saya, setelah ini harapannya bisa lebih banyak ikut lomba-lomba lainnya,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita