Pilihannya bekerja di perusahaan tambang usai lulus dari Fakultas Kehutanan UGM sempat jadi pertanyaan. Dianggap bertolak belakang dengan jalannya selama ini sebagai pecinta alam.
Namun, Mohamad Imam Sobirin hal ini justru cara dia mengawal pemulihan lahan bekas tambang.
ASAD M.S., Kota, JP Radar Kediri
Jalan terjal menghadang jalan hidup Mohamad Imam Sobirin menjelang lulus dari SMA Negeri 1 Kota Kediri pada 2020. Ayahnya, Slamet Riyadi, meninggal dunia.
Tentu saja hal itu berdampak langsung pada dirinya. Sang ibu, Murlinawati, tak punya pekerjaan tetap.
Sebagai sulung dari tiga bersaudara, Imam pun harus berjuang lebih keras demi mewujudkan impiannya. Berkuliah di kampus yang dia angankan, Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Saya tak punya uang untuk kuliah saat itu,” kenang pemuda kelahiran Kediri, 13 Mei 2001 ini.
Saat itu Imam sudah diterima. Tapi, kematian sang ayah mengubah segalanya. Dia harus memutar otak mencari biaya sendiri.
Akhirnya, ketemulah cara. Bersama seorang teman dia berjualan risoles, camilan yang diberi beragam isian. Memasarkan melalui media sosial. Bila ada yang pesan, mereka yang men-delivery. Menggunakan sepeda motor.
“Dari situ saya belajar kalau hal kecil yang dilakukan sungguh-sungguh bisa membawa dampak besar,” ujar pemuda yang menjalani jualan risoles selama enam bulan itu.
Sejak itu keberuntungan seperti berpihak kepada dirinya. Dia mendapat beasiswa Bidikmisi. Penyelamat sekaligus penghubung dengan masa depan yang dia idam-idamkan.
“Kalau punya mimpi tinggi, jangan berhenti karena keterbatasan. Cari jalannya,” pesannya.
Baca Juga: Sosok Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI yang Lantang Kritik Program MBG
Imam adalah sosok yang senang dengan aktivitas luar ruangan. Sejak di SMP Negeri 4 dia telah aktif di kegiatan pramuka dan aktivitas alam terbuka lain. Pernah mengikuti jambore.
Imam juga punya hobi mendaki. Gunung Semeru, Merbabu, hingga Lawu pernah dijajahnya. Dari sinilah rasa cinta lingkungannya terusik.
Setiap kali mendaki dia melihat sampah sangat menggangu. Botol plastik, bungkus makanan, hingga sampah berbahan nilon kerap dijumpai di jalur pendakian.
Baginya, sampah bukan sekadar soal estetika. Melainkan ada ancaman yang lebih besar lagi, kelestarian lingkungan.
“Sampah itu bertahan puluhan tahun dan membahayakan satwa,” jelasnya.
Setiap mendaki Imam selalu bawa trash bag. Yang dimasukkan tak hanya sampahnya sendiri. Juga yang dia temukan di sepanjang jalur yang dia lalui.
Setelah masuk kampus, dia lebih serius menekuni isu lingkungan. Kebetulan yang dia pilih adalah Fakultas Kehutanan. Memberinya kesempatan terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan.
Membawanya melakukan penelitian pada berbagai solusi pengelolaan sampah.
“Menjaga lingkungan tidak selalu dengan proyek besar. Kadang dimulai dari langkah sederhana yang mampu mengubah cara pandang masyarakat,” jelasnya.
Konsistensi di bidang lingkungan membawanya masuk ke dunia profesional. Saat ini Imam bekerja sebagai Group Leader Reklamasi di PT Antang Gunung Meratus (Baramulti Group).
Perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di Kalimantan Selatan.
Pilihan karir itu sempat mengundang pertanyaan. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu peduli terhadap lingkungan justru bekerja di perusahaan tambang?
Imam memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, aktivitas pertambangan memang memiliki dampak terhadap lingkungan.
Namun selama kebutuhan manusia terhadap hasil tambang masih ada, yang terpenting adalah bagaimana meminimalkan dampak tersebut.
Sekaligus memastikan proses pemulihan berjalan dengan baik. Karena itulah dia memilih masuk ke bidang reklamasi.
“Kalau dibiarkan, dampaknya akan jauh lebih besar. Makanya saya ingin ikut memulihkan,” katanya.
Dalam pekerjaannya, Imam bertugas mengelola proses reklamasi lahan bekas tambang. Mulai dari penanaman pohon, monitoring vegetasi, hingga memastikan lahan bisa kembali berfungsi secara ekologis.
“Tujuannya adalah mengembalikan kondisi lahan sedekat mungkin dengan keadaan sebelum ditambang,” jelasnya
Di sela kesibukannya bekerja, Imam tetap aktif menyuarakan isu lingkungan melalui berbagai forum. Pada 2025 dia menjadi pembicara dalam forum SDGs 13 Climate Action. Dia juga kerap menjadi narasumber webinar dan edukasi lingkungan bagi berbagai komunitas, termasuk peserta dari luar negeri
Meski demikian, Imam mengaku pencapaian terbesar bukanlah penghargaan yang terpajang di dinding atau sertifikat yang tersimpan rapi.
Baginya, pencapaian terbesar adalah mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Dia pernah kehilangan ayah di usia muda. Pernah berjualan risol demi mempertahankan cita-cita. Pernah merasa minder karena kondisi ekonomi keluarga. Namun semua itu justru menjadi bahan bakar yang membuatnya terus bergerak maju.
Editor : Mahfud