Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Kerja Keras Ruruh Handayani, Seorang Pelatih Atletik Disabilitas Mengukir Prestasi Anak Didiknya

Emilia Susanti • Jumat, 26 Juni 2026 | 09:34 WIB
BERDAYA: Ruruh Andayani Bekti (tengah) bersama dua atlet hasil ‘buruannya’ yang kini bergabung ke dalam klub atletik khusus disabilitas yang didirikannya.
BERDAYA: Ruruh Andayani Bekti (tengah) bersama dua atlet hasil ‘buruannya’ yang kini bergabung ke dalam klub atletik khusus disabilitas yang didirikannya.

 

Harus Door to Door demi Mendapatkan Atlet

 

Wadah bagi atlet atletik disabilitas nyaris tidak ada. Membuat Ruruh Andayani Bekti tergerak hati membuka klub khusus bagi mereka. Meskipun harus menemui banyak rintangan. 

 

Membuka klub atletik di Kediri cukup menjanjikan. Peminatnya banyak. Pun ajang kompetisinya, beragam. Mulai dari open turnamen hingga kejuaraan resmi. Hanya saja, sudah banyak yang ‘nyebur’. Ini membuat persaingan antar klub semakin ketat.

Setidaknya, hal-hal itulah yang menjadi salah satu pertimbangan penting bagi Ruruh Andayani Bekti sebelum mendirikan Wika Athletic Club. Sepintas, namanya hanya seperti klub atletik pada umumnya. Namun saat membuka akun Instagram klub tersebut, aktivitas yang dibagikan sangatlah berbeda.

Ya, atlet binaan Wika Athletic Club ini berbeda. Semua atletnya merupakan anak berkebutuhan khusus atau disabilitas. Ada yang tunadaksa, celebral palsy, tuna grahita, dan lain-lain.

Baca Juga: Kisah Peraih Emas Kejuaraan Atletik Disabilitas Jatim Asal Kediri

“Saya membuka klub itu sebetulnya sekalian dengan yang non-disabilitas. Tetapi saat saya grand opening banyak yang disabilitas,” kata wanita yang akrab disapa Ruruh itu.

Tujuannya membuka klub untuk disabilitas itu sederhana. Yaitu ingin memberi wadah yang sama seperti anak-anak normal lainnya. Dia merasa anak disabilitas juga pantas mendapatkan kesempatan untuk berprestasi. Melalui prestasi itu, anak-anak disabilitas juga akan mendapatkan kemudahan untuk melanjutkan pendidikan.

“Mewadahi anak-anak untuk disabilitas itu perlu. Harusnya tidak ada pembeda dengan anak-anak non-disabilitas,” kata wanita berusia 44 tahun itu.

Keberaniannya membuka klub atletik untuk disabilitas itu bermula saat dirinya mengikuti seminar online. Ruruh menyebut, kelas online itu diambilnya semasa pandemi Covid-19. Pada 2020 lalu. Yang mana, saat itu dirinya memang tengah mencari kesibukan lantaran semua aktivitas di kampusnya beralih ke online.

“Saya sempat ikut virtual class dari Menpora, itu terkait pembinaan untuk disabilitas,” ingat wanita yang merupakan dosen di Fakultas Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.

Berawal dari situ, dia mulai tergerak hatinya untuk membuka klub atletik khusus disabilitas. Uniknya, Ruruh sejatinya belum pernah bergelut dengan anak disabilitas. Namun itu sama sekali tak membuatnya mundur. Dia bahkan merasa lebih tertantang.

Baca Juga: Penyerapan Tenaga Kerja Disabilitas Masih Rendah, Mensos Gus Ipul Dorong Pemenuhan Kuota Disabilitas

“Saya mulai dari nol. Saya juga belum terlalu paham dengan kondisi disabilitas itu ada apa saja. Ternyata ada tuna daksa upper dan lower. Awalnya saya nggak ngerti, tetapi saya terus cari tahu,” katanya.

Ruruh memanfaatkan seluruh kenalan yang dimilikinya untuk menanyakan terkait pembinaan anak disabilitas. Mulai dari mahasiswa, dosen, teman, dan lainnya. Dalam prosesnya, juga berkomunikasi dengan National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Kabupaten Kediri.

Tentu saja prosesnya tak semudah yang dibayangkan. Jalannya penuh liku. Terutama pencarian atlet.

“Mahasiswa saya ada yang ngajar di SLB (sekolah luar biasa), itu saya hubungi, saya tanya apakah ada yang mau untuk gabung klub. Saya juga door to door. setiap ada informasi dari mana pun, saya pasti datangi ke rumahnya. Terus saya ajak,” jelasnya.

Ruruh pun meneruskan cerita. Setelah ketemu, dia masih harus ‘merayu’ agar calon atlet tersebut bersedia. Orang tua pun didekati.

“Biasanya anak disabilitas itu malu keluar rumah, kendalanya di situ. Nah di situ saya harus mengedukasi ke mereka, jadikan kekuranganmu itu jadi kelebihanmu. Saya memberikan edukasi ke orang tua dan atlet itu seperti itu,” ujarnya.

Masih ada lagi, lokasi rumah atlet dan tempat latihan jauh. Latihan berpusat di lapangan Desa Doko, di Kecamatan Ngasem. Sedangkan atletnya berasal dari wilayah yang jauh.

“Jadi saya juga minta bantuan, misalnya guru-guru SLB yang mengantar atau orang tuanya. Terkadang juga saya jemput,” ungkapnya.

Maka itu, atlet keluar masuk jadi hal biasa. Namun, Ruruh tetap ngotot melanjutkan klubnya. Lambat laun, upayanya mulai berbuah manis. Beberapa atletnya berhasil mempersembahkan medali dalam kejuaraan di tingkat provinsi. Bahkan ada yang melaju ke tingkat nasional. Salah satu contohnya adalah Ilham Zam Zami yang kini sukses masuk ke Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia.

“Itu menjadi kebanggaan bagi saya. Ke depan, saya ingin atlet-atlet dari Kabupaten Kediri bisa mendunia,” harapnya.

Cerita Ruruh dalam membina atlet disabilitas ini belum selesai. Sejak berdiri 2022 lalu, pembinaan atlet disabilitas itu dilakukan sukarela. Pelatihnya diambil dari mahasiswanya. Bila ada kejuaraan, dananya meminta dinas pendidikan.

“Tempat latihan seharusnya juga ada iuran. Alhamdulillah setelah saya jelaskan bahwa ini untuk disabilitas, kami mendapat respon positif dari desa,” tandasnya.(fud)

Editor : Mahfud
#ruruh andayani bekti #klub atletik disabilitas #sosok inspiratif dari kediri #kisah inspiratif #atlet disabilitas